Jayapurnama.com – Akuisisi Bayan Resources oleh PT Jhonlin Baratama menempatkan ekspansi bisnis kelompok Jhonlin dan skema pendanaannya dalam perhatian pasar. Perusahaan itu resmi membeli 30,25 persen saham produsen batu bara tersebut. Pada saat bersamaan, dua perusahaan terafiliasi Haji Isam mengungkapkan penjaminan saham kepada Bank Mandiri.
Rangkaian transaksi ini memunculkan pertanyaan mengenai sumber pembiayaan dan risiko bagi kreditur. Namun, keterbukaan yang tersedia belum menjelaskan nilai fasilitas, bunga, tenor, maupun penggunaan kredit. Karena itu, perkiraan besaran pinjaman dan dampaknya masih bergantung pada asumsi analis.
Akusisi Bayan Resources mengalihkan 30,25 persen saham
Jhonlin Baratama merampungkan pembelian saham Bayan Resources pada 7 Oktober 2026. Manajemen BYAN mengumumkan penyelesaian perjanjian jual beli bersyarat melalui laporan fakta material yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan.
Dalam transaksi tersebut, Jhonlin Baratama mengambil alih 10,08 miliar saham biasa atau setara 30,25 persen modal ditempatkan dan disetor BYAN. Datoβ Low Tuck Kwong mengalihkan sekitar 10,06 miliar saham, sedangkan Elaine Low menyerahkan 16,67 juta saham.
Setelah transaksi, Elaine Low memegang 22,05 persen saham dan Datoβ Low Tuck Kwong menyisakan 9,95 persen. Manajemen Bayan menyatakan transaksi itu tidak mengubah pengendali perseroan dan tidak berdampak negatif terhadap operasional maupun kondisi keuangan perusahaan.
Perhatian terhadap transaksi ini sebelumnya menguat setelah muncul kabar rencana pengambilalihan saham Bayan oleh perusahaan yang dikendalikan Haji Isam. Laporan awal menyebut tawaran untuk membeli 62 persen saham milik Low Tuck Kwong dan putrinya. Namun, informasi penyelesaian yang disampaikan perusahaan mencatat pembelian Jhonlin sebesar 30,25 persen.
JARR dan PGUN menjaminkan saham kepada Bank Mandiri
Pada 7 Oktober, Jhonlin Agro Raya (JARR) dan Pradiksi Gunatama (PGUN) menyampaikan informasi mengenai penjaminan saham kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kedua perusahaan memiliki keterkaitan dengan kelompok usaha Haji Isam. Perjanjian penjaminan tersebut dibuat pada 30 September 2026.
JARR menjaminkan 7,99 miliar saham melalui perusahaan pengendalinya, PT Eshan Agro Sentosa. Jumlah itu setara 86,64 persen saham beredar JARR. Sementara itu, tiga pemegang saham PGUN menjaminkan total 5,30 miliar saham kepada bank.
Ketiga pemegang saham PGUN tersebut adalah PT Araya Agro Lestari, PT Citra Agro Raya, dan PT Baramega Citra Mulia Persada. Secara keseluruhan, saham yang mewakili seluruh porsi pengendali di JARR dan PGUN masuk dalam jaminan.
Meski begitu, laporan kedua emiten belum merinci nilai fasilitas kredit, tingkat bunga, jangka waktu, dan rencana penggunaan dana. Informasi yang tersedia hanya menjelaskan penjaminan saham. Dengan demikian, belum ada kepastian publik mengenai hubungan langsung antara fasilitas tersebut dan pembayaran akuisisi BYAN.
Bursa Efek Indonesia meminta penjelasan kepada JARR dan PGUN sesuai Peraturan Bursa Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi. Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Yosita mengatakan bursa meminta para pihak mencermati pengumuman dan keterbukaan informasi kedua emiten.
Analis menilai nilai agunan memiliki sejumlah risiko
Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin memperkirakan kredit Bank Mandiri dapat mencapai Rp 26,1 triliun apabila akuisisi Bayan sepenuhnya dibiayai utang. Angka itu merupakan perkiraan dalam skenario tersebut, bukan nilai kredit yang diumumkan oleh bank ataupun perusahaan.
Menurut laporan riset Mirae Asset pada 9 Oktober 2026, saham JARR dan PGUN yang dijaminkan memiliki nilai pasar sekitar Rp 73 triliun per 8 Oktober. Nilai itu terdiri atas Rp 24,9 triliun untuk JARR dan Rp 48,1 triliun untuk PGUN.
Dengan membandingkan perkiraan kredit dan nilai saham, Mirae Asset menghitung cakupan agunan sekitar 2,8 kali. Rasio nilai kredit terhadap agunan atau loan-to-value (LTV) tersirat berada di kisaran 36 persen. Namun, hasilnya berubah ketika analis memakai acuan harga saham yang berbeda.
Perhitungan menggunakan harga rata-rata 90 hari menaikkan LTV menjadi 41 persen. Jika memakai harga terendah dalam periode yang sama, rasionya berpotensi mencapai 65 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penurunan harga saham dapat mengurangi bantalan agunan secara signifikan.
Risiko juga berkaitan dengan komposisi jaminan. Sekitar 66 persen nilai saham yang dijaminkan berasal dari PGUN. Menurut Nurkholis, saham tersebut memiliki likuiditas rendah, dengan nilai transaksi harian di bawah Rp 1 miliar, serta diperdagangkan pada valuasi tinggi.
Kondisi itu dapat menyulitkan kreditur jika perlu menjual saham untuk menutup kewajiban yang macet. Nurkholis menilai paket saham PGUN praktis sulit dilikuidasi melalui pasar reguler dalam keadaan seperti itu. Penilaian tersebut menjadi salah satu alasan Mirae Asset melihat potensi tekanan terhadap saham BMRI.
Analis juga menyoroti terbatasnya ruang untuk menambah jaminan. Karena seluruh porsi saham pengendali JARR dan PGUN telah dijaminkan, Jhonlin tidak memiliki sisa saham pada dua emiten itu untuk menambah agunan apabila harga turun lebih dari 64 persen, menurut perhitungan Nurkholis.
Kondisi Bank Mandiri dan pengalaman pasar 2008
Mirae Asset mengaitkan penilaiannya dengan sejumlah kondisi Bank Mandiri. Rasio pinjaman terhadap simpanan atau LDR bank mencapai 94,4 persen pada Agustus 2026. Pada periode yang disebut dalam laporan, deposito berjangka tumbuh 48 persen secara tahunan, yang menurut analis berpotensi menekan margin.
Laporan itu juga mencatat rasio kecukupan modal bank-only sebesar 17,5 persen pada semester pertama 2026. Mirae Asset menyebut penerbitan modal tambahan tier 1 pada bulan sebelumnya sebagai salah satu perkembangan yang terkait dengan kebutuhan modal. Analis turut menyoroti kenaikan biaya kredit sektor konstruksi BUMN.
Cost of credit Bank Mandiri mendekati kisaran panduan 60β80 basis poin, sedangkan rasio loan loss coverage tercatat 2,4 persen. Mirae Asset menilai tingkat pencadangan tersebut berada di bawah rata-rata sejumlah bank besar. Angka-angka ini menjadi bagian dari pertimbangan analis, bukan kepastian bahwa kerugian akan terjadi.
Untuk mengilustrasikan risiko penurunan nilai agunan, laporan Mirae Asset membandingkan situasi ini dengan gejolak saham Bumi Resources pada 2008. Saat itu, Grup Bakrie mengagunkan saham BUMI dan perusahaan afiliasi untuk memperoleh pinjaman sekitar 1,2β1,4 miliar dolar AS.
Menurut perbandingan dalam laporan tersebut, LTV awal transaksi BUMI berkisar 20β25 persen. Ketika harga saham merosot dari Rp 8.750, nilai jaminan ikut jatuh dan LTV kemudian menembus 100 persen. Peristiwa itu diikuti suspensi enam saham Grup Bakrie dan tekanan jual pada BUMI setelah perdagangan kembali.
Pengalaman tersebut tidak memastikan bahwa kondisi serupa akan terulang. Namun, perbandingan itu menjelaskan mengapa besaran agunan, likuiditas saham, dan ruang untuk menambah jaminan menjadi perhatian. Pasar kini menunggu penjelasan lebih rinci dari JARR dan PGUN, sementara pembiayaan akuisisi Bayan belum dijabarkan secara terbuka.








