Minggu, 25 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Seperempat Data Center Dunia Terancam Krisis Air

Oleh Jaya Purnama · 24/10/2026 · 1:59 am
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Jakarta, sekitar seperempat data center di seluruh dunia berada di wilayah yang mengalami kekurangan pasokan air setidaknya selama satu bulan dalam setahun. Temuan ini menyoroti risiko lingkungan dari pertumbuhan infrastruktur digital yang menopang layanan komputasi awan hingga kecerdasan buatan (AI).

Studi terbaru dalam jurnal Environmental Science & Technology mengungkap persoalan tersebut setelah tim peneliti memetakan 9.347 data center di berbagai negara. Tim yang dipimpin Carnegie Institution for Science di Amerika Serikat menemukan bahwa sekitar 25% fasilitas itu berada di wilayah dengan permintaan air yang melampaui ketersediaan setempat.

Selain itu, tekanan terhadap sumber air berpotensi meningkat seiring pemanasan global dan kebutuhan pendinginan perangkat komputasi. Berdasarkan pemodelan iklim dengan asumsi kenaikan suhu rata-rata global mencapai 3 derajat Celsius dibandingkan tingkat pada 1900, proporsi lokasi data center yang mengalami tekanan air diperkirakan naik menjadi 33% dalam 10 tahun.

Lorenzo Rosa, ilmuwan lingkungan dari Carnegie Institution for Science, mengingatkan bahwa fasilitas tersebut berdiri di tengah kawasan yang juga membutuhkan air untuk kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa data center berbagi sumber air dengan kota dan lahan pertanian, sehingga pertumbuhan industri ini perlu memperhitungkan kondisi lingkungan setempat.

Data Center Dunia Menghadapi Tekanan Air

Data center membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga suhu peralatan tetap stabil dan mendukung operasional sepanjang waktu. Fasilitas berukuran besar bahkan dapat mengonsumsi air per hari sebanyak kebutuhan sebuah kota dengan populasi 50.000 orang.

Salah satu metode pendinginan mengandalkan penguapan air untuk membuang panas dari peralatan. Karena itu, operator kerap membutuhkan air tawar dalam jumlah besar. Ketika fasilitas berada di wilayah yang mengalami kekeringan, kebutuhan tersebut dapat menambah tekanan terhadap pasokan air bagi masyarakat dan sektor produktif lainnya.

Sementara itu, perkembangan layanan digital terus meningkatkan peran pusat data dalam kehidupan sehari-hari. Infrastruktur ini mendukung berbagai aktivitas, mulai dari pemrosesan permintaan AI dan penyimpanan foto serta video hingga layanan streaming musik.

Berbeda dengan listrik yang dapat disalurkan melalui jaringan dari wilayah lain, operator data center umumnya harus memperoleh air dari sumber di sekitar fasilitas. Sumber tersebut mencakup sungai, danau, serta akuifer atau lapisan batuan yang menyimpan air tanah. Ketersediaannya pun dapat berubah mengikuti musim dan kondisi iklim.

Lorenzo Rosa menjelaskan bahwa industri teknologi telah mengukur konsumsi energi dengan lebih terperinci karena penggunaan listrik tercatat dan dilaporkan. Sebaliknya, pengukuran kelangkaan air berlangsung secara lokal dengan metode yang tidak konsisten. Bahkan, sejumlah wilayah tidak mengukur persoalan tersebut secara memadai.

Oleh karena itu, tim peneliti menyusun peta global untuk membantu mengidentifikasi lokasi data center yang menghadapi tekanan air. Pemetaan ini memberikan gambaran mengenai hubungan antara lokasi infrastruktur digital dan ketersediaan sumber daya air di sekitarnya.

Data Center Bersaing dengan Kota dan Pertanian

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kebutuhan air data center beririsan langsung dengan kepentingan pengguna lain. Sebanyak 41% data center di dunia bersaing dengan kota dan pemerintah daerah untuk memperoleh pasokan air. Sementara itu, sektor pertanian menjadi pengguna air utama di sekitar 28% lokasi lainnya.

Persaingan tersebut menjadi persoalan penting karena masyarakat membutuhkan air untuk minum, sanitasi, dan berbagai aktivitas rumah tangga. Pada saat yang sama, petani memerlukan pasokan yang cukup untuk mengairi lahan dan menjaga produksi pangan.

Kondisi yang lebih mengkhawatirkan muncul pada 523 fasilitas dalam penelitian tersebut. Jumlah itu sedikit lebih dari 5% total data center yang diteliti. Lokasi-lokasi tersebut sudah mengalami kesenjangan pasokan air selama sedikitnya sembilan bulan dalam setahun.

Dengan demikian, persoalan air tidak hanya menyangkut kemampuan operator menjaga server tetap beroperasi. Pengambilan air dalam jumlah besar juga dapat meningkatkan tekanan terhadap pengguna lain yang bergantung pada sumber air yang sama.

Perubahan Iklim Memperbesar Risiko Kekurangan Air

Dampak pemanasan global terhadap ketersediaan air berbeda-beda di setiap negara. Model iklim dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi data center di Amerika Serikat yang berpotensi melewati ambang batas tekanan air akibat kenaikan suhu berada di negara itu.

Sebaliknya, Inggris dan Jerman diperkirakan tidak mengalami perubahan besar dalam kondisi yang dimodelkan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa risiko air bergantung pada karakteristik iklim, ketersediaan sumber air, dan lokasi fasilitas.

Para peneliti juga memperingatkan bahwa operator data center biasanya memiliki kemampuan finansial dan dukungan kelembagaan untuk mengamankan pasokan air selama sumber tersebut masih tersedia. Akibatnya, risiko terbesar mungkin justru muncul pada masyarakat, pemerintah daerah, dan sektor pertanian yang menggunakan sumber air yang sama.

Namun, penelitian ini belum memastikan besarnya dampak tekanan air terhadap operasional setiap fasilitas atau terhadap pengguna lain. Para peneliti menilai bahwa kajian lanjutan masih diperlukan untuk memahami konsekuensi nyata dari persaingan pasokan air tersebut.

Transparansi dan Aturan Khusus Menjadi Sorotan

Salah satu tantangan utama dalam mengatasi masalah ini adalah keterbatasan informasi mengenai konsumsi air data center. Perusahaan teknologi besar yang mengoperasikan fasilitas tersebut belum sepenuhnya mengungkapkan secara terperinci kebutuhan air dan dampaknya terhadap sumber daya alam.

Padahal, transparansi dapat membantu pemerintah dan masyarakat memahami seberapa besar tekanan yang muncul akibat kegiatan industri tersebut. Data yang konsisten juga dapat mendukung perencanaan pasokan air serta membantu regulator menentukan kebijakan sesuai kondisi setiap wilayah.

Karena itu, para peneliti menilai bahwa pelaporan yang lebih terbuka perlu mendapat dukungan regulator dan pemerintah. Aturan yang sesuai dapat membantu pemantauan konsumsi air, terutama di wilayah yang sudah menghadapi keterbatasan pasokan.

Selain transparansi, operator dapat mempertimbangkan sejumlah langkah untuk mengurangi ketergantungan pada air tawar. Salah satunya adalah memanfaatkan air limbah yang telah diolah sebagai sumber alternatif untuk kebutuhan pendinginan.

Operator juga dapat mengkaji penggunaan air laut yang telah melalui pengolahan sesuai kebutuhan teknis dan lingkungan. Di samping itu, peningkatan efisiensi sistem pengelolaan panas dapat membantu mengurangi kebutuhan air pada fasilitas tertentu.

Pemilihan Lokasi Data Center Perlu Memperhitungkan Air

Pertumbuhan kebutuhan komputasi membuat pembangunan data center tetap penting bagi perkembangan layanan digital. Meski begitu, perusahaan perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya alam sejak tahap perencanaan, bukan hanya memperhatikan pasokan listrik, jaringan komunikasi, dan biaya operasional.

Pemilihan lokasi yang mempertimbangkan kondisi air dapat membantu operator mengurangi risiko gangguan operasional dalam jangka panjang. Langkah ini juga dapat membatasi persaingan dengan masyarakat dan sektor pertanian, khususnya di wilayah yang rentan terhadap kekeringan.

Selain itu, pemerintah membutuhkan data yang memadai untuk menilai dampak pembangunan fasilitas baru terhadap sumber air setempat. Dengan informasi yang lebih lengkap, pengelola wilayah dapat mempertimbangkan kebutuhan industri bersama kepentingan rumah tangga, pertanian, dan lingkungan.

Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan data center tidak hanya bergantung pada ketersediaan energi dan kemajuan teknologi. Tata kelola air, transparansi penggunaan sumber daya, efisiensi pendinginan, serta keputusan lokasi pembangunan juga berperan penting dalam menjaga kelangsungan operasionalnya.

Para peneliti menekankan bahwa industri data center membutuhkan keputusan pembangunan dan tata kelola yang memperhitungkan batas ketersediaan air setempat. Pendekatan tersebut dapat membantu menjaga layanan digital tetap berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan air masyarakat dan sektor lain.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.