Jayapurnama.com, Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung tengah gencar mendorong peningkatan literasi sekolah sebagai langkah strategis membentuk generasi cerdas dan berkarakter. – Sebagai warga yang peduli pada dunia pendidikan, saya melihat langkah ini sebagai gebrakan positif, namun tetap ada tantangan yang perlu diantisipasi.
Sejak dulu, literasi selalu menjadi fondasi kemajuan suatu daerah. Namun di Lampung, data tahun 2024 menunjukkan indeks pembangunan literasi masih berada di angka 64,8 persen. Angka ini memang cukup baik, tetapi belum ideal. Kota Metro menjadi yang terdepan dengan pencapaian 94,4 persen, sedangkan Lampung Timur tertinggal di posisi terendah dengan 45,1 persen. Bagi saya, kesenjangan ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih merata dan inklusif.
Kebijakan terbaru dari Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui Surat Edaran (SE) Nomor 144 Tahun 2025, menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Surat edaran ini mengatur peningkatan literasi sekolah di semua jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI hingga SMA/SMK dan SLB. Menurut saya, langkah ini patut diapresiasi karena menyasar seluruh lapisan pendidikan, tidak hanya terfokus pada sekolah tertentu.
Dalam SE tersebut, salah satu poin penting adalah dorongan untuk meningkatkan kecakapan literasi membaca, numerasi, dan sains pada peserta didik. Bagi saya, pendekatan yang menggabungkan ketiga aspek ini sangat tepat, karena literasi tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami angka dan sains dalam kehidupan sehari-hari.
Peningkatan literasi sekolah di Lampung dilakukan dengan memanfaatkan empat pilar pendidikan, yaitu satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media. Saya pribadi melihat ini sebagai pendekatan holistik yang tidak hanya mengandalkan sekolah, tetapi juga lingkungan terdekat siswa. Tanpa dukungan keluarga dan masyarakat, kebiasaan membaca dan menulis akan sulit terbentuk secara konsisten.
Selain itu, Pemprov juga mendorong guru, tenaga kependidikan, dan orang tua untuk membiasakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Hal ini, menurut saya, tidak hanya membentuk kemampuan akademis, tetapi juga karakter positif anak. Saya yakin, jika kebiasaan ini dijalankan dengan penuh kesadaran dan konsistensi, hasilnya akan jauh lebih berdampak dibanding sekadar program formalitas.
Dalam implementasinya, program ini juga diwarnai berbagai kegiatan pagi yang cukup menarik. Mulai pukul 06.30 hingga 07.00 WIB, guru menyambut siswa dengan salam hangat untuk memantau kesiapan belajar mereka. Menurut saya, interaksi sederhana seperti ini bisa menumbuhkan rasa nyaman dan keterikatan emosional antara guru dan siswa, yang pada akhirnya berdampak positif pada semangat belajar.
Lalu, setiap pukul 07.00 hingga 07.15 WIB, diadakan senam pagi minimal dua kali seminggu. Bagi saya, ini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi cara membangun energi positif sebelum memulai pelajaran. Badan yang bugar akan membuat otak lebih siap menerima materi.
Tidak hanya itu, dari pukul 07.15 hingga 07.30 WIB, siswa diajak untuk gemar membaca selama 10 menit. Kegiatan ini, menurut saya, sangat efektif jika dilakukan konsisten, karena kebiasaan membaca tidak bisa dibentuk secara instan. Apalagi, ada penekanan pada pembacaan kitab suci sesuai agama masing-masing, yang berarti literasi juga diarahkan pada pembentukan moral dan spiritual.
Setelahnya, pukul 07.30 hingga 07.45 WIB, diadakan kegiatan ibadah sesuai agama. Bagi yang beragama Islam, sholat dhuha menjadi rutinitas. Saya pribadi melihat ini sebagai cara yang tepat untuk membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional-spiritual.
Dari sudut pandang pribadi, kebijakan peningkatan literasi sekolah di Lampung ini adalah langkah strategis yang patut didukung. Namun, saya juga menilai bahwa tantangan terbesar terletak pada keberlanjutan program. Banyak kebijakan baik yang hanya berjalan di awal karena kurangnya pengawasan dan dukungan jangka panjang.
Saya berharap pemerintah daerah tidak hanya membuat aturan, tetapi juga aktif memantau dan mengevaluasi hasilnya. Perlu ada sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat agar literasi benar-benar menjadi bagian dari budaya hidup, bukan sekadar target angka.
Jika melihat data Kota Metro yang mencapai 94,4 persen, saya percaya daerah lain di Lampung pun bisa mencapainya. Syaratnya, ada komitmen bersama dan keberlanjutan program. Di sisi lain, Lampung Timur yang berada di posisi terendah harus mendapat perhatian khusus, baik dalam bentuk pelatihan guru, fasilitas membaca, maupun program literasi berbasis komunitas.
Sebagai warga yang mencintai Lampung, saya ingin melihat semua anak di provinsi ini memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Literasi adalah pintu menuju masa depan yang lebih baik. Dengan kebijakan yang tepat dan pelaksanaan yang konsisten, saya optimistis Lampung bisa menjadi provinsi dengan tingkat literasi tinggi di Indonesia.





