Daftar Isi 4 bagian
Jayapurnama.com – Anker Innovations memperkenalkan One Anker di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Melalui konsep ini, perusahaan menyatukan berbagai merek produknya di bawah nama utama Anker. Langkah tersebut hadir saat perusahaan juga mengenalkan perangkat baru, mulai dari earbuds hingga power bank.
Perubahan ini sekaligus menandai pergeseran cara Anker menampilkan lini bisnisnya kepada konsumen. Perusahaan yang berawal dari perangkat pengisi daya itu kini memiliki produk untuk kebutuhan personal, audio, rumah, dan aktivitas kreatif. Di Indonesia, strategi merek baru tersebut berjalan beriringan dengan rencana memperluas jaringan toko.
Ekosistem One Anker menyatukan lini produk
Anker memulai perjalanannya pada 2011 sebagai produsen perangkat charging. Seiring perkembangan bisnis, perusahaan membangun merek-merek dengan fokus berbeda. SOLIX menangani power station, eufy mengembangkan perangkat rumah pintar, eufyMake menyasar perangkat kreatif, sedangkan soundcore berfokus pada produk audio.
Melalui One Anker, seluruh merek turunan itu kini berada di bawah satu nama utama. General Manager Anker Innovations Asia Tenggara, Leon Wu, mengatakan perusahaan ingin menyatukan merek-merek yang sebelumnya tampil terpisah. Ia menyampaikan pengumuman tersebut dalam acara peluncuran di Jakarta.
Penggabungan identitas ini tidak menghapus pembagian kebutuhan produk. Anker tetap membedakan penawaran berdasarkan penggunaan, tetapi konsumen kini dapat melihatnya sebagai bagian dari satu ekosistem. Perusahaan membaginya menjadi dua kategori besar, yaitu Anker for You untuk gadget personal dan Anker for Home untuk perangkat rumah tangga.
Pembagian tersebut memberi kerangka sederhana untuk memahami cakupan produknya. Perangkat yang digunakan seseorang sehari-hari masuk ke kategori personal, sementara teknologi untuk rumah berada pada kategori rumah tangga. Dengan demikian, nama One Anker menjadi payung untuk berbagai jenis kebutuhan tanpa menghilangkan fokus masing-masing lini.
Strategi merek menempatkan pasar Indonesia
Wu mengatakan produk Anker telah dipercaya lebih dari 200 juta orang di lebih dari 180 negara. Ia juga menyebut Indonesia sebagai pasar penting dalam perjalanan global perusahaan. Menurutnya, konsumen Indonesia akrab dengan teknologi digital dan membutuhkan perangkat yang praktis, dapat diandalkan, serta memberi nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Identitas terpadu juga dapat memusatkan investasi pemasaran perusahaan. Sebelumnya, Anker perlu membangun beberapa nama merek sekaligus di tengah persaingan. Kini, perusahaan menyatakan dapat menempatkan sumber daya dan investasinya di balik satu nama utama, alih-alih membagi fokus untuk setiap merek.
Bagi konsumen, perubahan nama bisa membantu mereka mengenali hubungan antara perangkat dari kategori berbeda. Namun, pengalaman menggunakan produk tetap bergantung pada fungsi dan kebutuhan masing-masing. Karena itu, Anker masih menampilkan kategori yang membedakan gadget personal dengan perangkat rumah, sekaligus mempertahankan fokus produk seperti audio dan smart home.
Anker menargetkan 150 toko dalam tiga tahun
Brand Manager Anker Innovations Indonesia, Vini Millatina Urfani, mengatakan perusahaan berencana memperluas jaringan ritel di Tanah Air. Anker saat ini memiliki 70 toko ritel di Indonesia dan menargetkan jumlahnya mencapai 150 dalam tiga tahun ke depan.
Menurut Vini, penambahan toko bertujuan mendekatkan produk kepada konsumen. Kehadiran fisik memungkinkan calon pembeli melihat dan merasakan perangkat secara langsung, selain mengaksesnya melalui platform digital. Dengan cara itu, toko menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadirkan pengalaman produk yang lebih dekat.
Target tersebut menunjukkan bahwa ekspansi Anker tidak hanya mengandalkan kanal daring. Jaringan ritel dapat menjadi tempat konsumen berinteraksi dengan produk sebelum menentukan pilihan. Meski begitu, perusahaan belum merinci lokasi toko baru ataupun tahapan pembukaan selama tiga tahun tersebut.
Anker juga berencana menjalin kolaborasi dengan merek lokal. Salah satu kerja sama yang telah berlangsung melibatkan Issue, merek aksesori yang dikenal di Indonesia. Vini mengatakan kolaborasi semacam ini dapat mendukung upaya memperkenalkan Anker bukan hanya sebagai penyedia gadget personal, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup.
Komunitas ikut mendukung pengembangan produk
Selain memperluas ritel dan menjalin kolaborasi, Anker membangun komunitas pengguna. Salah satunya adalah Anker Baby, yang bekerja sama dengan para ibu menyusui di Indonesia. Komunitas ini juga melibatkan pakar laktasi untuk membantu peserta menghadapi persoalan yang mereka temui.
Keterlibatan komunitas, menurut perusahaan, turut membantu pengembangan teknologi untuk kebutuhan bayi dan rumah tangga. Anker menyebut telah mengembangkan pompa ASI handsfree eufy S2 Pro bersama lebih dari 1.000 ibu. Produk tersebut menunjukkan bagaimana masukan pengguna dapat diarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik, bukan hanya fungsi gadget umum.
S2 Pro membawa teknologi VibraPump dengan lima mode stimulasi pijat dan fitur HeatFlow 2.0. Fitur pemanasnya memberikan kehangatan 360 derajat serta menyediakan tujuh tingkat suhu. Brand Manager Baby & Appliances Anker Innovations Indonesia, Nanda Yusnita, mengatakan teknologi itu membantu ibu memperoleh pengalaman pumping yang lebih nyaman.
Nanda juga menyampaikan klaim perusahaan bahwa teknologi tersebut dapat menghasilkan 35 persen lebih banyak ASI dan membuat waktu pumping 30 persen lebih efektif. Angka itu merupakan klaim yang disampaikan Anker dalam acara peluncuran. Perusahaan tidak memaparkan rincian pengujian klaim tersebut dalam keterangan acara.
Di acara yang sama, Anker memperkenalkan dua produk lain, yakni Soundcore AeroClip 2 dan MagGo Power Bank 2 Pro. AeroClip 2 dilengkapi chip AI, sementara MagGo Power Bank 2 Pro membawa teknologi SnapCool built-in. Kehadiran produk-produk ini memperlihatkan cakupan One Anker, dari perangkat audio dan pengisian daya hingga teknologi untuk kebutuhan rumah.
Dengan demikian, peluncuran One Anker menggabungkan dua agenda perusahaan di Indonesia: menyederhanakan identitas merek dan memperluas titik temu dengan konsumen. Rencana menuju 150 toko, kerja sama lokal, serta keterlibatan komunitas menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Ke depan, tantangannya adalah menjaga agar nama utama yang lebih luas tetap mudah dipahami melalui kategori dan fungsi produk yang jelas.





