Minggu, 1 November 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Snackpacking Jadi Tren Gen Z, Wisata Kuliner Lokal Makin Populer

Dukung
Daftar Isi 6 bagian

JayaPurnama.com – Jakarta, tren snackpacking atau berburu jajanan lokal semakin populer di kalangan generasi Z. Aktivitas ini mengajak anak muda mengunjungi warung kelontong, menjelajahi pasar tradisional, hingga mencicipi berbagai makanan khas daerah. Selain menawarkan pengalaman kuliner, kegiatan tersebut juga menjadi cara menarik untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia.

Fenomena ini semakin ramai melalui media sosial. Anak muda membagikan pengalaman menemukan camilan unik, mencoba makanan tradisional, serta mengunjungi tempat kuliner yang belum banyak dikenal. Konten tersebut kemudian menarik perhatian pengguna lain untuk melakukan perjalanan serupa.

Menariknya, snackpacking tidak selalu membutuhkan biaya besar. Banyak jajanan lokal menawarkan harga terjangkau dan mudah ditemukan di lingkungan masyarakat. Karena itu, tren ini berkembang menjadi salah satu pilihan wisata kuliner yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Snackpacking Populer Berkat Media Sosial

Dosen Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University, Hudi Santoso, menjelaskan bahwa kemunculan snackpacking berkaitan dengan perubahan budaya mobilitas anak muda. Perkembangan platform digital berbasis visual turut mempercepat penyebaran tren tersebut.

Dalam keterangan tertulis pada Jumat (30/10/2026), Hudi menjelaskan bahwa fenomena ini muncul dari pertemuan budaya perjalanan generasi Z dengan dinamika algoritma media sosial. Kedua faktor tersebut mendorong anak muda mencari pengalaman yang menarik sekaligus layak dibagikan secara digital.

Selain itu, tren ini berkaitan dengan konsep ekonomi atensi atau attention economy. Pembuat konten harus mampu menarik perhatian audiens sejak beberapa detik pertama. Oleh karena itu, pengalaman berburu makanan lokal menjadi salah satu materi yang menarik.

Jajanan tradisional memiliki karakter visual yang beragam. Warna makanan, bentuk camilan, proses memasak, hingga suasana warung dapat menghasilkan konten yang menarik. Bahkan, aktivitas sederhana seperti memilih jajanan di etalase bisa menjadi cerita perjalanan yang menghibur.

Di sisi lain, harga yang relatif murah membuat pengalaman tersebut lebih mudah dijangkau. Audiens tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk mencoba kegiatan serupa. Kondisi ini turut memperluas ketertarikan terhadap wisata kuliner sederhana.

Pengalaman Orang Lain Mendorong Minat Berkunjung

Hudi juga mengaitkan popularitas snackpacking dengan konsep social proof. Konsep ini menjelaskan bagaimana pengalaman orang lain dapat memengaruhi keputusan seseorang. Ketika pengguna melihat orang lain menikmati jajanan tertentu, mereka bisa terdorong untuk mencobanya.

Selanjutnya, unggahan pengunjung menciptakan konten baru atau user-generated content (UGC). Pengunjung lain dapat membagikan pengalaman mereka setelah mendatangi lokasi yang sama. Dengan demikian, sebuah warung atau tempat kuliner berpeluang memperoleh perhatian lebih luas.

Menurut Hudi, semakin banyak orang membagikan pengalaman kuliner, semakin besar pula peluang suatu tempat dikenal masyarakat. Penyebaran informasi tersebut tidak hanya mengandalkan promosi pemilik usaha. Pengalaman pelanggan juga berperan dalam memperkenalkan produk kepada calon pengunjung.

Namun, popularitas di media sosial bukan satu-satunya daya tarik. Snackpacking juga memberikan kesempatan kepada anak muda untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Mereka dapat mengenal penjual, mengetahui cerita makanan, serta memahami kebiasaan kuliner di suatu daerah.

Wisata Jajanan Lokal Kenalkan Budaya Daerah

Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang berbeda di setiap wilayah. Banyak daerah mempunyai camilan khas dengan bahan, rasa, dan cara pembuatan tersendiri. Melalui snackpacking, generasi muda memiliki kesempatan untuk menemukan kekayaan tersebut secara langsung.

Misalnya, pengunjung dapat menjelajahi warung kecil yang menjual jajanan khas masyarakat setempat. Mereka juga bisa mencoba makanan yang jarang ditemukan di pusat perbelanjaan modern. Pengalaman semacam ini memberikan sudut pandang berbeda tentang kehidupan kuliner suatu daerah.

Selain mencicipi makanan, perjalanan tersebut membuka ruang interaksi antara pengunjung dan penjual lokal. Percakapan sederhana dapat memperkenalkan sejarah makanan, bahan yang digunakan, hingga kebiasaan masyarakat dalam menyajikannya.

Karena itu, snackpacking memiliki nilai lebih dari sekadar mengikuti tren media sosial. Aktivitas ini dapat menjadi sarana pengenalan budaya sekaligus mendorong generasi muda lebih menghargai produk kuliner lokal.

Snackpacking Membuka Peluang bagi UMKM Kuliner

Popularitas tren ini juga membawa peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Warung sederhana serta penjual jajanan tradisional berpotensi menjangkau konsumen baru melalui konten digital.

Sebelumnya, sebagian usaha kuliner hanya dikenal oleh masyarakat sekitar. Namun, unggahan pengunjung dapat memperkenalkan produk mereka kepada audiens dari wilayah lain. Bahkan, sebuah jajanan yang belum populer dapat menarik perhatian setelah seseorang membagikan pengalaman mencicipinya.

Meski begitu, pelaku usaha perlu memperhatikan kemudahan akses informasi. Hudi menilai keberadaan bisnis di platform digital menjadi faktor penting agar pemburu jajanan dapat menemukan lokasi tujuan.

Ia menyarankan pelaku usaha memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Google Maps: Pastikan lokasi usaha tercantum secara akurat agar pengunjung mudah menemukan tempatnya.
  • Instagram dan TikTok: Gunakan tag lokasi yang sesuai untuk membantu pengguna mengenali keberadaan usaha.
  • Informasi harga: Cantumkan harga produk secara transparan agar calon pembeli dapat memperkirakan pengeluaran.
  • Jam operasional: Perbarui informasi waktu buka dan tutup supaya pengunjung tidak datang pada waktu yang keliru.

Langkah tersebut membantu calon pelanggan merencanakan kunjungan. Selain itu, informasi yang jelas dapat mengurangi kebingungan ketika pengunjung mencari lokasi usaha melalui aplikasi navigasi.

Informasi Digital Jadi Kunci Menarik Pengunjung

Kemudahan navigasi dan ketersediaan informasi produk menjadi bagian penting dalam perkembangan snackpacking. Pengunjung membutuhkan petunjuk lokasi, gambaran produk, harga, serta jadwal operasional sebelum mendatangi sebuah tempat kuliner.

Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu mengelola jejak digital secara konsisten. Informasi yang akurat membantu pengguna menemukan usaha melalui mesin pencari maupun media sosial. Selanjutnya, pengalaman positif pengunjung dapat mendorong orang lain untuk ikut datang.

Di sisi lain, pelaku usaha tetap perlu menjaga kualitas produk dan pelayanan. Promosi digital dapat menarik perhatian calon pelanggan, tetapi pengalaman langsung turut menentukan kesan pengunjung terhadap sebuah tempat kuliner.

Dengan pengelolaan yang baik, warung kecil memiliki kesempatan memperkenalkan jajanan khas kepada masyarakat yang lebih luas. Kondisi ini juga membuka peluang bagi produk tradisional untuk menjangkau konsumen di luar lingkungan asalnya.

Snackpacking Berpotensi Jadi Wisata Kuliner Berkelanjutan

Tren snackpacking memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menghubungkan pengalaman perjalanan dengan kekayaan kuliner daerah. Generasi Z tidak hanya mencari makanan untuk dinikmati. Mereka juga mencari cerita, pengalaman baru, dan kesempatan mengenal lingkungan yang berbeda.

Selain memberikan hiburan, aktivitas tersebut berpotensi mendukung ekonomi masyarakat. Warung kelontong, pedagang jajanan tradisional, dan UMKM kuliner dapat memperoleh perhatian melalui rekomendasi serta pengalaman pengunjung.

Meski popularitas tren dapat berubah, ketertarikan terhadap kuliner lokal memiliki peluang untuk terus berkembang. Terlebih lagi, Indonesia mempunyai beragam makanan tradisional yang menawarkan pengalaman berbeda di setiap daerah.

Pada akhirnya, snackpacking bukan sekadar kegiatan berburu camilan untuk konten media sosial. Tren ini dapat menjadi bentuk wisata kuliner sederhana yang mempertemukan generasi muda dengan budaya lokal. Jika pelaku usaha mampu memanfaatkan platform digital secara tepat, aktivitas tersebut juga berpotensi memperluas pasar UMKM sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.