Pembiayaan BSI Tumbuh 16,21 Persen, Tembus Rp344 Triliun

Jaya Purnama

Pembiayaan Bsi Tumbuh 1621 Persen Tembus Rp344 Triliun
Ilustrasi: Pembiayaan Bsi Tumbuh 1621 Persen Tembus Rp344 Triliun

Jayapurnama.com – Pembiayaan BSI mencapai Rp344 triliun hingga Agustus 2026, naik 16,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. atau BRIS mencatat ekspansi pembiayaan itu seiring pertumbuhan dana pihak ketiga dan penguatan pendapatan berbasis jasa.

Di tengah pertumbuhan tersebut, perseroan menyebut kualitas pembiayaan tetap terjaga. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross berada di level 1,8 persen. Angka ini menjadi salah satu indikator yang disampaikan BSI dalam laporan kinerja hingga Agustus.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan bahwa perseroan mengoptimalkan likuiditas untuk mendukung ekspansi bisnis produktif. Menurut keterangan yang dikutip pada Selasa, 6 Oktober 2026, pertumbuhan pembiayaan berjalan bersama perhatian terhadap kualitas aset.

Pembiayaan BSI meningkat seiring penguatan dana

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BSI tumbuh 17,71 persen secara tahunan menjadi Rp389 triliun. Dana murah atau CASA tercatat sebesar Rp246 triliun. Perkembangan ini melengkapi ekspansi pembiayaan dan memberi gambaran tentang pertumbuhan pada sisi penghimpunan dana.

Dengan jumlah DPK yang meningkat, BSI memiliki basis pendanaan yang mendukung penyaluran pembiayaan. Namun, angka pertumbuhan kedua sisi tersebut tidak mengubah pentingnya menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kualitas. Perseroan melaporkan NPF gross 1,8 persen sebagai penanda kualitas pembiayaan yang dijaga.

CASA menjadi salah satu bagian dari strategi pendanaan BSI. Perseroan mencatat dana murah tersebut mencapai Rp246 triliun pada Agustus 2026. Dalam penjelasan mengenai kinerja, BSI juga menyebut penguatan CASA sebagai salah satu faktor yang menopang pertumbuhan laba.

Selain menghimpun dana dan menyalurkannya kembali, bank juga memperoleh pendapatan dari layanan di luar pembiayaan. Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI) tumbuh 36,27 persen menjadi Rp5,6 triliun. Kontribusi yang meningkat terutama berasal dari bisnis treasury dan emas.

Pendapatan jasa dan bisnis emas ikut menguat

Pertumbuhan FBI mendorong fee based ratio BSI menjadi 23,07 persen. Rasio tersebut menunjukkan kontribusi pendapatan berbasis jasa dalam komposisi pendapatan perseroan. BSI menyebut penguatan ini mencerminkan sumber pendapatan yang semakin beragam di luar kegiatan pembiayaan.

Bisnis treasury dan emas menjadi pendorong utama peningkatan FBI yang disebut perseroan. Meski begitu, keterangan yang tersedia tidak merinci besaran kontribusi masing-masing lini. Angka Rp5,6 triliun merujuk pada total FBI hingga Agustus 2026, bukan hanya pendapatan dari kedua bisnis tersebut.

Perluasan sumber pendapatan berjalan bersamaan dengan pertumbuhan pembiayaan dan pendanaan. Karena itu, kinerja BSI tidak hanya bertumpu pada satu bagian usaha. Perseroan melaporkan perkembangan pada funding, financing, serta pendapatan non-pembiayaan dalam periode yang sama.

Komposisi pendapatan yang lebih beragam dapat terlihat melalui kenaikan FBI dan fee based ratio. Sementara itu, pertumbuhan DPK serta pembiayaan menunjukkan aktivitas intermediasi yang meningkat. Kedua perkembangan tersebut tercatat bersama dengan pertumbuhan laba tahunan sebesar 10,07 persen.

Laba BSI mencapai Rp5,30 triliun

BSI membukukan laba Rp5,30 triliun hingga Agustus 2026, meningkat 10,07 persen secara tahunan. Perseroan mengaitkan pertumbuhan tersebut dengan ekspansi bisnis, penguatan dana murah, akselerasi pembiayaan, serta kontribusi bisnis emas dan FBI.

Anggoro mengatakan pertumbuhan laba dua digit berjalan seiring dengan penguatan CASA, kenaikan pembiayaan, penurunan cost of fund, dan akselerasi FBI. Ia menilai perkembangan itu menunjukkan mesin pertumbuhan BSI semakin terdiversifikasi dan masih memiliki ruang untuk berkembang.

Penurunan cost of fund turut disebut dalam penjelasan kinerja, tetapi perseroan tidak menyertakan angka perubahan indikator tersebut dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, informasi yang disampaikan berfokus pada arah perubahannya bersama sejumlah faktor lain yang menopang laba.

Secara keseluruhan, laporan hingga Agustus memperlihatkan pertumbuhan pada beberapa lini sekaligus. Pembiayaan naik 16,21 persen, DPK meningkat 17,71 persen, dan FBI bertambah 36,27 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, laba tumbuh 10,07 persen dan NPF gross berada di level 1,8 persen.

Menjaga kualitas di tengah ekspansi

Ekspansi pembiayaan menjadi perkembangan utama pada sisi intermediasi BSI. Nilai Rp344 triliun menggambarkan pembiayaan yang telah disalurkan hingga Agustus, sedangkan pertumbuhan 16,21 persen menunjukkan perubahan secara tahunan. Perseroan menyampaikan bahwa penyaluran tersebut tetap disertai penjagaan kualitas.

Dalam perbankan, pertumbuhan pembiayaan perlu dibaca bersama indikator kualitas dan sumber pendanaan. Pada kinerja BSI, NPF gross tercatat 1,8 persen, sedangkan DPK mencapai Rp389 triliun. Data tersebut memberi konteks terhadap ekspansi yang berlangsung pada periode pelaporan, tanpa menghilangkan fokus perseroan terhadap kualitas pembiayaan.

Penguatan FBI juga menambah sisi lain dari gambaran kinerja. Pendapatan jasa sebesar Rp5,6 triliun tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan laba, sementara kontribusi bisnis treasury dan emas meningkat. Namun, perseroan tidak menyampaikan rincian nominal per lini usaha dalam keterangan tersebut.

Hingga Agustus 2026, BSI melaporkan perkembangan pada pendanaan, pembiayaan, dan pendapatan non-pembiayaan. Kombinasi pertumbuhan itu disertai kenaikan laba serta rasio NPF gross yang dilaporkan sebesar 1,8 persen. Bagi perseroan, rangkaian indikator tersebut mencerminkan sumber pertumbuhan yang semakin beragam.

Penulis:

Jaya Purnama

Home Trending Explore Discover Menu