Rabu, 28 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Mitsubishi di ASEAN Kurangi Model Baru, Bidik Pasar Maju

Oleh Jaya Purnama · 28/10/2026 · 1:55 am
Dukung
Daftar Isi 4 bagian

Jayapurnama.com – Mitsubishi di ASEAN menghadapi perubahan arah setelah produsen mobil China memperkuat persaingan di kawasan. Mitsubishi Motors kini merencanakan lebih sedikit model baru yang secara khusus ditujukan untuk Asia Tenggara, sementara lebih banyak pengembangan diarahkan ke pasar maju.

Perubahan itu muncul di tengah tekanan pada penjualan di sejumlah negara. Di Thailand, penjualan Mitsubishi turun sekitar separuh dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, pertumbuhan di Filipina, salah satu pasar yang relatif kuat bagi perusahaan, melambat sejak awal tahun fiskal 2026 pada April.

Ketergantungan Mitsubishi di ASEAN mulai dikurangi

Chief Executive Officer Mitsubishi Motors Takao Kato mengakui perusahaan terlalu mengandalkan kawasan ini dalam rencana sebelumnya. Menurut laporan Nikkei Asia, Kato menyampaikan hal itu saat memaparkan visi jangka menengah dan panjang pada akhir Mei.

“Kami terlalu condong ke produk untuk pasar ASEAN dalam rencana jangka menengah sebelumnya,” kata Kato, seperti dikutip Nikkei Asia pada Minggu, 25 Oktober. Pernyataan tersebut menandai evaluasi terhadap strategi yang sebelumnya memberi porsi besar pada Asia Tenggara.

Mitsubishi membangun kehadiran lebih awal di kawasan. Perusahaan mulai memproduksi kendaraan di Thailand pada 1966, kemudian masuk ke Indonesia, Vietnam, dan negara lain sebelum sejumlah pesaing. Dalam satu dekade terakhir, kontribusi Asia Tenggara terhadap penjualan global Mitsubishi meningkat dari 20 persen menjadi 31 persen.

Namun, pertumbuhan porsi penjualan itu tidak menghapus risiko ketergantungan. Sejak 2020, produsen mobil listrik China merebut pangsa pasar di kawasan, menurut laporan tersebut. Persaingan yang berubah membuat keberhasilan Mitsubishi pada masa lalu tidak otomatis menjamin pertumbuhan serupa ke depan.

Tekanan juga terlihat dari kesiapan produk. Mitsubishi belum meluncurkan mobil listrik di Thailand, sedangkan produsen China masuk ke pasar dengan kendaraan listrik. Kondisi ini memperlihatkan tantangan perusahaan untuk mempertahankan daya saing di negara yang selama ini menjadi salah satu basis pentingnya.

Hanya satu model baru disiapkan untuk kawasan

Dalam rencana enam tahun hingga tahun fiskal 2031, Mitsubishi akan meluncurkan 13 model. Dari jumlah itu, hanya satu model yang secara khusus berfokus pada Asia Tenggara, yaitu Xpander generasi baru. Model tersebut akan meneruskan Xpander yang meluncur pada 2017.

Jumlah itu jauh lebih sedikit dibanding rencana jangka menengah sebelumnya. Pada periode tahun fiskal 2023 hingga 2025, perusahaan merencanakan empat model baru untuk kawasan. Kini, alokasi produk untuk ASEAN menyusut, sementara sebagian besar pengembangan diarahkan ke pasar lain.

Sekitar 10 model akan menyasar pasar maju, termasuk kendaraan berukuran kecil atau minicar dan mobil listrik. Dengan demikian, Mitsubishi berupaya menyebarkan pengembangan produk ke wilayah yang selama ini bukan pusat utama penjualannya. Rencana tersebut juga mencakup kendaraan yang dibuat melalui kemitraan.

Salah satu contohnya adalah mobil listrik kompak yang dirakit oleh Foxconn, perusahaan asal Taiwan. Mitsubishi berencana memasarkannya di Australia dan Selandia Baru tahun ini. Kerja sama OEM tersebut memberi perusahaan pilihan untuk menghadirkan produk tanpa hanya mengandalkan pengembangan model sendiri.

Meski begitu, satu model baru untuk ASEAN bukan berarti Mitsubishi akan menghentikan seluruh kegiatan di kawasan. Rencana yang diumumkan menunjukkan prioritas peluncuran produk, bukan penghapusan pasar atau fasilitas yang sudah ada. Xpander generasi baru menjadi satu-satunya model yang secara spesifik disebut berfokus pada wilayah tersebut.

Target global lebih rendah dari puncak penjualan

Mitsubishi menargetkan penjualan global 900.000 unit pada tahun yang berakhir Maret 2030. Target tersebut 13 persen lebih tinggi dibanding capaian tahun fiskal 2025. Namun, jumlah itu masih jauh di bawah puncak penjualan 1,24 juta unit pada tahun fiskal 2018.

Target baru itu juga lebih rendah daripada sasaran 1,1 juta unit dalam rencana sebelumnya. Perbedaan tersebut menunjukkan perusahaan menetapkan ambisi pertumbuhan yang lebih terbatas. Mitsubishi tetap ingin meningkatkan penjualan, tetapi tidak lagi memakai target setinggi rencana terdahulu.

Pengalihan fokus ke pasar maju membawa peluang sekaligus tantangan. Pasar tersebut memberi ruang bagi Mitsubishi untuk menawarkan lebih banyak minicar dan kendaraan listrik. Namun, laporan Nikkei Asia mencatat pangsa perusahaan di Amerika Serikat dan Jepang hanya beberapa persen.

Jaringan dealer Mitsubishi di kedua pasar itu juga lebih sedikit dibanding pesaing. Perusahaan memangkas jaringan tersebut setelah menghadapi kinerja lemah selama bertahun-tahun sejak 2000. Karena itu, memperbesar penjualan di pasar maju tidak hanya bergantung pada model baru, tetapi juga menghadapi keterbatasan jangkauan yang sudah terbentuk.

Perbedaan kondisi antarpasar membuat perubahan strategi tidak sederhana. Di ASEAN, Mitsubishi memiliki sejarah panjang dan porsi penjualan global yang besar, tetapi persaingan kendaraan China semakin kuat. Di sisi lain, pasar maju menjadi sasaran pengembangan produk, meski perusahaan memiliki pangsa dan jaringan dealer yang lebih kecil.

Perubahan kepemilikan menambah perhatian investor

Perubahan strategi berlangsung bersamaan dengan berakhirnya kesepakatan kunci saham pada 20 Oktober. Kesepakatan itu melibatkan pemegang saham utama, termasuk Nissan dan Mitsubishi Corp. Aturannya membatasi penjualan saham Mitsubishi Motors selama 10 tahun setelah Nissan berinvestasi pada 2016.

Setelah kesepakatan berakhir, pemegang saham dapat menjual kepemilikan jika memenuhi persyaratan tertentu, termasuk memperoleh persetujuan Mitsubishi Motors. Meski demikian, belum ada pemegang saham utama yang menunjukkan niat untuk segera mengurangi kepemilikannya.

Harga saham Mitsubishi Motors tercatat turun lebih dari 30 persen dibandingkan penutupan pada 20 Oktober 2016. Pergerakan tersebut memberi konteks bagi perhatian investor terhadap masa depan perusahaan, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya rencana penjualan saham oleh pemegang saham utama.

Seorang pemegang saham besar dari grup Mitsubishi mengatakan perusahaan seharusnya benar-benar berdiri sendiri, seiring meningkatnya kritik terhadap kepemilikan silang. Pernyataan itu menambah sorotan pada hubungan antar pemegang saham saat Mitsubishi menata ulang prioritas bisnis dan menyesuaikan diri dengan persaingan otomotif yang berubah.

Ke depan, tantangan Mitsubishi terletak pada keseimbangan antara pasar lama dan sasaran baru. Perusahaan perlu mempertahankan daya tarik produknya di Asia Tenggara, sekaligus membangun kembali jangkauan di pasar maju. Rencana 13 model hingga tahun fiskal 2031 menjadi salah satu penanda bagaimana Mitsubishi akan mengatur prioritas tersebut.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.