Sabtu, 31 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Hilirisasi Dorong Investasi Nasional Tembus Rp1.010,6 T

Oleh Jaya Purnama · 31/10/2026 · 3:43 pm
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Jakarta, hilirisasi semakin memperkuat kontribusinya terhadap investasi nasional selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut juga menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa sektor hilirisasi kini menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi nasional. Angka tersebut meningkat dibandingkan kontribusi sebelumnya yang berada di kisaran 25 persen.

Rosan menyampaikan perkembangan tersebut kepada Presiden Prabowo dalam acara groundbreaking dan komersialisasi 11 ekosistem hilirisasi nikel serta ekspor perdana baterai kendaraan listrik. Kegiatan itu berlangsung di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurut Rosan, peningkatan kontribusi hilirisasi menunjukkan perubahan penting dalam struktur investasi Indonesia. Selain mendorong pertumbuhan nilai investasi, program tersebut juga memperluas kegiatan industri pengolahan dan membuka peluang ekonomi di berbagai daerah.

Hilirisasi Meningkatkan Kontribusi Investasi Nasional

Rosan melaporkan realisasi investasi semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Pertumbuhan sebesar 7,2 persen mencerminkan peningkatan aktivitas penanaman modal dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga menyoroti peningkatan porsi investasi hilirisasi. Jika sebelumnya sektor ini menyumbang sekitar 25 persen, kontribusinya kini mencapai kurang lebih 30 persen dari keseluruhan investasi yang masuk ke Indonesia.

“Memang investasi di semester pertama 2026 ini, alhamdulillah mencapai realisasi investasi Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dan menyerap lebih dari 1,4 juta orang,” kata Rosan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa peningkatan tersebut berjalan seiring dengan penguatan program pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Dengan demikian, investasi tidak hanya mengejar peningkatan nilai modal, tetapi juga memperbesar aktivitas produksi yang menghasilkan produk bernilai tambah.

“Dari total investasi tersebut, angka hilirisasi meningkat, Bapak. Dalam dua tahun terakhir ini, kontribusi hilirisasi dari 25% sudah mencapai 30% dari total investasi yang masuk,” ujar Rosan.

Selain hilirisasi, sejumlah sektor usaha lain turut menopang realisasi investasi nasional. Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya menempati posisi dominan dalam komposisi investasi semester pertama 2026.

Selanjutnya, sektor Jasa Lainnya dan Pertambangan turut memberikan kontribusi. Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi juga masuk dalam kelompok sektor dengan realisasi investasi besar. Sementara itu, sektor Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran melengkapi daftar sektor utama.

Investasi Hilirisasi Semakin Menyebar ke Luar Jawa

Salah satu perkembangan penting dari program hilirisasi terlihat pada persebaran investasi antardaerah. Rosan menyebut lebih dari 75 persen realisasi investasi berlangsung di luar Pulau Jawa.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan penanaman modal semakin berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, pembangunan fasilitas pengolahan mineral ikut mendorong aktivitas ekonomi di daerah yang memiliki sumber daya alam.

“Dan lebih dari 75% terealisasi di luar Jawa, Bapak Presiden. Kita melihat hilirisasi ini akan terus meningkat ke depannya,” kata Rosan.

Penyebaran investasi tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Sebab, aktivitas industri yang tumbuh di luar Jawa berpotensi memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kegiatan usaha di sekitar kawasan industri.

Maluku Utara menjadi salah satu contoh perkembangan tersebut. Wilayah yang sebelumnya lebih dikenal sebagai daerah penghasil tambang kini berkembang menjadi salah satu pusat industri pengolahan nasional.

Perubahan itu terlihat dari bertambahnya kegiatan pengolahan mineral dan berkembangnya ekosistem industri nikel. Kawasan industri di wilayah tersebut tidak hanya menjalankan kegiatan pertambangan, tetapi juga mengolah bahan mineral menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Produk Olahan Nikel Semakin Beragam

Perkembangan hilirisasi di Maluku Utara juga terlihat dari perubahan jenis produk yang dihasilkan. Ekspor daerah tersebut kini tidak lagi hanya bertumpu pada bijih mineral mentah.

Industri pengolahan mulai menghasilkan berbagai produk turunan nikel. Produk tersebut mencakup feronikel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulfate hingga cobalt.

Keragaman produk tersebut memperlihatkan perkembangan rantai pengolahan mineral di dalam negeri. Selain meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, proses tersebut membuka peluang pengembangan industri lanjutan yang membutuhkan bahan baku hasil pengolahan.

Feronikel dan nickel matte menjadi bagian dari produk pengolahan nikel. Sementara itu, MHP dan nickel sulfate merupakan material yang berkaitan dengan rantai pasok industri baterai. Cobalt juga menjadi salah satu produk mineral yang memiliki peran dalam ekosistem baterai.

Karena itu, pengembangan industri hilir nikel memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan industri kendaraan listrik. Ketersediaan produk olahan di dalam negeri dapat memperkuat keterhubungan antara sektor pertambangan, pengolahan mineral, dan manufaktur.

Ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan industri Weda Bay turut menandai perkembangan ekosistem tersebut. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan groundbreaking dan komersialisasi 11 ekosistem hilirisasi nikel pada 8 Oktober 2026.

Hilirisasi Membuka Peluang Ekonomi Daerah

Peningkatan investasi di luar Jawa memberikan gambaran mengenai perubahan arah pembangunan industri. Daerah penghasil mineral memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah.

Melalui pengolahan di dalam negeri, kegiatan industri dapat menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja, layanan transportasi, pergudangan, serta berbagai jasa pendukung lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan kawasan industri berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Realisasi investasi semester pertama 2026 yang menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja memperlihatkan besarnya aktivitas ekonomi yang berjalan selama periode tersebut. Namun, data tersebut merupakan capaian investasi nasional secara keseluruhan dan bukan khusus kontribusi sektor hilirisasi.

Di sisi lain, peningkatan porsi hilirisasi dari sekitar 25 persen menjadi 30 persen memperlihatkan semakin besarnya peran sektor tersebut dalam struktur penanaman modal. Perkembangan ini juga memperkuat posisi industri pengolahan sebagai salah satu penggerak investasi.

Meski begitu, keberlanjutan pertumbuhan investasi tetap membutuhkan pengembangan ekosistem industri yang saling terhubung. Kegiatan pengolahan mineral, produksi material baterai, infrastruktur, dan transportasi memiliki peran masing-masing dalam mendukung rantai produksi.

Prospek Investasi Nasional dan Industri Hilirisasi

Rosan melihat kontribusi hilirisasi masih berpeluang meningkat pada periode berikutnya. Pernyataan tersebut sejalan dengan perkembangan proyek pengolahan mineral dan perluasan kegiatan industri di sejumlah wilayah Indonesia.

Capaian investasi Rp1.010,6 triliun pada semester pertama 2026 menjadi gambaran perkembangan penanaman modal nasional. Pertumbuhan 7,2 persen serta penyerapan lebih dari 1,4 juta tenaga kerja juga menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang tercatat selama periode tersebut.

Selanjutnya, peningkatan kontribusi hilirisasi hingga sekitar 30 persen menjadi indikator perubahan komposisi investasi. Sementara itu, realisasi lebih dari 75 persen di luar Jawa memperlihatkan persebaran modal yang semakin luas secara geografis.

Perkembangan Maluku Utara memberikan contoh bagaimana daerah penghasil mineral dapat memperluas kegiatan ekonomi melalui industri pengolahan. Ragam produk nikel dan ekspor perdana baterai kendaraan listrik menunjukkan perkembangan ekosistem industri yang semakin beragam.

Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi tidak hanya tercermin dari besarnya investasi yang masuk. Kemampuan industri menghasilkan produk bernilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong aktivitas ekonomi daerah juga menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut.

Dengan kontribusi yang terus meningkat, hilirisasi kini menempati posisi semakin penting dalam peta investasi Indonesia. Perkembangan proyek di Maluku Utara dan wilayah lainnya akan menjadi salah satu faktor yang menentukan kelanjutan pertumbuhan industri pengolahan nasional.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.