Rabu, 21 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
Jaya Purnama
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

DMAS Cetak Laba Rp1,49 Triliun, Bisnis Lahan Pusat Data Dongkrak Kinerja

Oleh Jaya Purnama · 20/10/2026 · 11:10 pm
DMAS Cetak Laba Rp1,49 Triliun, Bisnis Lahan Pusat Data Dongkrak Kinerja
♥ Dukungan
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Cikarang, Jawa Barat, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), pengembang kawasan terpadu Kota Deltamas, mencatatkan lonjakan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Perusahaan membukukan pendapatan usaha Rp2,65 triliun dan laba bersih Rp1,49 triliun hingga 30 September 2026.

Kinerja tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan usaha DMAS tumbuh 239,64 persen dari Rp779,58 miliar menjadi Rp2,65 triliun. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 183,92 persen menjadi Rp1,49 triliun.

Lonjakan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan lahan industri untuk pembangunan pusat data atau data center. Kehadiran perusahaan teknologi global yang membutuhkan infrastruktur digital berskala besar turut memperkuat daya tarik kawasan industri Kota Deltamas di Cikarang.

Selain pertumbuhan pendapatan, DMAS juga mencatat peningkatan laba usaha dan laba per saham. Namun, perusahaan turut menghadapi kenaikan beban pokok pendapatan serta biaya operasional seiring meningkatnya aktivitas penjualan lahan.

Pendapatan DMAS Melonjak 239,64 Persen

Sepanjang Januari hingga September 2026, DMAS membukukan pendapatan usaha konsolidasian sebesar Rp2,65 triliun. Angka tersebut meningkat 239,64 persen dibandingkan Rp779,58 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan peningkatan aktivitas bisnis perusahaan. Permintaan lahan untuk pengembangan fasilitas pusat data menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kinerja pengembang kawasan industri tersebut.

Seiring meningkatnya penjualan, beban pokok pendapatan DMAS juga naik menjadi Rp1,03 triliun. Kenaikan ini berkaitan dengan besarnya porsi penyerahan lahan selama periode pelaporan.

Meski beban pokok pendapatan meningkat, perusahaan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba kotor yang kuat. Laba kotor DMAS mencapai Rp1,62 triliun, atau meningkat 197,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan tidak hanya memperbesar skala bisnis perusahaan, tetapi juga mendorong peningkatan keuntungan kotor. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kinerja operasional DMAS selama sembilan bulan pertama 2026.

Laba Bersih DMAS Mencapai Rp1,49 Triliun

Peningkatan pendapatan turut mengangkat laba usaha DMAS. Perusahaan mencatatkan laba usaha sebesar Rp1,34 triliun, tumbuh 245,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pertumbuhan aktivitas penjualan juga meningkatkan biaya operasional. Salah satu kenaikan terlihat pada komisi penjualan yang mencapai Rp89,79 miliar, dibandingkan Rp16,44 miliar pada periode sebelumnya.

Di sisi lain, DMAS memperoleh penghasilan lain-lain bersih sebesar Rp191,63 miliar. Penghasilan tersebut sebagian besar berasal dari kegiatan pengelolaan air bersih dan lingkungan kawasan. Kontribusi ini turut mendukung hasil keuangan perusahaan selama periode berjalan.

Kombinasi pertumbuhan laba usaha dan kontribusi penghasilan lain-lain membantu DMAS membukukan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,49 triliun.

Nilai tersebut meningkat 183,92 persen secara tahunan. Selain itu, laba per saham dasar perusahaan naik dari Rp10,90 menjadi Rp30,93. Kenaikan ini menunjukkan peningkatan laba yang tersedia bagi pemegang saham untuk setiap saham biasa.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati keberlanjutan pertumbuhan laba. Pergerakan penjualan lahan, biaya operasional, serta kontribusi pendapatan dari kegiatan pengelolaan kawasan dapat memengaruhi kinerja perusahaan pada periode berikutnya.

Bisnis Pusat Data Memperkuat Prospek Kota Deltamas

DMAS mengembangkan Kota Deltamas di Cikarang sebagai kawasan terpadu yang mencakup berbagai segmen properti. Kegiatan bisnisnya meliputi pengembangan kawasan industri, properti komersial, perumahan, penyewaan properti, hingga pengelolaan hotel.

Di antara segmen tersebut, kebutuhan lahan untuk pembangunan pusat data menjadi salah satu pendorong penting dalam perkembangan kawasan industri. Perusahaan teknologi membutuhkan fasilitas pendukung untuk menyimpan, mengolah, dan mendistribusikan data dalam skala besar.

Selain membutuhkan lahan, pusat data memerlukan pasokan listrik yang andal, sistem pendingin, jaringan telekomunikasi, serta pengelolaan lingkungan yang memadai. Karena itu, kawasan industri dengan infrastruktur pendukung yang sesuai berpotensi menarik minat investor di sektor teknologi digital.

Kota Deltamas memiliki beragam fungsi kawasan yang mendukung kegiatan industri dan komersial. Kehadiran pengelolaan air bersih serta lingkungan kawasan juga memberikan kontribusi terhadap kegiatan operasional perusahaan, sebagaimana tercermin dalam penghasilan lain-lain bersih DMAS.

Meskipun begitu, permintaan lahan untuk pusat data tidak otomatis menjamin pertumbuhan yang sama pada setiap periode. Penjualan lahan dapat berfluktuasi mengikuti jadwal transaksi, kebutuhan ekspansi pelanggan, dan perkembangan investasi di sektor teknologi.

Hal yang Perlu Dicermati Investor dari Kinerja DMAS

Lonjakan pendapatan dan laba bersih menempatkan kinerja DMAS sebagai salah satu perkembangan penting di sektor properti industri. Namun, investor perlu melihat sejumlah faktor sebelum menarik kesimpulan mengenai prospek saham perusahaan.

Pertama, investor perlu memantau realisasi penjualan dan penyerahan lahan pada kuartal berikutnya. Kedua, perkembangan permintaan dari perusahaan teknologi dapat memberikan gambaran mengenai keberlanjutan bisnis pusat data di kawasan tersebut.

Ketiga, investor perlu memperhatikan beban pokok pendapatan dan komisi penjualan. Kedua komponen tersebut memengaruhi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan laba ketika aktivitas bisnis meningkat.

Selanjutnya, kontribusi pendapatan dari pengelolaan kawasan juga layak mendapat perhatian. Kegiatan tersebut dapat mendukung diversifikasi sumber pendapatan, meskipun besarnya kontribusi pada periode mendatang tetap bergantung pada perkembangan operasional.

Terakhir, pertumbuhan laba belum cukup untuk menentukan apakah saham DMAS menawarkan valuasi yang menarik. Investor perlu membandingkan kinerja keuangan dengan harga saham, kapitalisasi pasar, posisi kas, serta prospek bisnis perusahaan.

Kesimpulan

DMAS membukukan kinerja keuangan yang tumbuh kuat sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan usaha mencapai Rp2,65 triliun, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,49 triliun.

Permintaan lahan untuk pembangunan pusat data menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan bisnis Kota Deltamas. Selain itu, pengelolaan air bersih dan lingkungan kawasan turut menyumbang penghasilan lain-lain bersih perusahaan.

Ke depan, investor perlu mencermati realisasi penjualan lahan, perkembangan investasi pusat data, dan pengendalian biaya operasional. Faktor-faktor tersebut akan membantu memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kemampuan DMAS mempertahankan pertumbuhan kinerjanya.

Informasi kinerja keuangan ini dapat menjadi bahan pertimbangan awal bagi investor. Namun, keputusan investasi tetap memerlukan analisis valuasi, laporan keuangan lengkap, serta penilaian terhadap risiko dan prospek perusahaan.

Tag: ·
Jaya Purnama

Spesialis Informasi | Konten Digital