Daftar Isi 4 bagian
Jayapurnama.com – Pengembangan baterai solid state dinilai dapat membuka peluang baru bagi Indonesia dalam industri kendaraan listrik (EV). Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) mendorong teknologi yang masih berkembang ini masuk ke ekosistem nasional, dengan dukungan riset dan kebijakan yang memadai.
Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan dan Penelitian Periklindo, Prabowo Kartoleksono, mengatakan teknologi tersebut dapat menggunakan nikel. Karena Indonesia memiliki industri nikel, menurutnya, perkembangan baterai solid state patut menjadi perhatian sejak awal agar peluang penguasaan teknologi tidak terlewat.
Peluang baterai solid state bagi industri EV
Prabowo menilai Indonesia sebaiknya mempertimbangkan teknologi baterai solid state ketika industri global masih bergerak mencari solusi berikutnya. Ia menyebut teknologi ini sebagai salah satu jawaban yang relevan bagi masa depan kendaraan listrik.
Baterai solid state kerap dibicarakan karena potensi kepadatan energinya lebih tinggi dibandingkan baterai lithium-ion dengan elektrolit cair. Kepadatan energi yang lebih besar dapat menjadi faktor penting dalam pengembangan kendaraan listrik, meski hasil akhirnya bergantung pada teknologi dan penerapannya.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Prabowo menyebut risiko kebakaran baterai solid state sangat rendah. Pernyataan itu menggambarkan potensi yang diharapkan dari teknologi tersebut, bukan jaminan bahwa seluruh risiko pada baterai atau kendaraan listrik akan hilang.
Di sisi lain, peluang teknologi baru tidak otomatis menjadikan Indonesia penguasa industri. Negara perlu terlibat bukan hanya dalam penyediaan bahan baku atau produksi kendaraan, tetapi juga dalam pengembangan desain, proses, dan pengetahuan yang menopang produk.
Porsi riset dalam TKDN menjadi sorotan
Prabowo menyoroti bobot riset dan pengembangan atau research and development (R&D) dalam skema Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Menurut dia, porsi kegiatan tersebut masih kecil dibandingkan penilaian terhadap kegiatan manufaktur.
Ia menyebut, dalam skema TKDN yang akan mencapai 60 persen, porsi R&D hanya 10 persen. Perbandingan itu, menurut Prabowo, menunjukkan bahwa kontribusi riset belum memperoleh penghargaan yang sepadan dalam kebijakan industri.
Perhatian terhadap TKDN penting karena aturan itu dapat memengaruhi pilihan investasi dan kegiatan perusahaan. Jika insentif lebih terasa pada pembangunan fasilitas produksi, perusahaan memiliki dorongan lebih kuat untuk memperbesar kapasitas manufaktur daripada membangun kemampuan riset dalam negeri.
Prabowo mengingatkan risiko Indonesia terus berperan sebagai pelaksana perakitan. Ia menginginkan industri nasional punya kesempatan menjadi perancang teknologi atau produsen dengan kemampuan khusus, bukan hanya mengerjakan tahapan produksi yang ditentukan pihak lain.
Penguasaan pengetahuan juga berkaitan dengan hak kekayaan intelektual. Ketika kegiatan penelitian tumbuh, pelaku industri dan tenaga ahli di dalam negeri berpeluang terlibat lebih jauh dalam merancang solusi, bukan sekadar menjalankan proses manufaktur.
Hilirisasi perlu berjalan bersama inovasi
Selama ini, upaya membangun industri kendaraan listrik Indonesia juga bertumpu pada hilirisasi nikel. Pemerintah telah menyediakan berbagai insentif untuk mendorong ekosistem EV, termasuk pemotongan PPN dan subsidi pembelian kendaraan.
Kebijakan tersebut membantu mendorong aktivitas industri dan pasar. Namun, penguatan produksi saja belum cukup untuk membawa Indonesia ke tahap penguasaan teknologi. Keterlibatan dalam penelitian perlu berjalan beriringan dengan pembangunan fasilitas dan perakitan.
Menurut Prabowo, solid state battery memiliki kaitan dengan peluang pemanfaatan nikel. Hubungan itu membuat kesiapan riset menjadi penting: ketersediaan bahan baku dapat menjadi modal, tetapi tidak dengan sendirinya menghasilkan desain baterai atau kemampuan manufaktur bernilai tinggi.
Karena itu, evaluasi insentif dapat mempertimbangkan manfaat yang diberikan kepada kegiatan R&D. Perhatian yang lebih kuat terhadap riset berpotensi mendorong perusahaan dan lembaga terkait mengembangkan pengetahuan serta kemampuan teknis di Indonesia.
Ekosistem membutuhkan arah jangka panjang
Masuk ke teknologi yang masih berkembang membutuhkan pandangan jangka panjang. Indonesia perlu melihat baterai solid state sebagai bagian dari pengembangan industri, bukan hanya sebagai jenis produk baru yang bisa segera diproduksi tanpa persiapan.
Langkah awalnya adalah memastikan kebijakan memberi ruang bagi aktivitas penelitian. Selain itu, keterkaitan antara nikel, produksi baterai, dan kebutuhan kendaraan listrik perlu dibangun agar tiap bagian ekosistem saling mendukung.
Insentif yang memperhatikan riset juga dapat membantu mengurangi kesenjangan antara kapasitas produksi dan kemampuan inovasi. Dengan demikian, keberhasilan industri tidak hanya diukur melalui jumlah fasilitas atau kendaraan yang dirakit, tetapi juga melalui kontribusi pengetahuan yang tumbuh di dalam negeri.
Dorongan Periklindo menempatkan pilihan teknologi dan skema TKDN dalam satu pembahasan. Jika Indonesia ingin mengambil bagian dalam perkembangan baterai generasi baru, dukungan bagi riset perlu menyertai kekuatan bahan baku dan investasi manufaktur. Tanpa keseimbangan itu, peluang masuk ke ekosistem EV bisa terbatas pada peran sebagai pemasok dan perakit.




