Selasa, 20 Oktober 2026Berita Seputar Informasi Terkini
Jaya Purnama
Berita Seputar Informasi Terkini

BNPB Uji Dry Ice untuk Mengurangi Asap Karhutla, Seberapa Efektif Metode Ini?

Oleh Jaya Purnama · 19/10/2026 · 6:20 pm
BNPB Uji Dry Ice untuk Mengurangi Asap Karhutla, Seberapa Efektif Metode Ini?
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menguji metode penyemaian dry ice atau es kering untuk membantu mengurangi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Metode ini menargetkan kondisi atmosfer yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan Bumi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa penggunaan es kering masih menjalani pengujian dan evaluasi. Para peneliti ingin mengetahui apakah bahan bersuhu sangat rendah tersebut mampu memengaruhi kestabilan atmosfer, terutama lapisan inversi suhu yang menghambat pergerakan udara ke atas.

Namun, masyarakat tidak bisa langsung menganggap metode ini sebagai solusi pasti untuk mengatasi kabut asap. Efektivitasnya bergantung pada kondisi atmosfer saat operasi berlangsung. Karena itu, BRIN menekankan pentingnya pengamatan dan analisis data untuk membuktikan apakah penyemaian dry ice benar-benar menghasilkan perubahan yang berarti.

Mengapa Asap Karhutla Bisa Terperangkap di Dekat Permukaan?

Ketebalan kabut asap akibat karhutla tidak hanya bergantung pada luas dan intensitas kebakaran. Kondisi atmosfer juga menentukan seberapa mudah asap bergerak dan menyebar. Salah satu faktor penting dalam fenomena ini ialah inversi suhu atmosfer.

Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara cenderung menurun ketika ketinggian bertambah. Perbedaan suhu tersebut memungkinkan udara hangat di dekat permukaan naik melalui proses konveksi. Selanjutnya, pergerakan udara ini dapat mendukung pertumbuhan awan apabila kelembapan dan kondisi atmosfer lainnya memenuhi persyaratan.

Sebaliknya, inversi suhu terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat berada di atas lapisan udara yang lebih dingin. Susunan ini membatasi pergerakan vertikal udara sehingga asap lebih sulit naik dan dapat terkumpul di dekat permukaan.

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menjelaskan bahwa lapisan inversi dapat bertindak seperti penutup atmosfer. Kondisi tersebut tidak hanya menahan asap, tetapi juga menghambat perkembangan awan hujan.

Heru menjelaskan, lapisan inversi membuat udara sulit bergerak ke atas. Akibatnya, asap kebakaran berpotensi semakin terkonsentrasi di dekat permukaan, sementara kestabilan atmosfer mengurangi peluang pertumbuhan awan yang mendukung hujan.

Oleh karena itu, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi operasi modifikasi cuaca. Tim pelaksana perlu memahami struktur atmosfer terlebih dahulu agar dapat menilai pendekatan yang sesuai dengan situasi di lapangan.

Cara Kerja Dry Ice untuk Mengatasi Inversi Suhu

BNPB bersama lembaga terkait mulai menguji penyemaian dry ice untuk mengetahui kemungkinan perubahan kondisi termal pada lapisan inversi. Pendekatan ini berbeda dari penyemaian awan konvensional yang bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan pada awan yang memenuhi persyaratan.

Dry ice atau es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat. Bahan ini memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika menerima panas dari lingkungan, dry ice mengalami sublimasi, yaitu perubahan langsung dari fase padat menjadi gas tanpa melalui fase cair.

Secara konseptual, proses tersebut dapat menimbulkan pendinginan lokal di sekitar lokasi pelepasan. Para peneliti kemudian menguji apakah perubahan suhu itu dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan pencampuran udara secara vertikal.

Jika perubahan kondisi udara cukup besar dan lingkungan atmosfer mendukung, lapisan inversi berpotensi melemah. Dengan demikian, udara mungkin dapat bergerak lebih bebas dan membuka peluang bagi pertumbuhan awan.

Meski begitu, Heru menegaskan bahwa mekanisme tersebut masih berupa hipotesis ilmiah. Peneliti perlu menguji apakah pendinginan lokal benar-benar mampu menghasilkan perubahan yang cukup kuat untuk memengaruhi kestabilan atmosfer.

Selain itu, lapisan inversi dapat membentang pada wilayah yang luas dan memiliki tingkat kestabilan berbeda-beda. Karena itu, perubahan suhu di satu titik belum tentu mampu mengubah struktur atmosfer pada area terdampak secara keseluruhan.

Seberapa Efektif Dry Ice Mengurangi Asap Karhutla?

Hingga tahap pengujian ini, efektivitas penyemaian dry ice belum bisa dipastikan hanya berdasarkan teori pendinginan. Peneliti perlu membandingkan kondisi atmosfer sebelum dan sesudah operasi untuk mengetahui apakah metode tersebut menghasilkan perubahan yang terukur.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi hasil pengujian. Pertama, kekuatan dan ketebalan lapisan inversi menentukan seberapa besar hambatan terhadap pergerakan udara. Kedua, cakupan lapisan tersebut memengaruhi luas wilayah yang perlu mengalami perubahan kondisi termal.

Ketiga, kelembapan dan kestabilan atmosfer ikut menentukan peluang pertumbuhan awan. Oleh sebab itu, perubahan suhu saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa metode ini berhasil membantu proses pembentukan awan hujan.

Selanjutnya, tim peneliti perlu memastikan bahwa perubahan yang muncul memang berkaitan dengan operasi penyemaian. Pengamatan yang sistematis membantu mereka membedakan dampak operasi dari perubahan cuaca alami yang mungkin terjadi pada waktu bersamaan.

Dengan demikian, keberhasilan metode ini harus mengacu pada bukti pengamatan, bukan sekadar perkiraan mengenai cara kerja es kering. Hasil evaluasi nantinya dapat membantu menentukan kondisi atmosfer yang paling sesuai untuk pengujian lanjutan.

BRIN Analisis Data Suhu dan Kelembapan Atmosfer

Untuk mengevaluasi operasi tersebut, BRIN dapat menganalisis data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data ini membantu peneliti memahami struktur udara serta perubahan yang mungkin muncul selama penyemaian.

Pengamatan mencakup beberapa parameter penting, antara lain:

  • Profil suhu vertikal: menunjukkan perubahan suhu udara pada berbagai ketinggian.
  • Kelembapan udara: membantu peneliti menilai kondisi atmosfer yang mendukung atau menghambat pertumbuhan awan.
  • Ketinggian dan ketebalan inversi: menggambarkan posisi serta luas vertikal lapisan yang menghambat pergerakan udara.
  • Parameter kestabilan atmosfer: membantu menilai kecenderungan udara untuk bergerak secara vertikal.

Salah satu instrumen yang dapat mendukung analisis tersebut ialah radiosonde. Instrumen ini mengumpulkan informasi meteorologi, termasuk suhu dan kelembapan, pada berbagai ketinggian melalui pengamatan atmosfer.

Selain radiosonde, data suhu selama penerbangan juga dapat membantu mengidentifikasi lapisan inversi dan memperkirakan ketebalannya. Data tersebut memberikan gambaran tambahan mengenai struktur atmosfer di wilayah operasi.

Agar hasilnya lebih kuat, tim perlu mengumpulkan data sebelum, selama, dan sesudah penyemaian. Kemudian, peneliti dapat membandingkan setiap pengukuran untuk mengidentifikasi perubahan kondisi udara dan menilai kaitannya dengan pelaksanaan operasi.

Pengamatan Menentukan Keberhasilan Modifikasi Cuaca

Operasi modifikasi cuaca tidak selalu menghasilkan dampak yang sama di setiap wilayah. Kondisi atmosfer dapat berubah menurut waktu, lokasi, kelembapan, serta karakteristik lapisan udara. Karena itu, pendekatan yang berhasil dalam satu situasi belum tentu memberikan hasil serupa dalam situasi lain.

Dalam pengujian dry ice, pengamatan yang konsisten menjadi dasar untuk menentukan apakah metode tersebut layak mendukung upaya penanganan karhutla. Peneliti perlu melihat perubahan struktur suhu, pergerakan udara, dan perkembangan awan secara bersamaan.

Di sisi lain, pengurangan asap juga tidak hanya bergantung pada modifikasi cuaca. Penanganan sumber kebakaran tetap menjadi bagian penting dalam mengendalikan karhutla. Oleh karena itu, pengujian teknologi atmosfer perlu berjalan seiring dengan upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran.

Pada akhirnya, penyemaian dry ice menawarkan pendekatan yang masih perlu diuji melalui penelitian dan pengukuran lapangan. BRIN menekankan bahwa data atmosfer akan menentukan sejauh mana metode tersebut mampu memengaruhi lapisan inversi dan mendukung pertumbuhan awan.

Dengan evaluasi yang terukur, BNPB dan lembaga terkait dapat menilai manfaat, keterbatasan, serta kondisi penggunaan teknologi tersebut. Sampai hasil pengujian memberikan bukti yang memadai, masyarakat perlu memahami bahwa dry ice masih menjalani evaluasi dan belum menjadi solusi yang efektivitasnya telah dipastikan untuk mengatasi asap karhutla.

Tag: ·
Jaya Purnama

Curhat Tentang Pengalaman Hidup :)

Kode Referral Makmur Oktober 2026: Dapatkan Bonus Hingga 1,2jt dengan Mudah

Kode Referral Makmur Oktober 2026: Dapatkan Bonus Hingga 1,2jt dengan Mudah

Kunjungi Artikel