Sabtu, 24 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Ornamen Sunda di Sukajadi Bandung Tuai Pro dan Kontra

Oleh Jaya Purnama · 24/10/2026 · 2:19 pm
Ornamen Sunda di Sukajadi Bandung Tuai Pro dan Kontra
Dukung
Daftar Isi 4 bagian

JayaPurnama.com – Bandung, Jawa Barat, ornamen bernuansa budaya Sunda yang menghiasi trotoar Jalan Sukajadi menjadi perbincangan setelah viral di media sosial. Kehadiran elemen dekoratif tersebut memunculkan beragam tanggapan dari warga, mulai dari pujian atas keindahan kota hingga pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan karakter Bandung.

Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Jumat (23/10/2026), terdapat sepuluh tiang besi yang menghiasi sepanjang trotoar Jalan Sukajadi. Tiang-tiang itu menampilkan ukiran khas Sunda di bagian atas, sedangkan bagian bawahnya menyerupai candi bentar yang tersusun dari batu bata merah.

Perubahan tampilan trotoar tersebut menghadirkan diskusi mengenai identitas budaya dalam penataan ruang perkotaan. Sebagian warga menyambutnya sebagai upaya memperkuat ciri khas Sunda. Namun, warga lainnya menilai desain tradisional itu terasa berbeda dari citra Bandung yang selama ini mereka kenal melalui bangunan bergaya Eropa.

Ornamen Sunda di Sukajadi Perkuat Identitas Kota

Husein Malawat (46), seorang pemotor yang melintas di Jalan Sukajadi, menyambut positif kehadiran ornamen tersebut. Ia menilai elemen dekoratif itu menghadirkan perpaduan menarik antara budaya Sunda dan modernitas dalam penataan kota.

Husein yang telah tinggal selama enam tahun di Bandung memandang ornamen tersebut sebagai salah satu cara menghadirkan kembali unsur budaya lokal di ruang publik. Menurutnya, keberadaan elemen tradisional tidak menjadi masalah selama masyarakat tetap merasa nyaman.

“Bagus aja. Ini kan untuk tata kota,” katanya saat berbincang dengan Kompas.com di lokasi.

Selain mendukung penataan tersebut, Husein berharap pemerintah atau pihak terkait menjaga kondisi ornamen agar tetap terawat. Ia menganggap unsur budaya lokal memiliki nilai identitas yang patut mendapat perhatian dalam pengembangan kota.

“Yang jadi kendalanya, jangan sampai rusak aja. Ini juga kan identitas Sunda. Malah buat saya banyak kayak gini makin bagus,” tutur Husein.

Pandangan serupa datang dari Naufal Faturohman (24). Ia tidak mempermasalahkan desain tradisional tersebut selama ornamen tidak mengganggu aktivitas pejalan kaki dan tetap memberikan manfaat bagi keindahan lingkungan.

“Menurut aku mah asal nggak menggangu pejalan kaki, dan bermanfaat untuk keindahan kota ya nggak apa-apa,” terangnya.

Naufal juga melihat perpaduan unsur tradisional dan modern sebagai daya tarik tersendiri. Baginya, ornamen tersebut menghadirkan variasi visual yang dapat memperkaya tampilan ruang publik di Bandung.

Desain Tradisional Terasa Asing bagi Sebagian Warga

Di sisi lain, tidak semua warga langsung merasa cocok dengan tampilan baru trotoar Jalan Sukajadi. Hani Suhartini (26), warga Cibogo, Sarijadi, menilai kawasan tersebut terlihat lebih rapi dan tertata. Meski begitu, ia merasa ornamen tradisional itu berbeda dari citra arsitektur Bandung yang selama ini melekat dalam ingatannya.

Hani membandingkan desain tersebut dengan bangunan bergaya Eropa yang dapat ditemukan di sejumlah kawasan bersejarah Bandung, termasuk Jalan Asia-Afrika. Perbedaan gaya visual itu membuat ornamen bernuansa Sunda terasa asing baginya.

“Sebenernya bagus rapih. Lebih tertata, cuma kayak bukan Bandung. Kayak bangunan Bandung mah Eropa-eropa gitu, kayak di Jalan Asia-Afrika,” ujar Hani.

Namun, Hani tidak sepenuhnya menolak perubahan tersebut. Ia mengakui bahwa ornamen itu menghadirkan suasana baru bagi kota. Menurutnya, masyarakat mungkin membutuhkan waktu untuk mengenali dan menerima tampilan yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya.

“Tapi bagus juga suasana baru. Untuk warga Bandung agak asing. Mungkin belum terbiasa, tapi kedepannya mungkin oke-oke aja,” jelasnya.

Perbedaan tanggapan ini memperlihatkan bahwa penilaian terhadap desain ruang publik tidak hanya berkaitan dengan keindahan. Pengalaman warga, ingatan terhadap karakter kota, serta kebiasaan melihat lingkungan tertentu turut memengaruhi penerimaan terhadap perubahan visual.

Penertiban PKL Membuat Trotoar Lebih Lega

Selain membahas ornamen, Hani menyoroti perubahan fungsi trotoar Jalan Sukajadi setelah penertiban pedagang kaki lima (PKL). Ia mengapresiasi langkah tersebut karena pejalan kaki kini memiliki ruang yang lebih leluasa untuk melintas.

Menurut Hani, keberadaan trotoar yang lebih lapang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang berjalan kaki. Karena itu, penataan kawasan tidak hanya berkaitan dengan tampilan visual, tetapi juga perlu memperhatikan kenyamanan pengguna ruang publik.

“Penertiban PKL-nya yang dulu ada di Sukajadi itu mah bagus. Sebagai pejalan kaki ya jadi lebih leluasa jalannya,” pungkas Hani.

Apresiasi tersebut menambah dimensi lain dalam pembahasan penataan Jalan Sukajadi. Ornamen yang menarik perhatian dapat memperkuat karakter visual kawasan, sementara trotoar yang lapang membantu mendukung mobilitas pejalan kaki.

Perpaduan Budaya dan Kenyamanan Jadi Perhatian

Perbincangan mengenai ornamen Sunda di Jalan Sukajadi menunjukkan adanya beragam harapan masyarakat terhadap wajah Kota Bandung. Sebagian warga menginginkan ruang publik yang menonjolkan identitas budaya lokal. Sementara itu, warga lainnya mempertimbangkan kesesuaian desain dengan karakter arsitektur yang telah lama mereka kenal.

Meski memiliki pandangan berbeda, sejumlah warga tetap menempatkan kenyamanan sebagai pertimbangan penting. Ornamen perlu mendukung keindahan kawasan tanpa menghambat aktivitas masyarakat, terutama pengguna trotoar.

Selain itu, perawatan menjadi aspek yang tidak kalah penting. Ornamen yang mencerminkan budaya Sunda membutuhkan pemeliharaan agar tetap menarik dan dapat bertahan sebagai bagian dari wajah kota.

Pada akhirnya, penerimaan terhadap ornamen tersebut dapat berkembang seiring waktu dan pengalaman masyarakat. Perubahan ini juga membuka ruang diskusi mengenai cara menghadirkan warisan budaya Sunda di tengah perkembangan perkotaan tanpa mengabaikan fungsi utama fasilitas publik.

Tag: ·
Jaya Purnama

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)

Kode Referal Kredivo Terbaru 2026 Dapat Points sampai Rp 125 Ribu

Kode Referal Kredivo Terbaru 2026 Dapat Points sampai Rp 125 Ribu

Kunjungi Artikel