Perjalanan Try Sutrisno Menjadi Wakil Presiden RI

Jaya Purnama

Perjalanan Try Sutrisno Menjadi Wakil Presiden Ri
Ilustrasi: Perjalanan Try Sutrisno Menjadi Wakil Presiden Ri

Jayapurnama.com – Perjalanan Try Sutrisno menjadi Wakil Presiden RI berlangsung melalui jenjang militer yang panjang. Ia memulai karier sebagai perwira lapangan, lalu mendapat tugas yang mempertemukannya langsung dengan Presiden Soeharto. Kepercayaan itu tumbuh seiring waktu hingga Try mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden pada 1993.

Jalur tersebut tidak tampak jelas sejak awal. Try sudah bertahun-tahun bertugas di berbagai daerah sebelum menjadi ajudan presiden. Setelah itu, ia menempati sejumlah posisi penting di Angkatan Darat dan ABRI. Perjalanan kariernya memperlihatkan bagaimana pengalaman lapangan dan kedekatan dengan pusat kekuasaan beriringan dalam membentuk seorang pejabat tinggi.

Dari korps Zeni ke lingkungan istana

Try Sutrisno mengawali karier militernya pada 1960, ketika bergabung dengan kesatuan Zeni. Korps ini menangani pekerjaan rekonstruksi maupun penghancuran prasarana militer di medan perang. Tugas tersebut menempatkannya dalam pekerjaan teknis dan operasional, bukan langsung di lingkaran pimpinan nasional.

Penugasan awal Try berada di Palembang. Ia kemudian berpindah ke Jakarta, Bandung, dan sejumlah kota di Jawa Timur. Selama bertahun-tahun, pengalaman sebagai perwira lapangan menjadi bagian utama dalam perjalanan dinasnya. Masa tugas itu berlangsung hingga 1974.

Pada tahun tersebut, Try menerima penugasan sebagai ajudan Presiden Soeharto. Perubahan dari tugas lapangan ke lingkungan presiden menjadi titik penting dalam kariernya. Dalam autobiografi Soeharto, Pak Harto: The Untold Stories (2011), Try mengaku tidak menyangka akan mendapat tugas itu karena telah lama menjalani pekerjaan lapangan.

Peran ajudan membuat Try berada dekat dengan presiden selama empat tahun. Penugasan tersebut tidak serta-merta menjadikannya pemimpin militer tertinggi. Namun, kedekatan kerja itu membuat namanya semakin dikenal dan menjadi salah satu unsur dalam perjalanan kariernya berikutnya.

Karier militer yang terus menanjak

Setelah menyelesaikan tugas sebagai ajudan, Try kembali mengemban jabatan di lingkungan militer. Ia dipercaya menjadi Kepala Staf Kodam Udayana, kemudian menjabat Panglima Kodam Sriwijaya pada 1979. Pada 1982, ia memimpin Kodam Jakarta Raya.

Rangkaian jabatan tersebut membawanya ke tingkat pimpinan Angkatan Darat. Try sempat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat sebelum dipercaya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat atau KSAD. Perjalanan dari korps Zeni menuju posisi itu menjadi perhatian karena latar belakangnya berbeda dari sejumlah jalur karier militer lain.

Pengamat politik Salim Said menilai pengangkatan Try sebagai KSAD menunjukkan besarnya kepercayaan Soeharto. Dalam bukunya, Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), Salim juga mengaitkan keputusan tersebut dengan dukungan loyalitas Angkatan Darat kepada presiden.

Dengan demikian, jabatan KSAD bukan akhir dari kenaikan karier Try. Pada 1988, Soeharto mengangkatnya menjadi Panglima ABRI. Posisi ini menempatkan Try di puncak kepemimpinan angkatan bersenjata dan membuat namanya semakin sering disebut dalam pembicaraan mengenai calon wakil presiden.

Meski demikian, dugaan bahwa Try akan menjadi wakil presiden tidak terwujud pada tahun itu. Soeharto memilih Sudharmono untuk mendampinginya. Try tetap menjalankan tugas sebagai Panglima ABRI, sementara peluang menuju jabatan sipil tertinggi kedua di pemerintahan baru terbuka lima tahun kemudian.

Keputusan Soeharto pada 1993

Pada 1993, Try Sutrisno resmi diangkat menjadi Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia. Dalam proses pemilihan, ia mengungguli sejumlah nama yang diperhitungkan, termasuk Menteri Riset B.J. Habibie. Pengangkatan itu mengubah perjalanan seorang perwira yang pernah bertugas di lapangan menjadi pendamping presiden.

Menurut Salim Said, kedekatan Try dengan Soeharto menjadi salah satu pertimbangan penting. Soeharto telah mengenalnya sejak Try bertugas sebagai ajudan. Salim juga menggambarkan Try sebagai sosok yang hidup sederhana, tidak memiliki beban masa lalu, dan berpenampilan menarik.

Penjelasan lain datang dari sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2004). Menurut Ricklefs, kalangan dekat Soeharto turut mendorong pengangkatan Try. Mereka melihatnya sebagai figur yang berpotensi menjaga kesinambungan kepemimpinan jika Soeharto wafat.

Pada masa itu, usia Soeharto dinilai sudah lanjut. Try dianggap memiliki kapasitas serta legitimasi untuk melanjutkan roda kepemimpinan nasional. Pandangan tersebut memberi konteks pada keputusan 1993, meskipun kedekatan dan kepercayaan personal juga menjadi bagian penting dalam berbagai penilaian atas pengangkatannya.

Perjalanan Try menuju kursi wakil presiden karena itu tidak hanya berkaitan dengan satu jabatan atau satu keputusan. Pengalaman militer, sejumlah penugasan strategis, dan hubungan kerja yang telah berlangsung sejak 1974 bertemu dalam proses tersebut. Namun, penilaian tentang faktor yang paling menentukan tetap bergantung pada keterangan para pengamat dan sejarawan yang membahasnya.

Tugas sebagai wakil presiden hingga 1998

Selama menjabat wakil presiden, Try banyak mengurusi pengawasan pembangunan nasional. Peran tersebut melanjutkan tugasnya sebagai pendamping kepala negara, tetapi berbeda dari berbagai jabatan komando yang pernah ia jalani di militer. Ia mengemban jabatan itu sampai 1998.

Pada 1998, Try digantikan oleh B.J. Habibie. Dengan pergantian itu, masa tugasnya sebagai wakil presiden berakhir setelah lima tahun. Jalur kariernya yang panjang pun mencakup dua lingkungan berbeda: kepemimpinan militer dan pemerintahan nasional.

Kisah Try Sutrisno memperlihatkan perubahan besar dalam lingkup tanggung jawab seorang perwira. Ia memulai dinas dari kesatuan Zeni, menjalani tugas di berbagai daerah, lalu mendampingi Soeharto sebagai ajudan. Setelah itu, ia mencapai posisi tertinggi di ABRI sebelum menerima mandat sebagai wakil presiden.

Pengangkatannya pada 1993 sekaligus menandai hasil dari kepercayaan yang terbentuk selama bertahun-tahun. Kedekatan dengan presiden, pengalaman di jajaran militer, serta pertimbangan kesinambungan kepemimpinan muncul dalam penjelasan mengenai pilihan Soeharto. Pada akhirnya, mantan ajudan itu menjadi pendamping presiden dan menjalankan tugas hingga 1998.

Penulis:

Jaya Purnama

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Makmur Oktober 2026: Dapatkan Bonus Hingga 1,2jt dengan Mudah

Kode Referral Makmur Oktober 2026: Dapatkan Bonus Hingga 1,2jt dengan Mudah

Kunjungi Artikel