Rabu, 21 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
Jaya Purnama
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

LPS Ingatkan Mahasiswa Waspadai Pinjol dan PayLater, Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial

Oleh Jaya Purnama · 20/10/2026 · 9:49 pm
LPS Ingatkan Mahasiswa Waspadai Pinjol dan PayLater, Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial
♥ Dukungan
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Makassar, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur pinjaman online (pinjol) dan layanan PayLater. Kedua layanan keuangan digital tersebut dapat menimbulkan masalah finansial jika pengguna tidak memperhitungkan kemampuan membayar.

Direktur Eksekutif Kesekretariatan dan Hubungan Lembaga LPS KM Nuruddin menyoroti kemudahan akses produk keuangan digital yang belum selalu sejalan dengan pemahaman masyarakat. Menurutnya, generasi muda perlu memahami manfaat, risiko, serta kewajiban pembayaran sebelum menggunakan layanan pinjaman.

Peringatan tersebut Nuruddin sampaikan dalam Kuliah Umum Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) di Baruga AP Pettarani, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Ia berharap edukasi keuangan membantu mahasiswa mengambil keputusan yang lebih bijak dan menjaga kondisi keuangan mereka pada masa depan.

LPS Ingatkan Mahasiswa agar Berhati-hati Menggunakan Pinjol dan PayLater

Nuruddin menilai mahasiswa menghadapi risiko ketika menggunakan layanan kredit tanpa perhitungan yang matang. Kemudahan transaksi melalui aplikasi dapat mendorong seseorang mengambil pinjaman, meskipun pendapatannya belum cukup untuk memenuhi kewajiban cicilan setiap bulan.

Ia menegaskan bahwa keinginan membeli barang atau menikmati fasilitas pembayaran tidak selalu sejalan dengan kemampuan finansial. Karena itu, mahasiswa perlu menilai kondisi keuangan pribadi sebelum memutuskan menggunakan PayLater atau pinjaman online.

Dalam keterangannya, Nuruddin mengatakan, “Kadang-kadang mahasiswa tertarik atau tergiur untuk menggunakan paylater, tapi kemampuan untuk melunasi atau melakukan cicilan setiap bulannya itu tidak terjangkau,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya mempertimbangkan kemampuan membayar sejak awal. Mahasiswa sebaiknya tidak hanya melihat batas kredit atau kemudahan pencairan dana, tetapi juga menghitung pengeluaran rutin dan kewajiban lain yang sudah berjalan.

Selain itu, pengguna perlu memahami bahwa fasilitas kredit tetap menimbulkan kewajiban pembayaran. Jika seseorang mengambil cicilan tanpa perencanaan, tagihan dapat membebani anggaran bulanan dan mengganggu kebutuhan utama, seperti biaya kuliah, transportasi, tempat tinggal, serta kebutuhan sehari-hari.

Akses Keuangan Digital Berkembang Lebih Cepat daripada Literasi

Nuruddin menjelaskan bahwa inklusi keuangan di Indonesia berkembang pesat seiring kemudahan akses melalui aplikasi digital dan layanan perbankan seluler. Kini, masyarakat dapat mengakses beragam produk keuangan hanya dengan menggunakan telepon genggam.

Menurutnya, kemudahan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan layanan keuangan secara lebih praktis. Namun, peningkatan akses belum sepenuhnya diikuti pemahaman mengenai karakteristik produk, risiko, dan mekanisme pencairan dana ketika seseorang membutuhkan likuiditas.

Nuruddin menggambarkan perkembangan tersebut dengan menyoroti cepatnya masyarakat mengakses produk keuangan. “Dengan klik, dengan mobile banking, masyarakat, khususnya generasi muda, cepat sekali bisa mengakses jasa atau produk keuangan tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, akses yang mudah tidak otomatis membuat pengguna mampu mengelola keuangan secara sehat. Masyarakat tetap perlu memahami ketentuan layanan, biaya yang berlaku, jadwal pembayaran, serta konsekuensi ketika mereka terlambat memenuhi kewajiban.

Oleh karena itu, literasi keuangan memegang peranan penting dalam mendampingi perkembangan layanan digital. Pemahaman yang baik membantu mahasiswa membedakan kebutuhan dan keinginan, menilai kemampuan membayar, serta menghindari keputusan finansial yang berpotensi merugikan.

Literasi Keuangan Penting untuk Masa Depan Mahasiswa

LPS mendorong masyarakat agar meningkatkan kemampuan mengelola keuangan sejak dini. Nuruddin berharap edukasi tersebut membuat masyarakat, terutama generasi muda, lebih memahami cara menggunakan produk keuangan secara bertanggung jawab.

Ia menyampaikan harapan tersebut dengan menekankan manfaat edukasi bagi masa depan. “Itu yang kita harapkan sekarang teredukasi masyarakat, ya minimal mereka tahulah cara mengelola keuangan karena ini kan buat masa depan juga,” sambungnya.

Bagi mahasiswa, pengelolaan keuangan dapat dimulai dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap bulan. Selanjutnya, mereka dapat menyusun anggaran yang memprioritaskan kebutuhan pokok, pendidikan, tabungan, serta kewajiban pembayaran yang sudah ada.

Selain menyusun anggaran, mahasiswa perlu memeriksa kemampuan membayar sebelum mengambil kredit. Mereka sebaiknya menghitung total cicilan bulanan dan memastikan pengeluaran tersebut tidak mengganggu kebutuhan penting lainnya.

Jika kebutuhan mendesak muncul, mahasiswa juga perlu mempertimbangkan pilihan keuangan secara cermat. Membandingkan biaya, membaca syarat layanan, dan memahami konsekuensi pinjaman dapat membantu mereka menghindari keputusan yang terburu-buru.

Cara Menghindari Risiko Utang dari Layanan Digital

Kemudahan pinjol dan PayLater tidak selalu menjadi masalah selama pengguna memahami kewajiban serta kemampuan finansialnya. Namun, mahasiswa perlu menerapkan beberapa langkah pencegahan agar fasilitas tersebut tidak mengganggu kondisi keuangan.

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mahasiswa mengelola penggunaan layanan kredit secara lebih bijak:

  • Utamakan kebutuhan. Bedakan kebutuhan pokok dengan keinginan membeli barang yang masih bisa ditunda.
  • Hitung kemampuan membayar. Sesuaikan cicilan dengan pemasukan setelah memperhitungkan pengeluaran rutin.
  • Periksa ketentuan layanan. Pahami bunga, biaya tambahan, tenggat pembayaran, dan konsekuensi keterlambatan.
  • Hindari menumpuk cicilan. Pertimbangkan seluruh kewajiban yang masih berjalan sebelum mengambil pinjaman baru.
  • Bangun kebiasaan menabung. Sisihkan sebagian pemasukan secara rutin untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak.

Langkah tersebut dapat membantu mahasiswa mengambil keputusan berdasarkan kondisi keuangan yang nyata. Dengan demikian, mereka tidak hanya menikmati kemudahan teknologi, tetapi juga mampu menjaga kestabilan keuangan dalam jangka panjang.

Edukasi Keuangan Perlu Mengimbangi Kemudahan Teknologi

Perkembangan layanan keuangan digital memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses berbagai produk melalui telepon genggam. Meski begitu, kemudahan tersebut perlu diimbangi pengetahuan yang memadai agar pengguna memahami hak dan kewajibannya.

Peringatan LPS kepada mahasiswa di Makassar menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda. Mahasiswa perlu memahami risiko pinjaman online dan PayLater sebelum memutuskan menggunakan fasilitas tersebut.

Pada akhirnya, keputusan keuangan yang bijak tidak hanya bergantung pada kemudahan akses atau besarnya limit kredit. Kemampuan membayar, kedisiplinan mengatur anggaran, dan pemahaman terhadap ketentuan layanan menjadi pertimbangan penting untuk menjaga kesehatan finansial pada masa depan.

Tag: ·
Jaya Purnama

Spesialis Informasi | Konten Digital

Kode Referral Pluang Oktober 2026, Bonus Saldo 5.000 Hingga 1 Juta

Kode Referral Pluang Oktober 2026, Bonus Saldo 5.000 Hingga 1 Juta

Kunjungi Artikel