Minggu, 25 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

BI Kurangi SRBI Bertahap, Likuiditas Pasar Uang Diperlonggar

Oleh Jaya Purnama · 25/10/2026 · 5:18 pm
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Jakarta, Bank Indonesia (BI) akan terus mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara bertahap untuk memperlonggar likuiditas di pasar uang. Kebijakan ini bertujuan agar dana yang sebelumnya terserap dalam instrumen moneter berjangka panjang lebih tersedia untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek dan menengah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa bank sentral telah menyesuaikan imbal hasil dan volume penyerapan likuiditas melalui SRBI. Selain itu, BI akan terus mengevaluasi penerbitan instrumen tersebut sesuai perkembangan kondisi pasar.

Erwin mencatat posisi SRBI pernah mencapai puncak sekitar Rp1.070 triliun. Sementara itu, posisi terakhir telah turun ke kisaran Rp900 triliun. Dengan demikian, penurunan tersebut mencerminkan pelepasan likuiditas sekitar Rp150 triliun dibandingkan posisi tertingginya.

Dalam taklimat media BI pada Jumat (23/10), Erwin menegaskan bahwa bank sentral akan melanjutkan penyesuaian tersebut secara terukur. BI tidak akan mengurangi penerbitan SRBI secara mendadak karena kondisi likuiditas pasar tetap menjadi pertimbangan utama.

BI Kurangi SRBI untuk Menambah Likuiditas Pasar

SRBI merupakan instrumen operasi moneter yang membantu BI mengelola likuiditas rupiah. Melalui instrumen ini, bank sentral dapat menyerap dana dari pasar sesuai kebutuhan pengendalian moneter. Namun, penyerapan yang terlalu besar dalam jangka panjang dapat memengaruhi ketersediaan dana untuk kebutuhan jangka pendek.

Karena itu, BI ingin menyeimbangkan likuiditas yang terserap dalam instrumen berjangka panjang dengan dana yang tersedia di pasar uang. Erwin menjelaskan bahwa bank sentral akan terus mengkalibrasi penerbitan SRBI berdasarkan dinamika pasar.

“SRBI itu secara perlahan kita akan kurangi terus secara terukur dengan melihat dinamika yang ada,” ujar Erwin dalam taklimat media tersebut.

SRBI memiliki tiga pilihan tenor, yaitu enam, sembilan, dan 12 bulan. Sebelumnya, instrumen dengan tenor tersebut menyerap sebagian likuiditas pasar. Oleh sebab itu, pengurangan volume penerbitan secara bertahap diharapkan dapat memperluas ketersediaan dana untuk transaksi jangka pendek dan menengah.

Meski begitu, BI tetap mempertimbangkan kondisi pasar ketika menentukan volume penerbitan melalui lelang. Pendekatan ini membantu bank sentral menyesuaikan penyerapan likuiditas tanpa memicu gejolak yang tidak diinginkan.

Kecukupan Likuiditas Mendukung Transmisi BI Rate

Ketersediaan likuiditas harian menjadi salah satu perhatian utama BI. Bank membutuhkan dana yang cukup untuk memenuhi transaksi, mengelola kewajiban, dan mendukung penyaluran kredit. Jika likuiditas pasar uang memadai, pergerakan suku bunga pasar diharapkan tetap berada dalam koridor yang diinginkan bank sentral.

Selain itu, kondisi tersebut penting untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter. Perubahan BI Rate diharapkan dapat memengaruhi suku bunga pasar uang dan kemudian diteruskan ke sektor perbankan.

Transmisi yang berjalan baik dapat membantu kebijakan moneter menjangkau aktivitas keuangan secara lebih efektif. Sebaliknya, keterbatasan likuiditas dapat memengaruhi biaya pendanaan bank dan menghambat penyesuaian suku bunga di pasar.

Erwin menekankan pentingnya menjaga keseimbangan likuiditas dalam berbagai tenor. Dengan penyesuaian SRBI yang terukur, BI ingin memastikan dana tidak hanya terserap dalam instrumen jangka panjang, tetapi juga tersedia untuk kebutuhan harian.

Namun, pengurangan penerbitan SRBI tidak berarti BI mengabaikan fungsi instrumen tersebut. Bank sentral tetap mempertahankan SRBI sebagai bagian dari perangkat operasi moneter dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas domestik dan perkembangan pasar keuangan.

BI Tetap Menjaga Daya Tarik SRBI bagi Investor Asing

Selain berfungsi sebagai instrumen pengelolaan moneter, SRBI juga menarik bagi investor asing yang ingin menempatkan dana pada aset berdenominasi rupiah. Karena itu, BI perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan likuiditas dalam negeri dan daya tarik instrumen tersebut bagi pemodal asing.

Erwin menjelaskan bahwa imbal hasil SRBI tidak ditentukan secara sembarangan. BI mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk BI Rate, ekspektasi inflasi, dan premi risiko atau risk premium.

“SRBI ini kan bisa dibeli asing,” kata Erwin.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penyesuaian penerbitan SRBI juga perlu memperhatikan kondisi investasi. BI perlu mengelola volume instrumen secara hati-hati agar kebutuhan likuiditas domestik tetap terpenuhi tanpa mengabaikan pertimbangan daya tarik aset rupiah.

Di sisi lain, keputusan investor asing untuk membeli SRBI dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor pasar. Selain imbal hasil, ekspektasi terhadap inflasi, nilai tukar, dan risiko investasi turut memengaruhi pertimbangan mereka.

Perbankan Tetap Bisa Mengakses Likuiditas BI

BI juga menyediakan sejumlah fasilitas operasi moneter untuk membantu perbankan memenuhi kebutuhan likuiditas. Salah satunya ialah fasilitas repo, yang memungkinkan bank memperoleh dana dengan menjaminkan surat berharga yang dimilikinya.

Menurut Erwin, fasilitas repo tersedia untuk tenor mulai satu minggu hingga 12 bulan. Perbankan dapat memanfaatkan Surat Berharga Negara (SBN) maupun SRBI sebagai instrumen pendukung transaksi tersebut.

Dengan fasilitas ini, bank memiliki alternatif pendanaan ketika membutuhkan tambahan likuiditas. Namun, akses terhadap fasilitas tersebut tetap bergantung pada ketentuan dan mekanisme operasi moneter yang berlaku di BI.

Selain repo, BI menyediakan fasilitas swap reguler dengan tenor satu, tiga, enam, hingga 12 bulan. Erwin menjelaskan bahwa bank yang tidak memiliki SBN atau SRBI, tetapi mempunyai likuiditas valuta asing, dapat mengakses fasilitas swap ke BI.

Fasilitas tersebut membantu bank mengelola ketidaksesuaian antara jangka waktu penghimpunan dana dan penyaluran kredit. Bank umumnya menghimpun dana dengan tenor relatif pendek, sedangkan kredit yang mereka salurkan dapat memiliki jangka waktu lebih panjang.

“Bisnis bank itu mereka kan mengelola mismatch, melakukan collecting fund yang jangka pendek tapi kan pembiayaan kreditnya jangka panjang,” pungkas Erwin.

Pengurangan SRBI Berjalan Bertahap dan Terukur

Ke depan, BI akan terus menyesuaikan volume penerbitan SRBI melalui lelang dengan memperhatikan perkembangan likuiditas pasar uang. Bank sentral juga akan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan dana domestik dan peran SRBI dalam menarik investasi asing.

Dengan pendekatan bertahap, BI berupaya menjaga kecukupan likuiditas tanpa mengabaikan efektivitas instrumen operasi moneter. Kebijakan ini juga berkaitan dengan upaya menjaga pergerakan suku bunga pasar uang agar tetap sejalan dengan arah kebijakan moneter.

Meski demikian, dampak pengurangan SRBI terhadap kondisi perbankan dan pasar keuangan akan bergantung pada perkembangan likuiditas, permintaan dana, serta respons pelaku pasar. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan penerbitan SRBI dan kebijakan moneter BI berikutnya.

Pada akhirnya, langkah BI tersebut mencerminkan upaya menata distribusi likuiditas agar dana tersedia sesuai kebutuhan berbagai tenor. Bank sentral tetap mempertahankan instrumen moneter yang relevan, sembari menyesuaikan volume penerbitan untuk mendukung kelancaran pasar uang dan transmisi BI Rate ke sektor perbankan.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.