Senin, 2 November 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Mu’ti Soroti Bahasa Indonesia di Ruang Publik Bandara

Dukung
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Tangerang, Banten, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti dominasi penggunaan bahasa Inggris di ruang publik Indonesia. Salah satu perhatian utamanya adalah papan informasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang menurutnya lebih banyak menampilkan tulisan berbahasa Inggris.

Mu’ti menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena bandara internasional merupakan pintu masuk Indonesia bagi pengunjung dari berbagai negara. Menurutnya, kawasan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat internasional.

Pernyataan itu sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kedudukan bahasa nasional di tengah perkembangan globalisasi. Penguasaan bahasa asing memang diperlukan, tetapi masyarakat tetap perlu menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di negeri sendiri.

Mu’ti menyampaikan pandangan tersebut dalam kegiatan bertema Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat. Ia menekankan bahwa penggunaan bahasa nasional perlu mendapat perhatian lebih besar, terutama di fasilitas publik dan lingkungan pemerintahan.

Mu’ti Soroti Bahasa Indonesia di Ruang Publik

Mu’ti mengaku sering menemukan papan informasi berbahasa Inggris yang lebih dominan ketika berkunjung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Padahal, menurutnya, bandara tersebut memiliki posisi penting sebagai gerbang kedatangan wisatawan dan pengunjung mancanegara.

Dalam pernyataannya yang dikutip Medcom.id pada Kamis, 29 Oktober 2026, Mu’ti menyampaikan pengalamannya ketika melihat penggunaan bahasa di bandara tersebut.

“Saya setiap kali ke bandara, terutama bandara internasional Soekarno-Hatta, lebih banyak saya temukan tulisan dalam bahasa Inggris daripada tulisan dalam bahasa Indonesia. Padahal itu adalah pintu gerbang Indonesia,” ujar Mu’ti.

Selain di bandara, ia juga menyoroti kebiasaan penggunaan istilah asing dalam berbagai fasilitas dan kegiatan resmi. Menurutnya, kecenderungan tersebut terlihat di sejumlah ruang publik, termasuk lingkungan lembaga pemerintahan dan lembaga negara.

Mu’ti menilai masyarakat perlu meningkatkan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Penggunaan istilah asing sebaiknya tidak menggeser padanan bahasa nasional yang sudah tersedia dan dapat digunakan secara tepat.

Ia juga mengingatkan bahwa kedaulatan bahasa memiliki hubungan dengan identitas bangsa. Karena itu, lembaga pemerintah perlu memberikan contoh melalui penggunaan bahasa Indonesia secara baik dalam komunikasi resmi maupun pelayanan publik.

Bahasa Asing Tetap Penting, tetapi Bahasa Nasional Harus Diutamakan

Mu’ti menegaskan bahwa mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti masyarakat harus meninggalkan bahasa asing. Kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa internasional tetap memiliki peran penting dalam pendidikan, pekerjaan, hubungan antarnegara, dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Namun, kemampuan tersebut perlu berjalan seimbang dengan penghargaan terhadap bahasa nasional. Bahasa Indonesia harus menempati posisi utama dalam komunikasi di wilayah Indonesia sebelum masyarakat menggunakan bahasa lain, termasuk bahasa daerah.

Menurut Mu’ti, penggunaan bahasa Indonesia secara konsisten juga dapat memperkuat identitas nasional. Selain itu, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat memanfaatkan bahasa nasional sebagai sarana komunikasi bersama.

Karena itu, fasilitas publik seperti bandara memiliki peran strategis dalam menunjukkan kedudukan bahasa Indonesia. Pengelola fasilitas dapat memperhatikan penempatan bahasa nasional pada papan petunjuk, informasi layanan, dan berbagai materi komunikasi.

Penggunaan bahasa asing tetap dapat membantu pengunjung internasional memahami informasi. Meski begitu, penyajian bahasa Indonesia perlu mendapat tempat yang layak agar identitas nasional tetap terlihat.

Perbedaan Bahasa Generasi Muda Jadi Perhatian

Selain persoalan bahasa di ruang publik, Mu’ti turut membahas perubahan kebiasaan berkomunikasi di kalangan generasi muda. Ia memahami bahwa masyarakat tidak harus selalu menggunakan bahasa baku dalam percakapan sehari-hari.

Namun, perkembangan singkatan dan istilah baru terkadang menimbulkan kesulitan komunikasi antargenerasi. Perbedaan kebiasaan tersebut membuat sebagian orang tua kesulitan memahami pesan yang disampaikan anak muda.

Mu’ti bahkan mengaku sering mengalami situasi tersebut ketika berkomunikasi melalui WhatsApp dengan anak-anaknya maupun mahasiswa. Ia menemukan sejumlah singkatan yang tidak langsung dapat dipahaminya.

“Saya sering kalau berdialog dengan anak-anak saya dan juga mahasiswa saya, terutama kalau sedang ber-WA begitu, itu senantiasa menyebutkan itu bahasanya bapak-bapak. Saya sering kali tidak paham dengan singkatan-singkatan, apalagi kemudian singkatan-singkatan baru yang memang di sini sepertinya ada kesenjangan antar generasi,” tutur Mu’ti.

Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan bahasa yang berlangsung seiring perkembangan teknologi komunikasi. Media sosial dan aplikasi pesan instan turut mendorong munculnya singkatan serta istilah populer di kalangan anak muda.

Meski demikian, perbedaan gaya komunikasi tidak harus menjadi penghalang hubungan antargenerasi. Pemahaman terhadap perkembangan bahasa dapat membantu setiap kelompok usia membangun komunikasi yang lebih baik.

Indonesia Memiliki 729 Bahasa Daerah

Mu’ti juga mengingatkan masyarakat mengenai kekayaan bahasa daerah yang dimiliki Indonesia. Menurut data terakhir yang diterimanya dari Badan Bahasa, Indonesia memiliki 729 bahasa daerah.

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya keragaman bahasa yang tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Papua menjadi wilayah dengan jumlah bahasa daerah terbanyak berdasarkan data yang ia sampaikan.

“Kita punya kekayaan bahasa daerah yang mungkin terbanyak di dunia. Data terakhir yang kami terima dari Badan Bahasa, sekarang ada 729 bahasa daerah di seluruh Indonesia, dan yang paling banyak adalah dari Papua,” pungkas Mu’ti.

Keberadaan ratusan bahasa daerah tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia. Setiap bahasa memiliki nilai sejarah dan identitas yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat penuturnya.

Oleh karena itu, pelestarian bahasa Indonesia perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga bahasa daerah. Bahasa nasional berperan sebagai alat pemersatu, sementara bahasa daerah menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat setempat.

Kedaulatan Bahasa Perlu Dimulai dari Ruang Publik

Sorotan Mu’ti terhadap penggunaan bahasa di Bandara Soekarno-Hatta menjadi pengingat bahwa ruang publik memiliki peran dalam membangun kebanggaan terhadap bahasa nasional. Masyarakat dapat melihat kedudukan bahasa Indonesia melalui informasi yang tersedia di fasilitas umum.

Selain itu, lembaga pemerintah dan negara juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan penggunaan bahasa Indonesia secara tepat. Kebiasaan tersebut dapat memperkuat posisi bahasa nasional dalam berbagai kegiatan resmi.

Di sisi lain, masyarakat tetap perlu meningkatkan kemampuan bahasa asing agar mampu mengikuti perkembangan dunia. Namun, kemampuan tersebut tidak seharusnya mengurangi penghargaan terhadap bahasa sendiri.

Dengan demikian, upaya menjaga martabat bahasa Indonesia bukan berarti menutup diri dari bahasa lain. Sebaliknya, masyarakat dapat menguasai berbagai bahasa sekaligus mempertahankan identitas nasional dan menghargai keragaman bahasa daerah.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.