Jayapurnama.com, Bandar Lampung, Saya awalnya hanya berniat mampir sebentar ke mal untuk membeli barang kebutuhan. Tapi entah kenapa, pemandangan hari itu begitu mencolok. Ramai sekali orang di mana-mana, antre lift panjang, food court penuh, parkiran padat. Namun, saat saya perhatikan lebih dalam, tidak banyak yang membawa kantong belanja.
Mata saya mulai jeli menangkap satu per satu kelompok pengunjung yang tampaknya punya agenda berbeda. Mereka bukan pengunjung biasa yang datang dan pergi sambil membawa barang. Sebaliknya, mereka seolah hanya mengisi ruang, beraktivitas, dan menciptakan keramaian tanpa aktivitas ekonomi nyata. Penasaran, saya mencoba mengamati, mencatat, dan akhirnya menemukan istilah-istilah untuk mendeskripsikan tipe-tipe unik ini yang tampaknya sedang menjamur di pusat perbelanjaan di Bandar Lampung.
Mungkin ini hanya pengamatan pribadi saya sebagai warga biasa, tapi saya cukup yakin bahwa fenomena ini makin nyata dari hari ke hari. Bisa jadi semua ini terjadi karena pergeseran gaya hidup masyarakat—dan mungkin juga karena pengaruh toko online yang kini semakin mudah, murah, dan cepat. Mal tak lagi menjadi tempat utama untuk belanja, melainkan tempat untuk berkumpul, cuci mata, hingga sekadar healing.
Tipe pertama yang saya temui adalah ROJALI, yaitu Rombongan Jarang Beli. Mereka datang ramai-ramai, seringkali dengan keluarga atau teman dekat. Mereka menikmati suasana mal, berfoto di spot Instagramable, namun setelah berkeliling, tak ada satu pun kantong belanja di tangan. Aktivitas utama mereka lebih ke jalan-jalan, bukan belanja.
Lalu muncul ROHANA, Rombongan Hanya Nanya. Mereka antusias bertanya detail produk kepada pramuniaga: mulai dari ukuran, warna, stok, sampai promo terbaru. Namun setelah dijelaskan panjang lebar, mereka hanya tersenyum, mengangguk, lalu pergi sambil berkata, “Nanti saya balik lagi ya, Mbak.” Pramuniaga pun hanya bisa pasrah.
Tak kalah unik adalah ROHALUS, atau Rombongan Hanya Elus-elus. Mereka mendatangi etalase produk, menyentuh bahan tas, sepatu, hingga perabotan rumah tangga. Sentuhan lembut mereka seperti pertanda kagum, tapi ujungnya tetap tidak dibeli. Mungkin sensasi menyentuh barang sudah cukup untuk menenangkan rasa penasaran mereka.
Ada juga ROHALI, Rombongan Hanya Lihat-Lihat. Tipe ini sangat sering terlihat terutama di akhir pekan. Mereka masuk toko demi toko, memperhatikan detail barang, sesekali komentar, tapi tidak melakukan pembelian apapun. Mereka tampak tenang, tidak tergesa-gesa, dan benar-benar seperti sedang window shopping profesional.
ROCEGA, Rombongan Cek Harga, juga tak kalah ramai. Mereka datang dengan niat membandingkan harga antar toko. Biasanya membawa catatan kecil atau memotret label harga. Tapi setelah itu, mereka pulang dan memilih membeli secara online atau di tempat lain yang lebih murah. Fenomena ini makin umum sejak e-commerce tumbuh pesat.
Tipe berikutnya adalah ROMANSA, Rombongan Manis Senyum Aja. Mereka datang dengan pasangan atau sahabat, duduk santai di bangku umum atau food court, tapi tidak membeli apa pun. Aktivitas mereka hanya tertawa, ngobrol, sesekali foto bersama. Mereka mencari suasana, bukan barang.
Sementara itu, ROTASI, Rombongan Tanpa Transaksi, adalah gabungan dari semua tipe di atas. Mereka bisa datang dari pagi hingga sore, mengelilingi seluruh area mal, tapi tidak satu pun transaksi terjadi. Meski begitu, kehadiran mereka menciptakan kesan ramai yang semu bagi tenant dan pengunjung lainnya.
Tren selfie turut melahirkan ROSALI, Rombongan Suka Selfie. Mereka membawa kamera atau ponsel terbaru, mengenakan outfit terbaik, dan berpose di setiap sudut mal. Toko kosmetik, eskalator, dan dinding berlampu neon jadi favorit mereka. Aktivitas ini lebih berorientasi pada konten media sosial ketimbang belanja.
Lalu ada ROCADOH, Rombongan Cari Jodoh. Mereka umumnya anak muda yang datang dengan pakaian modis, berpura-pura melihat-lihat toko gadget atau fashion, tapi mata mereka lebih sering menatap sekeliling mencari kontak mata. Tujuan utama bukan transaksi, tapi interaksi.
Untuk yang sekadar mencari hiburan visual, muncul juga ROCUTA, Rombongan Cuci Mata. Mereka melihat-lihat produk baru, desain interior toko, hingga dekorasi musiman di mal. Kegiatan ini seperti terapi visual, menghibur mata dan hati walau kantong tetap aman.
Dan yang cukup menyentuh hati adalah ROMUSA, Rombongan Muka Susah. Biasanya mereka datang dengan ekspresi kosong atau gelisah. Mungkin karena ingin membeli sesuatu tapi tidak cukup uang, atau sekadar ingin melupakan beban pikiran dengan melihat-lihat barang impian.
Setelah mengamati semuanya, saya mulai berpikir bahwa mal di Bandar Lampung—dan mungkin juga di kota-kota lain—telah berubah fungsi. Ia bukan lagi hanya tempat transaksi jual beli, tapi juga menjadi tempat rekreasi, hiburan, bahkan pelarian dari tekanan hidup. Perubahan ini mungkin juga didorong oleh kenyamanan belanja daring yang menawarkan harga lebih murah dan tidak perlu keluar rumah.
Kini, setiap kali saya masuk mal, saya sudah bisa menebak siapa Rojali, siapa Rohana, dan siapa yang sedang jadi Rosali. Dan saya tidak bisa menyalahkan mereka. Dunia berubah, dan mungkin mereka hanya sedang menyesuaikan diri. Tapi dari kacamata pebisnis, ini tentu jadi tantangan besar—bagaimana menciptakan pengalaman belanja yang tidak hanya membuat orang datang, tapi juga melakukan transaksi nyata.






