Negara yang Pernah Menjajah Tiongkok: Mongol, Manchu, Jepang, hingga Inggris

Jaya Purnama

Negara yang Pernah Menjajah Tiongkok: Mongol, Manchu, Jepang, hingga Inggris
Negara yang Pernah Menjajah Tiongkok: Mongol, Manchu, Jepang, hingga Inggris

JayaPurnama.com – Beijing, Tiongkok, Sejarah Tiongkok mencatat berbagai invasi, pendudukan, dan intervensi asing yang mengubah perjalanan negara tersebut selama berabad-abad. Bangsa Mongol, Manchu, Jepang, Inggris, serta sejumlah kekuatan Eropa pernah menguasai wilayah Tiongkok atau memaksakan pengaruh politik dan ekonomi di negeri itu.

Namun, istilah penjajahan dalam sejarah Tiongkok memerlukan penjelasan. Sebagian penguasa asing mendirikan dinasti yang memerintah hampir seluruh wilayah kekaisaran. Sementara itu, negara lain merebut wilayah tertentu, menduduki daerah strategis, atau memaksakan perjanjian yang membatasi kedaulatan pemerintah Tiongkok.

Karena itu, tidak semua peristiwa tersebut memiliki bentuk yang sama. Dinasti Yuan dan Qing, misalnya, berasal dari kelompok etnis di luar pusat kekuasaan Han. Sebaliknya, Inggris dan kekuatan Barat lainnya memperluas pengaruh melalui perang, konsesi, pelabuhan perjanjian, serta penguasaan wilayah tertentu.

Bangsa Mongol dan berdirinya Dinasti Yuan

Bangsa Mongol menjadi salah satu kekuatan asing yang berhasil menaklukkan sebagian besar Tiongkok. Di bawah kepemimpinan Kubilai Khan, bangsa Mongol menyelesaikan penaklukan Dinasti Song Selatan pada abad ke-13. Kubilai kemudian mendirikan Dinasti Yuan pada 1271.

Dinasti Yuan memerintah Tiongkok hingga 1368. Pemerintahan tersebut menjadi bagian dari Kekaisaran Mongol yang sebelumnya berkembang pesat di berbagai wilayah Asia. Dengan demikian, kekuasaan Mongol membawa perubahan besar dalam pemerintahan, perdagangan, dan hubungan Tiongkok dengan dunia luar.

Meski begitu, pemerintahan Yuan menghadapi berbagai persoalan. Ketegangan sosial, kesulitan ekonomi, dan pemberontakan melemahkan kekuasaan dinasti tersebut. Akhirnya, pasukan pemberontak berhasil mengusir penguasa Yuan dari ibu kota dan mendirikan Dinasti Ming pada 1368.

Peristiwa ini sering masuk dalam pembahasan mengenai penaklukan asing di Tiongkok. Namun, sejarawan juga mengkaji bagaimana penguasa Yuan mengadopsi sejumlah tradisi administrasi kekaisaran Tiongkok sambil mempertahankan identitas Mongol.

Manchu mendirikan Dinasti Qing

Bangsa Manchu berasal dari wilayah timur laut Asia yang kini menjadi bagian dari Tiongkok. Mereka memperluas kekuatan politik dan militernya pada awal abad ke-17. Setelah melemahkan Dinasti Ming, pasukan Manchu memasuki Beijing pada 1644 dan memulai pemerintahan Dinasti Qing.

Dinasti Qing kemudian memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup berbagai daerah di Asia Timur dan Asia Tengah. Dinasti ini memerintah Tiongkok sampai 1912, ketika revolusi mengakhiri sistem kekaisaran dan membuka jalan bagi berdirinya Republik Tiongkok.

Meskipun berasal dari luar kelompok mayoritas Han, penguasa Qing mengadopsi banyak unsur pemerintahan kekaisaran Tiongkok. Mereka mempertahankan sistem birokrasi, menjalankan administrasi wilayah yang luas, dan memadukan tradisi Manchu dengan kebudayaan setempat.

Oleh karena itu, para sejarawan tidak selalu menyebut Yuan dan Qing sebagai penjajahan dalam pengertian kolonial modern. Kedua dinasti tersebut merupakan dinasti penakluk yang kemudian memerintah sebagai bagian dari sejarah kekaisaran Tiongkok.

Inggris menguasai Hong Kong setelah Perang Opium

Berbeda dari Mongol dan Manchu, Inggris memperluas kekuasaannya di Tiongkok melalui peperangan dan perjanjian yang memihak kepentingan kolonial. Konflik tersebut berkaitan dengan perdagangan, hubungan diplomatik, dan upaya Inggris memperoleh akses lebih luas ke pasar Tiongkok.

Perang Opium Pertama berlangsung pada 1839–1842. Setelah Dinasti Qing mengalami kekalahan, Perjanjian Nanjing pada 1842 menyerahkan Pulau Hong Kong kepada Inggris. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam melemahnya kedaulatan Tiongkok pada abad ke-19.

Inggris kemudian memperluas wilayah koloninya. Konvensi Beijing pada 1860 menyerahkan bagian selatan Semenanjung Kowloon kepada Inggris. Selanjutnya, Konvensi untuk Perluasan Wilayah Hong Kong pada 1898 memberikan hak sewa atas Wilayah Baru selama 99 tahun.

Selain menguasai wilayah tersebut, Inggris memperoleh berbagai keuntungan perdagangan dan diplomatik melalui perjanjian dengan pemerintah Qing. Sejumlah negara asing juga mendapatkan hak istimewa di pelabuhan perjanjian dan hak ekstrateritorial, yang membatasi kewenangan hukum pemerintah Tiongkok terhadap warga asing tertentu.

Akhirnya, Inggris menyerahkan Hong Kong kepada Tiongkok pada 1 Juli 1997. Penyerahan tersebut mengakhiri pemerintahan kolonial Inggris di wilayah itu dan menjadikan Hong Kong Daerah Administratif Khusus Tiongkok.

Jepang menduduki wilayah Tiongkok

Jepang menjadi salah satu negara yang melakukan agresi militer paling luas terhadap Tiongkok pada abad ke-20. Sebelum Perang Tiongkok-Jepang Kedua meletus pada 1937, Jepang telah memperluas pengaruhnya di Asia Timur melalui kemenangan militer dan penguasaan wilayah strategis.

Pada 1931, Jepang menggunakan Insiden Mukden sebagai alasan untuk menduduki Manchuria. Setahun kemudian, Jepang membentuk Manchukuo sebagai negara boneka di wilayah tersebut. Pemerintahan itu berada di bawah pengaruh kuat militer Jepang dan tidak memiliki kedaulatan yang mandiri.

Pada Juli 1937, konflik berskala besar antara Jepang dan Tiongkok kembali pecah. Pasukan Jepang kemudian merebut sejumlah kota penting, termasuk Beijing, Shanghai, dan Nanjing. Pendudukan Nanjing pada akhir 1937 diikuti pembantaian warga sipil dan tawanan perang serta berbagai tindak kekerasan yang menimbulkan korban besar.

Namun, Jepang tidak pernah menguasai seluruh wilayah Tiongkok secara efektif. Pemerintah Nasionalis Tiongkok, pasukan komunis, dan kelompok perlawanan lainnya terus berjuang melawan pendudukan. Wilayah pedalaman yang luas juga menyulitkan Jepang mengendalikan seluruh negeri.

Perang Tiongkok-Jepang Kedua kemudian menjadi bagian dari Perang Dunia II. Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, pendudukannya di Tiongkok daratan berakhir. Sementara itu, Taiwan yang sebelumnya berada di bawah pemerintahan kolonial Jepang sejak 1895 kembali berada di bawah administrasi Republik Tiongkok pada 1945.

Pengalaman tersebut meninggalkan dampak mendalam dalam sejarah nasional Tiongkok. Hingga kini, agresi Jepang dan penderitaan masyarakat selama perang menjadi bagian penting dalam ingatan sejarah serta hubungan kedua negara.

Kekuatan Barat dan Abad Penghinaan

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Tiongkok menghadapi tekanan dari berbagai kekuatan asing. Periode ini sering disebut Abad Penghinaan dalam narasi sejarah nasional Tiongkok. Istilah tersebut merujuk pada serangkaian kekalahan militer, perjanjian tidak setara, kehilangan wilayah, dan campur tangan asing.

Selain Inggris, Prancis, Rusia, Jerman, Amerika Serikat, dan Portugal turut memperluas kepentingannya di Tiongkok. Namun, peran masing-masing negara berbeda. Ada yang menguasai wilayah tertentu, membangun konsesi, memperoleh hak perdagangan, atau memperluas pengaruh melalui tekanan diplomatik.

Prancis, misalnya, memperoleh berbagai keuntungan di Tiongkok setelah terlibat dalam konflik bersama Inggris. Sementara itu, Jerman menguasai Teluk Jiaozhou melalui sewa wilayah pada 1898. Rusia memperluas pengaruhnya di Manchuria dan memperoleh wilayah di Timur Jauh melalui serangkaian perjanjian dengan Dinasti Qing.

Amerika Serikat juga memperoleh hak istimewa perdagangan dan diplomatik melalui perjanjian dengan pemerintah Qing. Meskipun tidak menjajah seluruh Tiongkok, kebijakan negara tersebut ikut membentuk sistem hubungan internasional yang memberikan keuntungan bagi kekuatan asing.

Portugal menguasai Makau selama berabad-abad. Pada 1887, perjanjian antara Portugal dan Dinasti Qing memperkuat kedudukan Portugal dalam mengelola wilayah tersebut. Makau akhirnya kembali ke pemerintahan Tiongkok pada 20 Desember 1999.

Di sisi lain, sejumlah kota Tiongkok memiliki konsesi asing yang menjalankan administrasi tersendiri. Shanghai menjadi salah satu contoh paling menonjol. Keberadaan konsesi tersebut memperlihatkan bagaimana kekuatan asing dapat mengendalikan bagian tertentu dari kehidupan ekonomi dan hukum tanpa menduduki seluruh negeri.

Apakah seluruh Tiongkok pernah dijajah negara asing?

Jawabannya bergantung pada pengertian penjajahan yang digunakan. Jika istilah tersebut mencakup dinasti penakluk asing yang memerintah Tiongkok, Dinasti Yuan dan Qing menjadi dua contoh utama. Namun, jika penjajahan berarti penguasaan kolonial oleh kekuatan asing modern, sejarah Hong Kong, Makau, dan pendudukan Jepang memerlukan pembahasan tersendiri.

Tidak ada satu pun negara asing yang berhasil mempertahankan pemerintahan kolonial atas seluruh wilayah Tiongkok modern secara permanen. Meski begitu, berbagai kekuatan pernah menduduki wilayah luas, menguasai daerah strategis, dan memaksa pemerintah Tiongkok menerima ketentuan yang merugikan kedaulatannya.

Karena itu, sejarah Tiongkok tidak cukup dijelaskan melalui daftar negara penjajah saja. Pembahasan juga perlu memperhatikan perbedaan antara penaklukan dinasti, kolonialisme teritorial, pendudukan militer, dan dominasi ekonomi.

Pada akhirnya, pengalaman tersebut membentuk perkembangan politik, identitas nasional, dan hubungan luar negeri Tiongkok. Memahami perbedaan setiap periode membantu pembaca melihat sejarah secara lebih akurat tanpa menyamakan seluruh bentuk penguasaan asing.

Kesimpulan

Bangsa Mongol mendirikan Dinasti Yuan, sedangkan bangsa Manchu membentuk Dinasti Qing. Inggris menguasai Hong Kong, Portugal memerintah Makau, dan Jepang menduduki sebagian besar wilayah Tiongkok selama perang pada abad ke-20.

Sementara itu, Prancis, Rusia, Jerman, dan Amerika Serikat turut memperluas pengaruh melalui konsesi, perjanjian tidak setara, serta hak istimewa perdagangan. Masing-masing memiliki peran berbeda dalam sejarah Tiongkok.

Dengan demikian, istilah penjajahan perlu digunakan secara cermat. Sejarah tersebut mencakup penaklukan dinasti, pendudukan militer, kolonialisme, dan intervensi asing yang memberikan dampak besar terhadap perjalanan Tiongkok hingga era modern.

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Bank Aladin | 4890HZ | Oktober 2026 dan Dapat Bonus Rp50 Ribu

Kode Referral Bank Aladin | 4890HZ | Oktober 2026 dan Dapat Bonus Rp50 Ribu

Kunjungi Artikel