Daftar Isi 5 bagian
JayaPurnama.com – London, Inggris, Barclays berencana memangkas sekitar 5.000 posisi pekerjaan di tengah upaya modernisasi bisnis dan peningkatan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Bank asal Inggris tersebut memperkirakan pengurangan tenaga kerja akan berlanjut hingga akhir 2026, seiring program efisiensi yang menyasar berbagai bagian operasional perusahaan.
Melansir BBC pada Kamis (22/10), Barclays telah menutup sekitar 1.000 posisi. Selanjutnya, perusahaan memperkirakan pengurangan 4.000 posisi lainnya hingga akhir tahun ini. Total pemangkasan tersebut setara dengan sekitar 5 persen dari jumlah tenaga kerja global Barclays.
Langkah ini menambah perhatian terhadap dampak AI dan otomatisasi terhadap lapangan kerja di industri perbankan. Namun, Barclays menegaskan bahwa teknologi tersebut bukan satu-satunya penyebab pengurangan karyawan. Program modernisasi dan pengendalian biaya juga menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.
Barclays Pangkas 5.000 Karyawan hingga Akhir 2026
Barclays terutama akan memangkas pekerjaan pada unit perbankan ritel di Inggris. Meski demikian, sebagian fungsi pendukung untuk bisnis Inggris beroperasi di India. Karena itu, sebagian besar pekerja yang terdampak diperkirakan berasal dari negara tersebut.
Barclays menyatakan bahwa program modernisasi perusahaan telah berjalan selama beberapa waktu. Dalam program tersebut, perusahaan berinvestasi pada teknologi untuk menyederhanakan proses kerja, meningkatkan efisiensi, dan memperbaiki operasional bisnis.
CEO Barclays Group CS Venkatakrishnan mengatakan AI memiliki peran penting dalam strategi perusahaan. Ia juga memperkirakan teknologi tersebut akan semakin berpengaruh terhadap kegiatan bisnis pada masa mendatang.
“AI memiliki peran penting dan mungkin akan memiliki peran yang lebih penting di masa depan. Kami akan menggunakan AI dalam skala besar,” kata Venkatakrishnan.
Meski begitu, Venkatakrishnan mengingatkan bahwa penerapan AI membutuhkan fondasi teknologi yang memadai. Perusahaan harus membangun infrastruktur terlebih dahulu sebelum memperoleh manfaat maksimal dari teknologi tersebut.
“AI adalah lapisan gula di atas kue, bukan kuenya. Karena Anda perlu membangun infrastrukturnya untuk mendapatkan manfaat dari AI,” ujarnya.
Fungsi Pendukung Ikut Terdampak
Menurut Barclays, sekitar 60 persen posisi yang terdampak pemangkasan berasal dari fungsi pendukung. Kelompok tersebut mencakup sejumlah pekerjaan teknis, termasuk pengembang perangkat lunak atau developer.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa program efisiensi perbankan tidak hanya menyasar pekerjaan administratif. Selain itu, fungsi teknologi dan pendukung operasional juga menghadapi perubahan ketika perusahaan mengintegrasikan sistem digital ke dalam proses bisnis.
Namun, pengurangan pekerjaan tidak serta-merta membuktikan bahwa AI telah menggantikan seluruh tugas karyawan yang terdampak. Barclays sendiri menempatkan teknologi sebagai salah satu unsur modernisasi, bersama langkah pengendalian biaya dan penataan operasional.
Di sisi lain, perkembangan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan. Perusahaan perlu mempertimbangkan bagaimana karyawan dapat beradaptasi ketika sistem otomatis mengambil alih sebagian tugas rutin.
AI Memicu Perubahan di Industri Perbankan
Barclays bukan satu-satunya bank yang menghadapi perubahan tenaga kerja di tengah perkembangan AI. HSBC, Standard Chartered, dan Danske Bank juga telah mengungkap rencana pengurangan pekerjaan yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi tersebut pada 2026.
Analis investasi AJ Bell, Russ Mould, menilai AI kini menjadi perhatian besar bagi industri perbankan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa bank masih perlu mempertimbangkan keamanan sistem dan kualitas pelayanan nasabah sebelum memperluas penerapan AI.
“Ini adalah topik yang sangat diperhatikan,” kata Mould.
Mould juga menekankan pentingnya pengendalian biaya operasional bagi perusahaan. Menurutnya, bisnis perlu menjaga pengeluaran agar tetap terkendali, terlepas dari perubahan teknologi yang sedang berlangsung.
“Perusahaan mana pun, kapan pun, perlu menjaga agar basis biayanya tetap terkendali,” ujarnya.
Dengan demikian, keputusan pengurangan tenaga kerja di sektor perbankan perlu dilihat dari beberapa faktor sekaligus. Investasi teknologi, kebutuhan efisiensi, keamanan layanan, dan kondisi keuangan perusahaan turut memengaruhi arah kebijakan masing-masing bank.
Serikat Pekerja Kritik Pendekatan Barclays
Rencana pemangkasan tersebut mendapat kritik dari Unite, serikat pekerja yang mewakili pekerja sektor perbankan di Inggris. Organisasi itu menilai Barclays terlalu mengandalkan alasan efisiensi dan perkembangan AI untuk membenarkan pengurangan tenaga kerja.
Sekretaris Jenderal Unite, Sharon Graham, mendorong perusahaan agar lebih berfokus pada peningkatan keterampilan karyawan. Menurutnya, pelatihan dapat membantu pekerja menyesuaikan diri ketika teknologi baru mengubah proses dan kebutuhan pekerjaan.
“Pemberi kerja seharusnya berfokus pada peningkatan keterampilan karyawan sehingga mereka tetap bekerja ketika teknologi baru mengubah tempat kerja. Sebaliknya, Barclays bersalah karena mengambil pendekatan jangka pendek dan reaktif,” kata Graham.
Pandangan tersebut menyoroti tantangan perusahaan dalam menyeimbangkan efisiensi dengan perlindungan tenaga kerja. Di satu sisi, otomatisasi dapat membantu menekan biaya dan mempercepat proses bisnis. Di sisi lain, perubahan tersebut dapat mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah posisi apabila perusahaan tidak menyiapkan strategi transisi yang memadai.
Target Penghematan Capai £1,1 Miliar pada 2027
Pemangkasan karyawan berlangsung ketika Barclays memasuki tahap akhir program penghematan biaya selama tiga tahun. Program tersebut terutama berfokus pada bisnis perbankan ritel Inggris, meskipun divisi perbankan investasi juga mengalami dampak dari upaya efisiensi.
Dari sisi kinerja keuangan, Barclays mencatat laba sebesar 2,3 miliar pound sterling untuk periode tiga bulan hingga September. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp55,61 triliun berdasarkan kurs Rp24.180 per pound sterling.
Laba itu meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, hasil tersebut masih sedikit di bawah ekspektasi pasar, sehingga penghematan biaya dan investasi teknologi belum sepenuhnya menjawab seluruh harapan investor terhadap kinerja perusahaan.
Analis sektor keuangan Quilter Cheviot, Will Howlett, menilai industri perbankan semakin dekat dengan tahap ketika investasi teknologi menghasilkan kebutuhan tenaga kerja yang lebih sedikit untuk menjalankan operasional.
“Bank telah mengeluarkan banyak biaya untuk teknologi selama bertahun-tahun. Namun, kita semakin mendekati titik ketika investasi tersebut menghasilkan kebutuhan tenaga kerja yang lebih sedikit untuk menjalankan bisnis,” kata Howlett.
Barclays memperkirakan program efisiensinya akan menghasilkan tambahan penghematan sebesar 1,1 miliar pound sterling pada 2027. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp26,6 triliun berdasarkan estimasi nilai rupiah dalam bahan informasi.
Pada akhirnya, langkah Barclays menunjukkan bahwa transformasi digital di industri perbankan tidak hanya berkaitan dengan penerapan teknologi baru. Perusahaan juga harus menentukan cara mengelola biaya, menjaga kualitas layanan, dan menyiapkan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan operasional.
Bagi pekerja sektor keuangan, perkembangan ini menjadi pengingat pentingnya meningkatkan keterampilan digital dan kemampuan beradaptasi. Sementara itu, besarnya dampak AI terhadap lapangan kerja akan bergantung pada cara setiap perusahaan menerapkan teknologi, menyusun ulang proses bisnis, dan mengelola kebutuhan karyawannya.




