Sabtu, 31 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Laba Gudang Garam Melonjak 310,9 Persen

Oleh Jaya Purnama · 31/10/2026 · 9:40 pm
Dukung
Daftar Isi 6 bagian

JayaPurnama.com – Indonesia, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 310,9 persen hingga 30 September 2026. Emiten rokok tersebut membukukan laba Rp4,52 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,1 triliun.

Peningkatan keuntungan itu menarik perhatian investor karena perusahaan justru mengalami penurunan pendapatan. Hingga akhir September 2026, Gudang Garam mencatatkan pendapatan Rp61,48 triliun. Angka tersebut turun 8,67 persen dibandingkan Rp67,32 triliun pada periode sama 2025.

Meskipun begitu, perusahaan berhasil meningkatkan laba kotor sekaligus menekan sejumlah komponen biaya. Perkembangan tersebut mendorong laba usaha dan laba sebelum pajak meningkat signifikan. Selain itu, laba per saham GGRM juga melonjak menjadi Rp2.350 dari sebelumnya Rp575.

Kinerja keuangan tersebut turut mewarnai pergerakan saham Gudang Garam di pasar modal. Saham GGRM menguat 2,34 persen atau 375 poin ke level Rp16.400. Namun, pergerakan dalam jangka pendek masih menunjukkan tekanan.

Laba Gudang Garam Melonjak di Tengah Penurunan Pendapatan

Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 September 2026 yang dikutip EmitemNews.com, Gudang Garam membukukan pendapatan Rp61,48 triliun. Realisasi tersebut mencerminkan penurunan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp67,32 triliun.

Di sisi lain, perusahaan berhasil mengurangi beban pokok pendapatan menjadi Rp52,48 triliun. Pada periode sama 2025, komponen biaya tersebut mencapai Rp61,02 triliun. Penurunan beban pokok ini memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk meningkatkan keuntungan.

Akibatnya, laba kotor Gudang Garam mencapai Rp9 triliun. Nilai tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan Rp6,3 triliun pada periode sama tahun lalu. Perkembangan ini menunjukkan peningkatan laba kotor meskipun pendapatan perusahaan mengalami kontraksi.

Selanjutnya, pendapatan lainnya tercatat Rp305,77 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Rp393,29 miliar pada periode sebelumnya. Sementara itu, beban usaha turun menjadi Rp3,36 triliun dari sebelumnya Rp4,81 triliun.

Perusahaan juga mencatatkan penurunan beban lainnya menjadi Rp2,4 miliar. Pada periode sama tahun sebelumnya, komponen tersebut mencapai Rp3,45 miliar. Namun, rugi kurs bersih tercatat Rp4,54 miliar, berbalik dari keuntungan kurs Rp10,76 miliar.

Kombinasi perubahan pendapatan dan pengeluaran tersebut mengantarkan laba usaha mencapai Rp5,93 triliun. Sebagai perbandingan, Gudang Garam hanya membukukan laba usaha Rp1,89 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Penurunan Beban Bunga Dorong Keuntungan Perusahaan

Salah satu perubahan penting dalam laporan keuangan GGRM terlihat pada beban bunga. Hingga September 2026, perusahaan mencatatkan beban bunga hanya Rp4,72 miliar. Nilai tersebut turun drastis dibandingkan Rp270,4 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Penurunan beban bunga tersebut menjadi salah satu faktor yang ikut memperkuat hasil keuangan perusahaan. Selain itu, peningkatan laba usaha turut mendukung kenaikan keuntungan sebelum pajak penghasilan.

Gudang Garam mencatatkan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp5,93 triliun. Angka tersebut melonjak dibandingkan Rp1,62 triliun pada periode sama tahun lalu. Dengan demikian, perusahaan berhasil memperbesar keuntungan sebelum memperhitungkan kewajiban pajak.

Namun, beban pajak penghasilan mengalami peningkatan menjadi Rp1,41 triliun. Pada periode sama 2025, perusahaan mencatatkan beban pajak sebesar Rp511,45 miliar. Meskipun demikian, kenaikan pajak tidak menghalangi perusahaan untuk membukukan laba bersih lebih besar.

Hasil akhirnya, laba bersih Gudang Garam mencapai Rp4,52 triliun. Perusahaan sebelumnya hanya mencatatkan keuntungan Rp1,1 triliun. Pertumbuhan sebesar 310,9 persen tersebut juga mendorong laba per saham atau earnings per share (EPS) menjadi Rp2.350 dari Rp575.

Peningkatan EPS menjadi salah satu indikator penting bagi investor. Sebab, angka tersebut menggambarkan besarnya laba perusahaan untuk setiap saham yang beredar. Namun, investor tetap perlu memperhatikan keberlanjutan keuntungan pada periode berikutnya.

Ekuitas Meningkat, Liabilitas Gudang Garam Menurun

Selain mencatatkan peningkatan keuntungan, Gudang Garam juga menunjukkan perubahan pada posisi keuangan. Hingga 30 September 2026, perusahaan memiliki total ekuitas Rp65,55 triliun. Nilai tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp62,57 triliun.

Sementara itu, total liabilitas tercatat Rp11,63 triliun. Angka tersebut turun dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp12,68 triliun. Penurunan kewajiban ini berjalan beriringan dengan peningkatan nilai ekuitas perusahaan.

Di sisi lain, total aset Gudang Garam mencapai Rp77,19 triliun. Posisi tersebut meningkat dari Rp75,25 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Dengan demikian, perusahaan mencatatkan pertumbuhan aset sekitar Rp1,94 triliun.

Perubahan tersebut memperlihatkan posisi keuangan perusahaan yang lebih besar dibandingkan akhir 2025. Selain itu, kenaikan ekuitas dan penurunan liabilitas menjadi perkembangan yang patut dicermati investor ketika menilai kondisi keuangan emiten.

Saham GGRM Menguat, tetapi Masih Tertekan Sepekan

Kinerja keuangan positif turut mewarnai pergerakan saham Gudang Garam. Saham GGRM naik 2,34 persen atau setara 375 poin menjadi Rp16.400. Penguatan tersebut menunjukkan respons positif pasar pada perdagangan yang tercantum dalam data tersebut.

Namun, pergerakan jangka pendek saham ini masih menghadapi tekanan. Dalam lima hari perdagangan terakhir, GGRM terkoreksi 3,39 persen atau kehilangan 575 poin. Pada 26 Oktober 2026, saham tersebut masih berada di kisaran Rp16.975.

Sebaliknya, jika melihat pergerakan sejak awal tahun, saham GGRM justru mencatatkan kenaikan cukup besar. Secara year to date (YTD), saham tersebut menguat 20,15 persen atau bertambah 2.750 poin dibandingkan posisi 2 Januari 2026 sebesar Rp13.650.

Pergerakan dalam rentang 52 minggu juga memperlihatkan volatilitas saham GGRM. Dalam periode tersebut, saham Gudang Garam pernah mencapai level tertinggi Rp21.825. Sementara itu, level terendahnya berada di Rp12.625.

Dengan harga Rp16.400, saham GGRM masih berada di bawah level tertinggi dalam rentang satu tahun tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan sejak awal tahun belum sepenuhnya mengembalikan harga saham ke puncak sebelumnya.

PBV Gudang Garam Tercatat Hanya 0,07 Kali

Dari sisi valuasi, Gudang Garam memiliki kapitalisasi pasar atau market capitalization sebesar Rp31,56 triliun. Perusahaan juga mencatatkan price earning ratio (PER) sebesar 7,15 kali. Sementara itu, price to book value (PBV) berada pada level 0,07 kali.

Angka PBV tersebut menjadi salah satu aspek menarik dalam penilaian saham GGRM. Rasio ini membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku perusahaan. Secara umum, PBV di bawah satu menunjukkan bahwa harga pasar saham berada di bawah nilai bukunya.

Namun, PBV yang rendah tidak otomatis menjamin saham memiliki potensi keuntungan. Investor tetap perlu menilai prospek bisnis, kemampuan perusahaan mempertahankan laba, kondisi industri, serta berbagai risiko yang dapat memengaruhi kinerja ke depan.

PER sebesar 7,15 kali juga memberikan gambaran lain mengenai valuasi saham. Rasio tersebut membandingkan harga saham dengan laba per saham. Meskipun demikian, investor perlu memperhatikan kualitas dan keberlanjutan laba sebelum mengambil keputusan investasi.

Terlebih lagi, kenaikan laba bersih Gudang Garam hingga September 2026 terjadi ketika pendapatan justru mengalami penurunan. Karena itu, perkembangan margin keuntungan dan pengendalian biaya akan menjadi aspek penting untuk dicermati pada periode selanjutnya.

Prospek GGRM Masih Perlu Dicermati Investor

Laporan keuangan September 2026 memberikan gambaran perubahan kinerja Gudang Garam. Perusahaan berhasil meningkatkan laba bersih secara signifikan meskipun menghadapi penurunan pendapatan. Pengurangan beban pokok pendapatan dan beban usaha ikut mendukung pencapaian tersebut.

Selain itu, penurunan beban bunga menjadi perkembangan penting dalam laporan keuangan. Perusahaan juga mencatatkan peningkatan ekuitas dan aset, sementara total liabilitas mengalami penurunan dibandingkan akhir 2025.

Di pasar saham, GGRM mencatatkan kenaikan 20,15 persen sejak awal tahun 2026. Namun, koreksi dalam lima hari terakhir memperlihatkan bahwa pergerakan harga masih mengalami fluktuasi. Investor perlu mempertimbangkan kondisi tersebut bersama perkembangan fundamental perusahaan.

Dengan laba bersih Rp4,52 triliun dan PBV 0,07 kali, Gudang Garam menawarkan sejumlah indikator menarik untuk dianalisis. Meski begitu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu rasio atau pertumbuhan laba dalam mengambil keputusan.

Pada akhirnya, kemampuan Gudang Garam menjaga profitabilitas dan memperbaiki kinerja operasional akan menjadi perhatian penting. Perkembangan pendapatan, struktur biaya, serta pergerakan saham pada periode berikutnya perlu terus dicermati sebelum investor menentukan strategi terhadap saham GGRM.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.