Daftar Isi 7 bagian
JayaPurnama.com – Jakarta, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mencatat pendapatan konsolidasi Rp113,5 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut tumbuh 3,5% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Pertumbuhan ini mencerminkan kontribusi bisnis digital dan berlanjutnya transformasi perusahaan melalui program TLKM 30.
Selain pendapatan, Telkom juga mencatat pertumbuhan EBITDA sebesar 2% YoY menjadi Rp55,5 triliun. Sementara itu, laba bersih normalisasi meningkat 3,9% YoY menjadi Rp16,5 triliun. Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp14,4 triliun dengan margin laba bersih 12,7%.
Kinerja tersebut muncul di tengah dinamika industri telekomunikasi dan meningkatnya kebutuhan layanan digital. Telkom mengandalkan penguatan bisnis inti, monetisasi layanan seluler, serta pengembangan infrastruktur digital untuk menjaga pertumbuhan. Perusahaan juga melanjutkan penataan portofolio melalui empat pilar transformasi TLKM 30.
Kinerja Keuangan Telkom Kuartal III 2026
Kontribusi terbesar terhadap pendapatan konsolidasi datang dari bisnis Data, Internet & IT Services. Segmen ini menghasilkan pendapatan Rp71,5 triliun atau tumbuh 8,3% YoY. Capaian tersebut menunjukkan kuatnya peran layanan digital dalam menopang bisnis TelkomGroup.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA Telkom mencapai Rp55,5 triliun dengan pertumbuhan 2% YoY. Margin EBITDA tercatat sebesar 48,9%. Sementara itu, laba bersih normalisasi mencapai Rp16,5 triliun dengan margin 14,6%.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menyatakan perusahaan terus menjalankan strategi TLKM 30. Fokus utamanya mencakup penguatan bisnis inti dan pelaksanaan transformasi yang memberikan manfaat nyata bagi perusahaan.
Menurut Nanang, peningkatan konsumsi layanan data dan kebutuhan layanan digital yang semakin andal membuka peluang bagi TelkomGroup. Karena itu, perusahaan berupaya membangun bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi. Langkah tersebut juga bertujuan mengoptimalkan kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki.
Bisnis Seluler dan Broadband Masih Menjadi Penopang
Pada segmen B2C yang mencakup Mobile dan Fixed Broadband, Telkom membukukan pendapatan Rp81,6 triliun. Nilai tersebut tumbuh 3,5% YoY. Sementara itu, Telkomsel mencatat pendapatan Rp82,9 triliun atau meningkat 1,8% YoY.
Bisnis digital Telkomsel menjadi salah satu pendorong utama dengan pendapatan Rp60,7 triliun. Segmen ini tumbuh 7,7% YoY. Pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, dan strategi komersial yang disiplin turut mendukung peningkatan monetisasi layanan.
Hasilnya, rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) seluler Telkomsel meningkat 7,1% YoY menjadi Rp45.400. Selain itu, data yield atau pendapatan dari penggunaan data juga tumbuh 6,5% YoY.
Di bisnis fixed broadband, IndiHome mencatat pendapatan Rp19,1 triliun. Penataan basis pelanggan turut memengaruhi perkembangan bisnis tersebut. Namun, sejumlah indikator mulai memperlihatkan perbaikan secara kuartalan.
Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 9,63 juta pelanggan. ARPU juga naik 3,2% secara kuartalan menjadi Rp217.700. Perkembangan ini menunjukkan perbaikan pada indikator pelanggan dan nilai pendapatan per pelanggan.
Infrastruktur dan Data Center Perkuat Pertumbuhan
Segmen B2B Infrastructure mencatat pendapatan Rp7,1 triliun atau tumbuh 5,5% YoY. Pertumbuhan tersebut mendapat dukungan layanan data center, konektivitas, dan penyewaan infrastruktur TelkomGroup.
Mitratel membukukan pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan fiber to the tower (FTTT) sebesar Rp7,01 triliun. Angka tersebut tumbuh 1,8% YoY. Perusahaan juga mencatat EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun.
Mitratel mempertahankan margin EBITDA sebesar 82,9% dan margin laba bersih 22,2%. Efektivitas pengelolaan biaya turut mendukung kinerja perusahaan sepanjang periode tersebut.
Sementara itu, NeutraDC mencatat pertumbuhan pendapatan 17% YoY menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026. EBITDA perusahaan meningkat 35% YoY dengan margin mencapai 40,9%. Kontribusi data center di Singapura dan Cikarang mendukung pencapaian tersebut.
Kebutuhan pelanggan terhadap layanan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga membuka peluang pengembangan bisnis NeutraDC. Perusahaan menghadirkan layanan Neutra Compute untuk mendukung kebutuhan komputasi tersebut.
Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW). Perusahaan juga memiliki aspirasi mencapai kapasitas 1 gigawatt (GW). Untuk mendukung rencana tersebut, TelkomGroup menjajaki kemitraan strategis dalam penguatan kemampuan teknis, akses pasar, dan pendanaan.
Segmen B2B ICT dan International Tumbuh Positif
Bisnis B2B ICT membukukan pendapatan Rp11,2 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 3,1% YoY. Segmen usaha kecil dan menengah atau small medium enterprises (SME) menjadi salah satu penggerak pertumbuhan.
Pendapatan bisnis SME mencapai Rp3,3 triliun atau tumbuh 10,2% YoY. Pertumbuhan pelanggan Indibiz sebesar 10,9% YoY menjadi 771,1 ribu pelanggan turut mendukung pencapaian tersebut. Selain itu, bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution tumbuh 6,2% YoY.
Segmen International juga mencatat perkembangan positif. Pendapatannya mencapai Rp8,9 triliun atau meningkat 5,8% YoY. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari pendapatan jaringan yang melonjak 50,2% YoY menjadi Rp1,37 triliun.
Penguatan konektivitas internasional bagi perusahaan hyperscaler global dan operator jaringan internasional mendukung perkembangan bisnis tersebut. Di sisi lain, Telin terus memperluas jaringan internasional melalui pembangunan infrastruktur kabel laut.
Salah satu proyek yang telah mencapai tahap penting adalah ICE 1. Kabel laut tersebut mendarat di Batam pada Juli 2026. Sementara itu, proyek INSICA menargetkan kesiapan operasional pada kuartal IV 2026.
Pengembangan jaringan tersebut turut memperkuat posisi Batam sebagai hub kabel laut. Infrastruktur ini juga terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC. Dengan demikian, TelkomGroup berupaya memperkuat peran Indonesia dalam ekosistem konektivitas regional dan global.
Transformasi TLKM 30 Fokus pada Penataan Portofolio
Selain mengejar pertumbuhan bisnis, Telkom melanjutkan transformasi melalui program TLKM 30. Program ini memiliki empat pilar utama, yaitu Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Keempat pilar tersebut memiliki fokus yang saling berkaitan. Telkom ingin meningkatkan efisiensi proses, memperbaiki kualitas layanan, memusatkan portofolio pada bisnis inti, serta mengoptimalkan nilai aset. Perusahaan juga memperkuat perannya sebagai strategic holding untuk mendorong sinergi jangka panjang.
Pada pilar Operational & Service Excellence, TelkomGroup menjaga disiplin pengelolaan biaya dan arus kas. Langkah ini bertujuan mendukung efisiensi operasional, keberlanjutan investasi, serta kualitas layanan.
Pengelolaan arus kas juga mencakup penyesuaian pembayaran operasional dan karyawan. Salah satunya berkaitan dengan program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP). Program tersebut mendukung pembentukan struktur organisasi yang lebih efektif dan produktif.
Sementara itu, pilar Streamlining mencatat penyelesaian penataan 14 entitas hingga kuartal III 2026. Proses tersebut mencakup divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, dan penggabungan dua entitas.
Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun. Rasio capex terhadap pendapatan mencapai 13,8%. Sebanyak 94,3% belanja modal tersebut mengarah pada segmen B2C dan B2B Infrastructure.
Spin-off InfraNexia Rampung pada September 2026
Salah satu pencapaian penting dalam pilar Unlock Value adalah penyelesaian pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia. Telkom merampungkan proses tersebut pada 30 September 2026.
Melalui langkah ini, lebih dari 90% aset jaringan TelkomGroup terkonsolidasi ke InfraNexia. Perusahaan akan mengembangkan infrastruktur tersebut melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access.
Model tersebut membuka peluang pemanfaatan jaringan secara lebih optimal. Selain itu, pendekatan ini memberikan ruang bagi komersialisasi infrastruktur dan pengembangan kemitraan strategis.
Nanang menjelaskan bahwa streamlining menjadi prioritas utama transformasi Telkom pada 2026. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas diharapkan membentuk organisasi yang lebih sederhana, gesit, dan fokus pada bisnis bernilai tambah.
Penyelesaian pemisahan bisnis wholesale fiber menjadi bagian dari upaya Telkom mengoptimalkan struktur bisnis. Langkah tersebut juga memperjelas pengembangan infrastruktur konektivitas melalui entitas yang memiliki fokus khusus.
Prospek Telkom Mengandalkan Penguatan Bisnis Inti
Ke depan, TelkomGroup akan melanjutkan transformasi dengan memperkuat kualitas layanan dan pengalaman pelanggan. Perusahaan juga mengembangkan kemitraan strategis untuk mendukung pertumbuhan bisnis infrastruktur digital.
Kinerja sembilan bulan pertama 2026 memperlihatkan kontribusi sejumlah segmen terhadap pendapatan perusahaan. Bisnis digital Telkomsel, infrastruktur, data center, ICT, dan konektivitas internasional menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan tersebut.
Namun, keberhasilan transformasi tidak hanya bergantung pada peningkatan pendapatan. Telkom juga perlu menjaga efisiensi, kualitas layanan, dan efektivitas pengelolaan aset. Ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun fundamental bisnis jangka panjang.
Nanang menyatakan optimisme untuk menutup 2026 dengan kinerja yang semakin solid. TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan mengembangkan kapabilitas perusahaan agar memberikan manfaat maksimal bagi pelanggan serta masyarakat.
Dengan demikian, perkembangan Telkom hingga kuartal III 2026 memperlihatkan dua agenda yang berjalan bersamaan. Perusahaan menjaga pertumbuhan keuangan sekaligus merombak struktur bisnis melalui TLKM 30. Penyelesaian spin-off InfraNexia menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya membangun bisnis telekomunikasi dan infrastruktur digital yang lebih terfokus.





