J Trust Bank (BCIC) Salurkan Kredit Rp 29,25 Triliun, NPL Neto Turun Jadi 1,78 Persen

Jaya Purnama

J Trust Bank (BCIC) Salurkan Kredit Rp 29,25 Triliun, NPL Neto Turun Jadi 1,78 Persen
J Trust Bank (BCIC) Salurkan Kredit Rp 29,25 Triliun, NPL Neto Turun Jadi 1,78 Persen

Jayapurnama.com – Jakarta, PT Bank J Trust Indonesia Tbk (BCIC) mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 29,25 triliun hingga akhir Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 8,59 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp 26,94 triliun. Selain memperluas penyaluran kredit, perseroan juga mencatat perbaikan kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) neto sebesar 1,78 persen.

Direktur Utama J Trust Bank Ritsuo Fukadai menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit berjalan seiring dengan penurunan rasio NPL neto. Oleh karena itu, perseroan akan menjaga kualitas portofolio kredit secara hati-hati atau prudent di tengah rencana ekspansi bisnis.

J Trust Bank juga menargetkan pertumbuhan bisnis melalui segmen komersial, korporasi, dan ritel. Selain itu, perseroan akan memperkuat pendapatan berkelanjutan melalui pengembangan layanan keuangan dan pengelolaan pendanaan yang lebih efisien.

J Trust Bank Catat Perbaikan Kualitas Kredit

Pertumbuhan kredit J Trust Bank mencapai 8,59 persen dalam enam bulan pertama 2026 dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya. Dengan demikian, penyaluran kredit meningkat dari Rp 26,94 triliun menjadi Rp 29,25 triliun pada akhir Juni 2026.

Di sisi lain, kualitas aset perseroan menunjukkan perkembangan positif. Ritsuo Fukadai menyebut rasio NPL neto turun menjadi 1,78 persen pada Juni 2026, dari 2,26 persen pada akhir Desember 2025. Penurunan tersebut mencerminkan perbaikan rasio kredit bermasalah dalam periode tersebut.

“Pertumbuhan kredit selaras dengan penurunan rasio NPL neto. Prioritas kami ke depan adalah mempertahankan kualitas portofolio kredit secara prudent,” ujar Ritsuo dalam keterangannya pada Rabu (30/9/2026).

Menurut Ritsuo, perseroan tetap membuka ruang ekspansi dengan memperhatikan kualitas kredit. J Trust Bank akan mengembangkan bisnis pada segmen komersial, korporasi, dan ritel. Langkah ini bertujuan mendukung pertumbuhan pendapatan secara berkelanjutan.

Pada periode yang sama, total aset J Trust Bank mencapai Rp 39,83 triliun. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai skala aset perseroan di tengah pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas portofolio.

Dana Pihak Ketiga Tumbuh, Giro Menguat

Dari sisi pendanaan, J Trust Bank menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 33,92 triliun hingga Juni 2026. Jumlah tersebut tumbuh 1,08 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.

Selain meningkatkan penghimpunan dana, perseroan memperkuat komposisi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Strategi ini mencakup peningkatan dana giro dan tabungan yang berperan dalam mendukung efisiensi biaya pendanaan.

Posisi giro J Trust Bank meningkat menjadi Rp 6,29 triliun dari Rp 3,93 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, saldo tabungan mencapai Rp 3,12 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan peningkatan penghimpunan dana melalui rekening giro.

Selanjutnya, penguatan dana murah turut mendukung penurunan biaya dana atau Cost of Fund (CoF). J Trust Bank mencatat CoF sebesar 4,69 persen pada Juni 2026, turun dari 5,27 persen pada Desember 2025.

Penurunan biaya dana menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan margin perbankan. Namun, kemampuan mempertahankan efisiensi tetap bergantung pada perkembangan penghimpunan dana, struktur pendanaan, dan kebutuhan bisnis perseroan.

Permodalan J Trust Bank Meningkat

Selain memperkuat pendanaan, J Trust Bank mencatat peningkatan modal sepanjang semester pertama 2026. Total modal perseroan mencapai Rp 3,71 triliun, naik dari Rp 3,15 triliun pada akhir Desember 2025.

Sejalan dengan peningkatan modal tersebut, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) naik menjadi 14,53 persen. Pada akhir 2025, rasio tersebut tercatat sebesar 12,53 persen.

CAR menunjukkan kemampuan permodalan bank dalam menopang risiko yang melekat pada kegiatan usahanya. Karena itu, perkembangan rasio ini menjadi salah satu indikator yang dapat diperhatikan dalam menilai kondisi permodalan bank.

Meski demikian, investor tetap perlu melihat CAR bersama indikator lainnya. Pertumbuhan kredit, kualitas aset, biaya dana, dan kemampuan menghasilkan laba juga memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai perkembangan kinerja perbankan.

J Trust Bank Bukukan Laba Bersih Rp 80,23 Miliar

Pada semester I 2026, J Trust Bank membukukan laba bersih sebesar Rp 80,23 miliar. Capaian tersebut menjadi bagian dari kinerja perseroan selama enam bulan pertama tahun ini.

Ke depan, perseroan akan mendorong profitabilitas melalui diversifikasi sumber pendapatan. Strategi tersebut mencakup pengembangan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income, peningkatan kredit sindikasi, transformasi digital, serta penguatan jaringan operasional.

Melalui pendapatan berbasis komisi, bank dapat memperluas sumber pendapatan selain bunga kredit. Sementara itu, kredit sindikasi memungkinkan sejumlah bank membiayai suatu kebutuhan kredit bersama sesuai kesepakatan masing-masing pihak.

J Trust Bank juga akan mengoptimalkan efisiensi biaya dana yang mencapai 4,69 persen pada Juni 2026. Perseroan menargetkan peningkatan porsi giro dan tabungan melalui layanan berbasis teknologi yang menyesuaikan kebutuhan transaksi nasabah.

“Efisiensi biaya dana yang kini berada di level 4,69 persen akan terus kami optimalkan. Fokus kami selanjutnya adalah memperbesar porsi giro dan tabungan melalui penyediaan layanan berbasis teknologi yang adaptif terhadap kebutuhan transaksi nasabah,” kata Ritsuo.

Selain itu, perseroan akan mempercepat pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dan kredit sindikasi. Ritsuo menegaskan bahwa kedua strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat profitabilitas J Trust Bank.

Prospek Kinerja dan Hal yang Perlu Dicermati Investor

Kinerja J Trust Bank hingga Juni 2026 memperlihatkan sejumlah perkembangan pada sisi kredit, kualitas aset, pendanaan, dan permodalan. Penyaluran kredit tumbuh 8,59 persen, sedangkan NPL neto turun menjadi 1,78 persen. Pada saat yang sama, perseroan menekan biaya dana dan meningkatkan rasio kecukupan modal.

Namun, investor tetap perlu mencermati keberlanjutan perkembangan tersebut pada periode berikutnya. Pertumbuhan kredit yang berkelanjutan perlu berjalan seiring dengan pengendalian risiko kredit agar peningkatan penyaluran pinjaman tidak mengurangi kualitas aset.

Selain itu, strategi peningkatan dana murah perlu mendukung efisiensi pendanaan secara konsisten. Pengembangan pendapatan berbasis komisi, kredit sindikasi, dan layanan digital juga menjadi aspek yang dapat diperhatikan dalam menilai perkembangan bisnis perseroan.

Dengan demikian, perkembangan J Trust Bank selanjutnya akan bergantung pada kemampuan perseroan menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, kualitas aset, efisiensi biaya dana, dan pertumbuhan pendapatan. Investor dapat menggunakan laporan keuangan berikutnya untuk menilai apakah perkembangan pada semester pertama 2026 berlanjut sepanjang tahun.

Kesimpulan

J Trust Bank (BCIC) mencatat penyaluran kredit Rp 29,25 triliun pada akhir Juni 2026, tumbuh 8,59 persen dibandingkan akhir 2025. Perseroan juga menurunkan NPL neto menjadi 1,78 persen, menghimpun DPK Rp 33,92 triliun, serta meningkatkan modal menjadi Rp 3,71 triliun.

Di sisi profitabilitas, perseroan membukukan laba bersih Rp 80,23 miliar pada semester I 2026. Selanjutnya, J Trust Bank akan mengembangkan pendapatan berbasis komisi, kredit sindikasi, layanan digital, dan jaringan operasional. Perkembangan indikator tersebut akan menjadi bagian penting dalam memantau kinerja perseroan pada semester berikutnya.

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral ShopeePay Hari ini 2026 | PAKBWFWS4 | Bisa Dapat Saldo Gratis untuk Pengguna Baru

Kode Referral ShopeePay Hari ini 2026 | PAKBWFWS4 | Bisa Dapat Saldo Gratis untuk Pengguna Baru

Kunjungi Artikel