Daftar Isi 5 bagian
JayaPurnama.com – Surabaya, Jawa Timur, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan generasi muda agar mewaspadai berbagai jebakan finansial digital, termasuk judi daring dan pinjaman online ilegal. Kemudahan mengakses layanan keuangan melalui smartphone perlu diimbangi pemahaman yang memadai agar anak muda tidak terjebak masalah keuangan.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution menyampaikan peringatan tersebut saat mengisi kuliah umum di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jawa Timur, pada Minggu, 18 Oktober 2026. Ia menyoroti risiko penggunaan produk keuangan digital yang dapat memicu kebiasaan belanja impulsif, pinjaman bermasalah, hingga perjudian daring.
Menurut Farid, masyarakat kini semakin mudah mengakses berbagai layanan keuangan melalui perangkat digital. Namun, kemudahan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko dan mengambil keputusan finansial secara bijak.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan tingkat literasi keuangan Indonesia mencapai 69,5 persen. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan berada pada angka 93,6 persen. Perbedaan tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan pemahaman masyarakat dalam memanfaatkannya.
LPS Soroti Risiko Finansial Digital bagi Generasi Muda
Farid menilai generasi muda membutuhkan bekal pengetahuan keuangan yang kuat untuk menghadapi perkembangan layanan digital. Sebab, akses yang semakin mudah dapat mendorong seseorang mengambil keputusan secara spontan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial dan dampak jangka panjangnya.
Belanja impulsif menjadi salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian. Kemudahan transaksi melalui aplikasi dapat membuat seseorang membeli barang di luar kebutuhan. Jika kebiasaan tersebut terus berulang, pengeluaran bulanan bisa meningkat dan mengurangi kemampuan untuk menabung.
Selain itu, pinjaman online ilegal juga menimbulkan risiko bagi masyarakat yang membutuhkan dana cepat. Generasi muda perlu memeriksa legalitas penyedia layanan, memahami ketentuan pinjaman, serta mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum mengambil keputusan.
Karena itu, Farid mendorong mahasiswa agar mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Kemampuan tersebut menjadi dasar penting dalam mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, dan menjaga kondisi keuangan tetap sehat.
Judi Daring dan Taruhan Olahraga Jadi Perhatian
Selain pinjaman online ilegal, LPS menyoroti risiko judi daring yang menyasar generasi muda, khususnya Generasi Z. Salah satu bentuk aktivitas yang perlu diwaspadai ialah taruhan olahraga atau sport betting, yang dapat membuat seseorang menganggap perjudian sebagai cara memperoleh keuntungan finansial.
Farid merujuk data Bloomberg yang menunjukkan 52 persen responden pernah mengalihkan dana investasinya ke taruhan olahraga. Selain itu, sebanyak 26 persen responden menganggap aktivitas tersebut sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Angka tersebut menunjukkan adanya risiko ketika seseorang mencampuradukkan aktivitas perjudian dengan pengelolaan investasi. Padahal, taruhan olahraga mengandung risiko kehilangan uang dan tidak memberikan kepastian keuntungan.
Oleh karena itu, generasi muda perlu memahami perbedaan antara investasi dan perjudian. Investasi memerlukan pertimbangan terhadap tujuan, risiko, jangka waktu, serta kondisi keuangan. Sebaliknya, taruhan dapat menguras dana ketika seseorang terus mengejar kerugian atau berharap memperoleh keuntungan dalam waktu singkat.
Di sisi lain, pemahaman tentang risiko keuangan juga membantu mahasiswa mengenali penawaran yang menjanjikan keuntungan besar secara instan. Sikap kritis terhadap promosi digital dapat mengurangi kemungkinan mereka mengambil keputusan yang merugikan.
LPS Dorong Kebiasaan Menabung Sejak Dini
Untuk memperkuat ketahanan finansial, Farid mendorong generasi muda menerapkan prinsip Sisihkan, Bukan Sisakan. Melalui prinsip ini, seseorang menyisihkan sebagian pendapatan atau uang saku sejak awal, bukan menunggu sampai seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi.
Kebiasaan tersebut membantu mahasiswa membangun tabungan secara rutin. Selain itu, dana yang terkumpul dapat menjadi cadangan untuk menghadapi kebutuhan mendadak dan mendukung rencana keuangan pada masa mendatang.
Mahasiswa dapat memulai kebiasaan ini dengan menetapkan jumlah tabungan sesuai kemampuan. Selanjutnya, mereka bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran agar mengetahui aliran uang setiap bulan.
Berikut beberapa langkah yang dapat membantu generasi muda menjaga kesehatan keuangan:
- Sisihkan uang sejak awal. Tentukan bagian pendapatan atau uang saku untuk tabungan sebelum membelanjakan sisanya.
- Bedakan kebutuhan dan keinginan. Dahulukan kebutuhan pokok serta kewajiban keuangan sebelum membeli barang tambahan.
- Periksa legalitas layanan keuangan. Pastikan penyedia pinjaman memiliki izin yang sesuai sebelum menggunakan layanannya.
- Hindari judi daring. Jangan menganggap taruhan sebagai pengganti investasi atau sumber pendapatan yang pasti.
- Catat transaksi secara rutin. Pantau pengeluaran agar kebiasaan belanja impulsif tidak mengganggu anggaran.
Dengan menerapkan langkah tersebut secara konsisten, mahasiswa dapat membangun kebiasaan finansial yang lebih terarah. Selain itu, mereka dapat menyiapkan dana darurat tanpa mengabaikan kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan dan Relasi Positif sebagai Investasi Jangka Panjang
Farid juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya berfokus pada tabungan dalam bentuk uang. Menurutnya, peningkatan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan perluasan relasi positif turut menjadi investasi jangka panjang yang mendukung kemandirian finansial.
Pengetahuan membantu mahasiswa memahami berbagai pilihan keuangan dan menilai risiko secara lebih rasional. Sementara itu, karakter yang kuat dapat mendukung kedisiplinan dalam mengelola uang serta membantu seseorang menahan dorongan untuk berbelanja secara berlebihan.
Selain itu, relasi positif dapat membuka peluang untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan memperluas wawasan mengenai dunia kerja maupun usaha. Dengan demikian, investasi pada diri sendiri dapat melengkapi upaya membangun tabungan dan mengelola keuangan secara sehat.
Farid menilai penguatan literasi keuangan sejak dini penting agar mahasiswa mampu menghadapi berbagai risiko finansial digital. Pemahaman tersebut juga membantu mereka merencanakan masa depan dengan mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan jangka panjang.
LPS dan Unesa Jalin Kerja Sama Pengembangan Kompetensi
Dalam kesempatan yang sama, LPS dan Unesa menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Pengembangan Kompetensi, Penelitian dan Sosialisasi terkait Fungsi, Tugas dan Wewenang LPS.
Kerja sama tersebut mencakup peningkatan kompetensi mahasiswa dan dosen. Selain itu, kedua pihak mendorong pengenalan fungsi serta kewenangan LPS kepada lingkungan kampus.
Melalui kolaborasi ini, Farid berharap mahasiswa semakin memahami pengelolaan keuangan yang sehat sekaligus mengenal peran LPS. Pemahaman tersebut diharapkan membantu mereka menghadapi risiko finansial digital dan mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak.
Pada akhirnya, tingginya akses terhadap layanan keuangan perlu berjalan seiring dengan peningkatan literasi. Generasi muda tidak cukup hanya mampu menggunakan aplikasi keuangan, tetapi juga perlu memahami risiko, menjaga disiplin pengeluaran, dan membangun kebiasaan menabung.
Dengan pengetahuan yang memadai serta kebiasaan finansial yang sehat, mahasiswa dapat mengurangi risiko terjebak pinjaman online ilegal, belanja impulsif, dan judi daring. Langkah tersebut menjadi bekal penting untuk membangun kemandirian ekonomi pada masa mendatang.




