Selasa, 27 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Bank Mandiri Ungkap Kredit Jhonlin Baratama Rp40 Triliun

Oleh Jaya Purnama · 27/10/2026 · 12:35 am
Dukung
Daftar Isi 10 bagian

JayaPurnama.com – Jakarta, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengungkapkan fasilitas kredit kepada PT Jhonlin Baratama mencapai Rp40 triliun. Dari jumlah tersebut, perusahaan telah menggunakan dana sebesar Rp17 triliun. Bank Mandiri juga menyatakan rasio cakupan agunan atau collateral coverage ratio (CCR) tetap berada di level 150%.

Penjelasan tersebut muncul dalam surat tanggapan Bank Mandiri kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal Senin, 26 Oktober 2026. Perseroan menjelaskan bahwa fasilitas kredit itu mendukung kebutuhan belanja modal serta pembiayaan perusahaan dan Grup Jhonlin di industri batu bara beserta sektor penunjangnya.

Bank Mandiri menegaskan bahwa pemberian kredit mempertimbangkan prospek usaha, kinerja keuangan, kemampuan membayar, dan kapasitas pembiayaan mandiri debitur. Selain itu, bank mengandalkan arus kas dari bisnis batu bara Grup Jhonlin yang telah berjalan untuk menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran.

Fasilitas Kredit Jhonlin Baratama Capai Rp40 Triliun

Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menjelaskan bahwa fasilitas kredit tersebut mendukung kebutuhan pembiayaan di lingkungan usaha Grup Jhonlin. Perusahaan memanfaatkan fasilitas itu untuk belanja modal atau capital expenditure (capex), serta kebutuhan pendanaan lain yang berkaitan dengan bisnis batu bara dan sektor pendukungnya.

Dengan total fasilitas Rp40 triliun dan pemakaian Rp17 triliun, dana yang telah digunakan mencapai sebagian dari keseluruhan plafon kredit. Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh fasilitas telah dicairkan atau digunakan oleh debitur. Informasi yang disampaikan Bank Mandiri hanya menyebutkan nilai fasilitas dan jumlah dana yang sudah terpakai.

Dalam mengevaluasi kemampuan pembayaran kembali, Bank Mandiri memperhitungkan arus kas dari bisnis batu bara Grup Jhonlin yang sudah beroperasi. Perseroan tidak menjadikan sumber pendapatan yang belum berjalan sebagai dasar utama penilaian kemampuan membayar kredit tersebut.

Adhika menjelaskan bahwa operasional perusahaan dan sejumlah anak usaha yang mampu membagikan dividen menjadi sumber utama pembayaran kredit. Dengan demikian, kemampuan usaha menghasilkan arus kas menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengelolaan fasilitas pembiayaan ini.

Bank Mandiri Mengandalkan Arus Kas dan Sinking Fund

Selain menilai kinerja usaha, Bank Mandiri menerapkan mekanisme pengamanan pembayaran bunga dan pokok kredit. Salah satunya melalui sinking fund sesuai ketentuan dalam dokumen pembiayaan. Mekanisme tersebut menjadi bagian dari pengaturan dana untuk membantu menjaga kelancaran pemenuhan kewajiban debitur.

Bank juga meminta debitur menyampaikan laporan aktivitas usaha secara berkala. Melalui laporan tersebut, perseroan memantau penggunaan dana sekaligus perkembangan kegiatan bisnis yang berkaitan dengan fasilitas kredit.

Selanjutnya, Bank Mandiri menguji sensitivitas kemampuan bayar debitur terhadap sejumlah perubahan kondisi usaha. Faktor yang menjadi perhatian mencakup perubahan harga jual batu bara dan volume produksi. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi pendapatan serta arus kas perusahaan tambang.

Pengujian sensitivitas membantu bank mengevaluasi kemampuan debitur menghadapi perubahan kondisi pasar. Misalnya, penurunan harga batu bara atau berkurangnya volume produksi dapat menekan penerimaan usaha. Karena itu, bank mempertimbangkan kemungkinan perubahan tersebut saat menilai risiko pembayaran kredit.

Meski demikian, informasi yang disampaikan Bank Mandiri tidak merinci hasil numerik dari setiap skenario pengujian. Perseroan menjelaskan bahwa pengujian tersebut menjadi bagian dari penilaian risiko terhadap kemampuan Grup Jhonlin memenuhi kewajiban kreditnya.

Agunan Kredit Mencakup Saham JARR dan PGUN

Dari sisi jaminan, fasilitas kredit Jhonlin Baratama didukung aset tetap dan aset nonaset tetap, termasuk saham serta rekening perusahaan. Bank Mandiri menyatakan bahwa nilai keseluruhan agunan melebihi nilai fasilitas kredit yang diberikan.

Agunan saham tersebut mencakup saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN). Bank menyebut kedua perusahaan itu sebagai perusahaan afiliasi PT Jhonlin Baratama. Dengan demikian, saham kedua emiten tersebut menjadi bagian dari aset yang mendukung fasilitas pembiayaan.

Bank Mandiri juga menyatakan telah memperhitungkan pergerakan harga saham dalam menilai kecukupan agunan. Bahkan, setelah memperhitungkan harga terendah intraday saham JARR dan PGUN selama satu bulan terakhir, perseroan mengklaim rasio cakupan agunan tetap mencapai 150%.

Rasio cakupan agunan menunjukkan perbandingan nilai agunan yang diperhitungkan terhadap kewajiban atau fasilitas kredit sesuai metode penilaian bank. Dalam penjelasan ini, Bank Mandiri menyebut rasio 150% sebagai indikator bahwa nilai agunan yang diperhitungkan masih melampaui fasilitas kredit. Namun, rasio tersebut tidak menghilangkan seluruh risiko apabila nilai aset jaminan mengalami penurunan.

Khusus untuk saham PGUN, Bank Mandiri melakukan pengujian sensitivitas terhadap volatilitas harga saham. Langkah itu bertujuan memperhitungkan risiko konsentrasi kepemilikan yang dapat memengaruhi nilai agunan. Pergerakan harga saham menjadi aspek penting karena perubahan nilai pasar bisa memengaruhi kecukupan jaminan.

Penilaian Agunan Mengacu pada Ketentuan OJK

Bank Mandiri menyatakan penilaian saham sebagai agunan tambahan mengacu pada Pasal 4 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 40/POJK.03/2017 serta kebijakan internal bank. Ketentuan tersebut menjadi salah satu acuan perseroan dalam menilai penggunaan saham untuk mendukung fasilitas pembiayaan.

Selain mengikuti ketentuan yang berlaku, bank mempertimbangkan kualitas aset jaminan dan risiko perubahan nilainya. Pendekatan ini relevan bagi agunan berbentuk saham karena harga pasar dapat berubah mengikuti kondisi perusahaan, industri, dan sentimen investor.

Di sisi lain, keberadaan agunan bukan satu-satunya dasar untuk menilai kelayakan kredit. Bank Mandiri juga menekankan prospek usaha, kinerja keuangan, arus kas operasional, dan kemampuan debitur membayar kewajibannya. Kombinasi berbagai pertimbangan tersebut menjadi bagian dari penilaian pembiayaan.

Dengan fasilitas kredit Rp40 triliun dan pemakaian Rp17 triliun, pembiayaan kepada Jhonlin Baratama menjadi perhatian karena melibatkan nilai kredit yang besar serta agunan yang mencakup saham perusahaan afiliasi. Bank Mandiri menyatakan telah menjalankan penilaian sesuai ketentuan dan mempertahankan CCR pada level 150% berdasarkan perhitungannya.

Meski begitu, perkembangan kemampuan bayar debitur, perubahan harga batu bara, volume produksi, dan fluktuasi saham JARR serta PGUN tetap menjadi faktor yang relevan dalam pemantauan risiko. Informasi tersebut membantu menjelaskan bagaimana bank menilai fasilitas kredit, tanpa berarti menjamin bahwa seluruh risiko pembiayaan telah hilang.

FAQ Kredit Jhonlin Baratama di Bank Mandiri

Berapa total fasilitas kredit Jhonlin Baratama?

Bank Mandiri mengungkapkan total fasilitas kredit kepada PT Jhonlin Baratama mencapai Rp40 triliun.

Berapa dana kredit yang sudah digunakan?

Jhonlin Baratama telah menggunakan dana sebesar Rp17 triliun dari total fasilitas kredit tersebut.

Apa sumber utama pembayaran kredit?

Menurut Bank Mandiri, pembayaran terutama bersumber dari operasional perusahaan dan sejumlah anak usaha yang dapat membagikan dividen, dengan mengandalkan bisnis batu bara Grup Jhonlin yang telah berjalan.

Apa saja saham yang menjadi bagian dari agunan?

Agunan saham mencakup saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), selain aset tetap, aset nonaset tetap, dan rekening perusahaan.

Berapa rasio cakupan agunan yang diungkapkan Bank Mandiri?

Bank Mandiri menyatakan rasio cakupan agunan atau CCR tetap sebesar 150%, termasuk setelah memperhitungkan harga terendah intraday saham JARR dan PGUN selama satu bulan terakhir.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.