Jumat, 6 November 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Laba DADA Kuartal III 2026 Melonjak 863,76 Persen

Dukung
Daftar Isi 4 bagian

Jayapurnama.com – Laba DADA kuartal III 2026 mencapai Rp8,24 miliar hingga 30 September, naik 863,76 persen dibandingkan Rp855 juta pada periode sama tahun lalu. Diamond Propertindo juga mencatat pertumbuhan pendapatan bersih dan laba usaha. Namun, pergerakan sahamnya berbanding terbalik: harga DADA terkoreksi tajam sejak pemberlakuan harga saham Rp1.

Kinerja tersebut memperlihatkan peningkatan pada sejumlah pos laporan laba rugi, meski beban pokok pendapatan ikut membesar. Di sisi lain, data perbandingan laba bersih dalam rincian kinerja mencantumkan angka pembanding yang berbeda dari angka pada paparan awal. Karena itu, kedua angka tersebut perlu dibaca sesuai bagian laporan yang menyebutkannya.

Pendapatan dan laba usaha DADA meningkat

Pendapatan bersih DADA tercatat Rp28,96 miliar, bertambah 220 persen dari Rp9,05 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan itu turut mengangkat laba kotor menjadi Rp12,81 miliar, dibandingkan Rp6,33 miliar setahun sebelumnya. Dengan demikian, laba kotor bertambah meski biaya untuk menghasilkan pendapatan ikut naik.

Beban pokok pendapatan mencapai Rp16,15 miliar. Nilai tersebut jauh lebih besar daripada Rp2,71 miliar pada periode pembanding. Selisih itu penting diperhatikan ketika membaca pertumbuhan pendapatan, sebab kenaikan penjualan tidak otomatis menggambarkan besarnya keuntungan yang tersisa setelah biaya pokok.

Di kelompok beban usaha, perseroan mencatat biaya penjualan dan pemasaran Rp1,12 miliar, naik dari Rp878,18 juta. Sebaliknya, beban umum dan administrasi turun menjadi Rp2,9 miliar dari Rp3,78 miliar. Gabungan kedua pos tersebut menghasilkan jumlah beban usaha Rp4,02 miliar, sedikit lebih rendah daripada Rp4,66 miliar pada tahun sebelumnya.

Laporan mencatat laba usaha sebesar Rp16,83 miliar, meningkat dari Rp1,67 miliar pada periode sama tahun lalu. Penghasilan keuangan juga naik menjadi Rp186,8 juta, dari Rp4,77 juta. Sementara itu, beban keuangan menyusut menjadi Rp8,1 juta dibandingkan Rp399,02 juta.

Rincian laba bersih dan posisi keuangan

Laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp8,96 miliar, naik dari Rp1,27 miliar. Pada saat yang sama, beban pajak final bertambah menjadi Rp724,07 juta dari Rp226,26 juta. Rincian laba tahun berjalan menyebut laba bersih Rp8,24 miliar, dengan angka pembanding Rp1,05 miliar.

Angka Rp1,05 miliar itu berbeda dari pembanding Rp855 juta yang digunakan dalam perhitungan kenaikan laba bersih sebesar 863,76 persen. Perbedaan tersebut muncul dalam rincian angka kinerja yang tersedia, sehingga tidak tepat menyamakan kedua pembanding tanpa penjelasan lebih lanjut. Meski begitu, kedua bagian sama-sama mencatat laba bersih periode berjalan sebesar Rp8,24 miliar.

Laba per saham dasar dilaporkan sebesar Rp1.109, dibandingkan Rp0,119 pada periode sebelumnya. Angka tersebut menyertai lonjakan laba bersih yang dilaporkan perseroan. Investor dapat membedakan indikator ini dari harga saham di pasar, karena keduanya merujuk pada ukuran yang berbeda.

Dari sisi neraca, ekuitas per 30 September 2026 mencapai Rp363,95 miliar, meningkat dari Rp355,7 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Liabilitas turun menjadi Rp272,71 miliar dari Rp283,74 miliar. Namun, jumlah aset juga sedikit menyusut, dari Rp639,44 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp636,66 miliar.

Saham DADA masih jauh dari level Rp50

Pergerakan saham DADA belum mengikuti pertumbuhan laba yang tercatat. Sejak pemberlakuan harga saham Rp1 pada 28 September 2026, saham tersebut tidak kembali menyentuh level gocap atau Rp50. Harganya sempat bergerak di kisaran Rp17, lalu mengalami auto rejection bawah pada perdagangan terakhir yang disebutkan.

Dibandingkan posisi Rp50 pada 25 September 2026, saham DADA telah turun 66 persen atau 33 poin. Dengan kata lain, pelemahan itu terjadi dalam rentang waktu singkat setelah harga Rp1 mulai berlaku. Meski saham sempat memantul, pergerakan berikutnya kembali menekan harganya.

Dalam rentang lebih dari lima tahun delapan bulan, penurunan saham terlihat lebih dalam. Dari kisaran Rp173 pada 14 Februari 2020, harga DADA telah merosot 90,17 persen atau 156 poin. Rentang perdagangan 52 minggu terakhir menunjukkan harga tertinggi Rp71 dan terendah Rp16.

Kapitalisasi pasar dan konteks kinerja

DADA memiliki kapitalisasi pasar Rp126,34 miliar dengan rasio price earning (PER) 13,85 kali. Angka PER membandingkan harga saham dengan laba per saham, sehingga pembaca perlu melihatnya bersama kinerja perusahaan dan pergerakan harga. Rasio tersebut tidak menggambarkan seluruh kondisi bisnis secara terpisah.

Perbedaan antara lonjakan laba dan pelemahan harga saham menunjukkan bahwa kinerja keuangan serta pergerakan pasar dapat berjalan dengan arah berlainan. Laporan hingga akhir September mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, sementara saham masih berada jauh di bawah level Rp50. Pada saat yang sama, kenaikan beban pokok dan penyusutan aset menjadi bagian lain dari kondisi keuangan yang patut dicermati.

Dengan demikian, hasil kuartal III memberi gambaran yang lebih lengkap jika dibaca melalui beberapa pos sekaligus: pendapatan, beban, laba, neraca, dan harga saham. Perbandingan laba bersih yang berbeda dalam rincian angka juga perlu diperhatikan agar pembaca tidak mencampur dua basis pembanding. Data tersebut menggambarkan kinerja sampai 30 September 2026 dan pergerakan saham yang disebutkan dalam periode terkait.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.