Daftar Isi 18 bagian
JayaPurnama.com – Jakarta, tidak semua orang langsung menceritakan kabar baik kepada keluarga, sahabat, atau rekan kerja. Sebagian orang justru memilih menyimpan kebahagiaan tersebut untuk dirinya sendiri. Kebiasaan ini dapat muncul ketika seseorang mendapatkan pekerjaan baru, mencapai target pribadi, atau berhasil membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan.
Pilihan tersebut sering menimbulkan pertanyaan. Mengapa seseorang tidak ingin membagikan pencapaiannya, padahal kabar itu bisa menjadi alasan untuk merayakan kebahagiaan bersama orang terdekat? Apakah kebiasaan tersebut menunjukkan sifat tertutup atau justru mencerminkan cara seseorang mengelola kehidupan pribadinya?
Dalam psikologi, kebiasaan menyimpan kabar bahagia memiliki beberapa penjelasan. Salah satunya berkaitan dengan positive secrecy atau merahasiakan sesuatu yang bersifat positif. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2023 menemukan bahwa menyimpan kabar baik atas keinginan sendiri dapat meningkatkan perasaan bersemangat dan berenergi.
Artinya, seseorang tidak selalu membutuhkan pengakuan orang lain untuk menikmati pencapaiannya. Ada kalanya, pengalaman pribadi justru terasa lebih menyenangkan ketika seseorang memiliki kesempatan untuk meresapi kebahagiaan tersebut terlebih dahulu.
Mengapa Orang Suka Menyimpan Kabar Bahagia?
Kebiasaan ini tidak memiliki satu penyebab yang berlaku bagi semua orang. Setiap individu memiliki pertimbangan berbeda ketika memutuskan untuk bercerita atau menjaga sebuah kabar baik.
Sebagian orang ingin menikmati keberhasilan secara pribadi. Sementara itu, orang lain mempertimbangkan privasi, tanggapan lingkungan, hingga pengalaman sebelumnya. Berikut tujuh alasan yang dapat menjelaskan kebiasaan tersebut dari sudut pandang psikologi.
1. Ingin Menikmati Kebahagiaan Secara Pribadi
Alasan pertama berkaitan dengan keinginan menikmati sebuah pencapaian tanpa harus segera membagikannya. Seseorang mungkin sudah bekerja keras untuk mencapai sesuatu. Ketika akhirnya berhasil, dia ingin merasakan kepuasan itu terlebih dahulu.
Misalnya, seseorang berhasil melunasi utang, mendapatkan pekerjaan impian, atau membeli barang yang selama ini menjadi target tabungannya. Dia mungkin tidak langsung mengunggah kabar tersebut ke media sosial. Sebaliknya, dia memilih menikmati rasa lega dan bangga secara pribadi.
Penelitian Michael Slepian, PhD, dari Columbia University bersama rekan-rekannya membahas fenomena menyimpan rahasia positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menyimpan kabar baik karena pilihan sendiri dapat membuat seseorang merasa lebih bersemangat dan memiliki energi.
Hal ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada tanggapan orang lain. Seseorang tetap dapat menikmati keberhasilan meskipun tidak ada orang yang mengetahui pencapaiannya.
Selain itu, keputusan untuk tidak langsung bercerita memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami perasaannya sendiri. Dia bisa menikmati momen tersebut tanpa perlu memikirkan bagaimana orang lain akan menanggapinya.
2. Ingin Menjaga Privasi Kehidupan Pribadi
Tidak semua orang nyaman membagikan setiap perkembangan hidupnya. Sebagian individu memiliki batasan yang jelas mengenai informasi pribadi. Mereka memilih sendiri cerita apa yang ingin disampaikan dan siapa yang boleh mengetahuinya.
Contohnya, seseorang mendapatkan promosi pekerjaan atau berhasil membeli rumah. Dia mungkin hanya menceritakan pencapaian tersebut kepada pasangan dan keluarga terdekat. Namun, dia tidak merasa perlu mengumumkannya kepada seluruh teman, rekan kerja, atau pengikut media sosial.
Dalam psikologi, keputusan tersebut berkaitan dengan konsep self-disclosure dan privasi. Self-disclosure mengacu pada tindakan seseorang mengungkapkan informasi mengenai dirinya kepada orang lain.
Nicole C. Krämer dan Johanna Schäwel membahas kompleksitas pengungkapan informasi pribadi dalam jurnal Current Opinion in Psychology pada 2020. Pembahasan mereka menunjukkan bahwa seseorang mempertimbangkan kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain sekaligus keinginan melindungi privasinya.
Karena itu, menyimpan kabar baik tidak otomatis menunjukkan ketidakpercayaan. Seseorang mungkin hanya ingin menjaga batas antara kehidupan pribadi dan lingkungan sosialnya.
Terlebih lagi, perkembangan media sosial membuat orang memiliki banyak kesempatan untuk membagikan aktivitas sehari-hari. Namun, kesempatan tersebut tidak berarti setiap pencapaian harus menjadi konsumsi publik.
3. Takut Dianggap Pamer atau Sombong
Sebagian orang sebenarnya ingin menceritakan keberhasilannya. Akan tetapi, mereka khawatir orang lain akan menganggap cerita tersebut sebagai bentuk pamer atau usaha untuk terlihat lebih hebat.
Sebagai contoh, seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. Dia merasa senang dan ingin berbagi kabar itu dengan teman-temannya. Namun, kekhawatiran terhadap penilaian orang lain membuatnya memilih diam.
Penelitian Todd Chan, Zachary A. Reese, dan Oscar Ybarra dari University of Michigan membahas persoalan ini. Penelitian yang terbit dalam Journal of Personality pada 2021 menemukan bahwa kekhawatiran dianggap membanggakan diri dapat membuat seseorang enggan membagikan kabar positif kepada orang terdekat.
Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa seseorang terkadang terlalu memperkirakan kemungkinan respons negatif. Padahal, orang terdekat mungkin justru ingin mengetahui kabar penting dari orang yang mengalaminya secara langsung.
Akibatnya, kekhawatiran yang belum tentu sesuai dengan kenyataan dapat menghambat komunikasi. Seseorang kehilangan kesempatan untuk berbagi kegembiraan hanya karena membayangkan penilaian yang mungkin muncul.
Meski begitu, setiap orang memiliki pertimbangan sosial yang berbeda. Tidak ada kewajiban untuk menceritakan seluruh pencapaian kepada orang lain. Hal terpenting adalah membedakan keputusan menjaga privasi dengan ketakutan berlebihan terhadap penilaian lingkungan.
4. Menunggu Waktu yang Tepat untuk Bercerita
Alasan berikutnya adalah keinginan memilih waktu yang paling sesuai. Tidak semua kabar baik harus disampaikan segera setelah seseorang menerimanya. Ada kalanya, menunda cerita justru menjadi bagian dari rencana yang menyenangkan.
Misalnya, seseorang mendapatkan pekerjaan baru, tetapi ingin menunggu sampai proses administrasi selesai. Ada pula orang yang sedang menyiapkan kejutan ulang tahun, pernikahan, atau hadiah untuk keluarga.
Dalam situasi tersebut, menyimpan informasi bukan berarti seseorang tidak ingin berbagi kebahagiaan. Dia hanya ingin mengatur waktu pengungkapan agar momen tersebut terasa lebih bermakna.
Penelitian Michael Slepian dan rekan-rekannya mengenai rahasia positif juga memberikan penjelasan menarik. Seseorang dapat merasakan energi dan antusiasme ketika sengaja menunda pengungkapan kabar baik untuk menciptakan kejutan.
Ada perbedaan antara menyimpan kabar karena pilihan pribadi dan terpaksa menyembunyikan sesuatu. Ketika seseorang secara sadar memilih menunggu, dia dapat menikmati antisipasi serta membayangkan reaksi bahagia orang yang akan menerima kabar tersebut.
Dengan demikian, waktu bercerita juga menjadi bagian dari pengalaman emosional. Seseorang tidak hanya menikmati kabar baik, tetapi juga menantikan momen ketika akhirnya bisa membagikannya.
5. Pernah Mendapatkan Respons yang Mengecewakan
Pengalaman masa lalu dapat memengaruhi keputusan seseorang ketika ingin membagikan kabar bahagia. Orang yang pernah menerima tanggapan kurang menyenangkan mungkin akan lebih berhati-hati pada kesempatan berikutnya.
Contohnya, seseorang menceritakan keberhasilannya mendapatkan pekerjaan baru. Namun, orang yang mendengarkan justru membandingkan pencapaian tersebut dengan keberhasilan mereka sendiri. Ada pula situasi ketika seseorang menerima komentar meremehkan atau tanggapan yang terasa tidak antusias.
Pengalaman seperti itu dapat mengubah cara seseorang memilih teman bercerita. Dia mungkin mulai mempertimbangkan siapa yang mampu memberikan dukungan dan siapa yang justru membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Penelitian Shelly L. Gable, Harry T. Reis, Emily A. Impett, dan Evan R. Asher yang terbit dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2004 membahas manfaat berbagi pengalaman positif.
Penelitian tersebut menemukan bahwa respons aktif dan mendukung dari orang lain berkaitan dengan peningkatan emosi positif serta kesejahteraan hubungan. Artinya, cara seseorang menanggapi kabar baik memiliki peran penting dalam pengalaman berbagi.
Karena itu, pengalaman mengecewakan dapat membuat seseorang lebih selektif. Dia tidak selalu menolak untuk bercerita, tetapi ingin memastikan bahwa orang yang mendengarkan dapat menghargai kebahagiaannya.
6. Lebih Mengutamakan Kepuasan Diri daripada Pujian
Ada orang yang merasa pencapaiannya sudah cukup berarti tanpa harus mendapatkan banyak pengakuan. Mereka menikmati keberhasilan karena perjuangan dan hasilnya memiliki arti bagi kehidupan pribadi.
Misalnya, seseorang berhasil menabung hingga mampu membeli kendaraan sendiri. Dia tidak merasa harus mengunggah foto kendaraan tersebut atau menceritakan seluruh proses perjuangannya kepada banyak orang.
Kecenderungan ini dapat berkaitan dengan konsep motivasi intrinsik. Konsep tersebut menjelaskan dorongan seseorang melakukan sesuatu karena aktivitas atau hasilnya memberikan kepuasan pribadi, bukan semata-mata untuk memperoleh hadiah maupun pengakuan dari luar.
Dalam Self-Determination Theory, psikolog Edward L. Deci dan Richard M. Ryan menjelaskan pentingnya motivasi otonom dalam perilaku manusia. Seseorang dapat memiliki dorongan yang lebih kuat ketika tindakannya berasal dari pilihan dan keinginannya sendiri.
Perspektif tersebut membantu menjelaskan mengapa sebagian orang tidak terlalu membutuhkan pujian setelah mencapai sesuatu. Mereka sudah memperoleh kepuasan dari keberhasilan yang mereka perjuangkan.
Namun, kondisi ini bukan berarti seseorang tidak membutuhkan hubungan sosial. Dukungan keluarga dan teman tetap dapat memberikan manfaat. Hanya saja, pengakuan orang lain bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan bagi mereka.
7. Ingin Menikmati Perasaan Bahagia Lebih Lama
Alasan terakhir berkaitan dengan keinginan meresapi kebahagiaan sebelum membagikannya. Seseorang mungkin ingin mengingat kembali perjuangan, membayangkan masa depan, atau menikmati kenyataan bahwa sesuatu yang lama diharapkan akhirnya tercapai.
Bayangkan seseorang baru saja menerima kabar bahwa dirinya berhasil mendapatkan pekerjaan impian. Sebelum mengumumkannya, dia mungkin ingin menikmati rasa bangga, lega, dan bahagia atas usaha yang selama ini dia lakukan.
Penelitian Michael Slepian dan rekan-rekannya mengenai rahasia positif memberikan gambaran tentang pengalaman tersebut. Seseorang dapat menikmati kabar baik yang masih tersimpan dalam pikirannya. Perasaan bersemangat juga dapat muncul ketika dia berniat menceritakannya nanti maupun ketika tidak berencana membagikannya.
Dengan kata lain, seseorang tidak harus langsung mengubah setiap kebahagiaan menjadi cerita. Ada kalanya, menikmati momen secara perlahan sudah memberikan kepuasan tersendiri.
Selain itu, keputusan untuk menunda cerita dapat memberikan kesempatan untuk memahami arti pencapaian tersebut. Seseorang bisa lebih menghargai proses yang telah dilalui sebelum kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Apakah Menyimpan Kabar Bahagia Termasuk Kebiasaan yang Buruk?
Menyimpan kabar baik tidak selalu menjadi kebiasaan negatif. Seseorang memiliki hak untuk menentukan informasi pribadi yang ingin dibagikan. Dia juga boleh menikmati keberhasilan tanpa harus mengumumkannya kepada lingkungan sosial.
Namun, alasan di balik keputusan tersebut tetap penting untuk diperhatikan. Menyimpan kabar karena ingin menjaga privasi tentu berbeda dengan menahan cerita karena terus-menerus merasa takut mendapatkan penilaian buruk.
Jika seseorang merasa nyaman dengan pilihannya, kebiasaan tersebut tidak otomatis menunjukkan masalah dalam hubungan sosial. Sebaliknya, apabila ketakutan membuatnya sulit mempercayai siapa pun atau selalu merasa tidak aman ketika berbagi pengalaman positif, kondisi itu layak menjadi bahan refleksi.
Ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan ketika seseorang ingin menentukan apakah kabar baik perlu dibagikan:
- Pertimbangkan tujuan bercerita. Apakah ingin merayakan keberhasilan bersama atau sekadar memenuhi harapan orang lain?
- Pilih orang yang tepat. Bagikan cerita kepada orang yang mampu menghargai pengalaman dan memberikan dukungan.
- Perhatikan batas privasi. Tidak semua informasi pribadi perlu diketahui banyak orang.
- Kenali alasan memilih diam. Bedakan keinginan menikmati momen dengan ketakutan berlebihan terhadap penilaian orang lain.
- Berikan ruang untuk diri sendiri. Nikmati pencapaian tanpa merasa harus segera mendapatkan pengakuan dari lingkungan.
Sementara itu, orang-orang terdekat juga perlu memahami bahwa setiap individu memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan kegembiraan. Tidak semua orang nyaman mengumumkan keberhasilan atau membicarakan kehidupan pribadinya.
Berbagi atau Menyimpan Kebahagiaan, Keduanya Bisa Bermakna
Menceritakan kabar baik dapat mempererat hubungan ketika seseorang mendapatkan respons yang positif. Penelitian Gable dan rekan-rekannya pada 2004 memperlihatkan pentingnya tanggapan aktif serta dukungan dalam pengalaman berbagi kabar menggembirakan.
Di sisi lain, menyimpan kabar bahagia untuk sementara waktu juga dapat memberikan pengalaman menyenangkan. Penelitian mengenai positive secrecy menunjukkan bahwa pilihan tersebut dapat meningkatkan antusiasme dan energi seseorang.
Kedua pilihan itu tidak harus dipertentangkan. Seseorang bisa menikmati pencapaiannya sendiri terlebih dahulu, kemudian membagikannya kepada orang terdekat ketika merasa siap. Orang lain juga boleh memilih untuk menyimpan cerita tersebut sebagai bagian dari privasi.
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak memiliki satu cara untuk diekspresikan. Ada orang yang senang merayakannya bersama banyak orang. Ada pula yang lebih menikmati momen tenang tanpa perhatian dari lingkungan sekitar.
Hal terpenting adalah memahami alasan di balik pilihan tersebut. Selama keputusan itu tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, seseorang berhak menentukan bagaimana dia ingin menikmati kabar baik dalam kehidupannya.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Menyimpan Kabar Bahagia
1. Apakah orang yang suka menyimpan kabar bahagia termasuk introver?
Belum tentu. Kebiasaan menyimpan kabar bahagia tidak otomatis menunjukkan seseorang memiliki kepribadian introver. Orang dengan berbagai tipe kepribadian dapat memilih menjaga privasi atau menikmati pencapaian secara pribadi.
2. Apakah menyimpan kabar bahagia merupakan kebiasaan buruk?
Tidak selalu. Menyimpan kabar baik atas keinginan sendiri dapat memberikan pengalaman positif. Namun, seseorang perlu memperhatikan jika ketakutan terhadap penilaian orang lain membuatnya terus-menerus merasa tidak aman untuk berbagi cerita.
3. Mengapa seseorang takut dianggap pamer ketika menceritakan pencapaiannya?
Sebagian orang khawatir lingkungan akan menganggap mereka sombong atau terlalu membanggakan diri. Penelitian Todd Chan dan rekan-rekannya pada 2021 menemukan bahwa kekhawatiran tersebut dapat membuat seseorang enggan membagikan kabar positif, termasuk kepada orang terdekat.
4. Apakah berbagi kabar bahagia bisa meningkatkan kebahagiaan?
Bisa. Penelitian Shelly L. Gable dan rekan-rekannya pada 2004 menemukan bahwa berbagi pengalaman positif berkaitan dengan peningkatan emosi positif dan kesejahteraan hubungan. Respons yang aktif serta mendukung turut memberikan arti penting dalam pengalaman tersebut.
5. Mengapa seseorang memilih menunggu sebelum menceritakan kabar baik?
Seseorang mungkin ingin memastikan situasi sudah tepat atau sedang menyiapkan kejutan bagi orang lain. Penundaan yang dilakukan atas keinginan sendiri juga dapat memberikan kesempatan untuk menikmati antisipasi dan membayangkan reaksi orang yang akan menerima kabar tersebut.
6. Apakah orang yang tidak mencari pujian berarti tidak membutuhkan dukungan sosial?
Tidak. Seseorang tetap dapat menghargai dukungan keluarga dan teman meskipun tidak menjadikan pujian sebagai ukuran keberhasilan. Dia mungkin lebih mengutamakan kepuasan pribadi atas pencapaian yang sudah diraih.
7. Apakah lebih baik menyimpan atau membagikan kabar bahagia?
Keduanya dapat menjadi pilihan yang bermakna. Seseorang dapat menyimpan kabar untuk menikmati momen pribadi atau membagikannya kepada orang yang dipercaya. Pilihan terbaik bergantung pada kenyamanan, kebutuhan, dan tujuan masing-masing individu.





