Pengusaha California Ditangkap, Diduga Selundupkan Hardware Nvidia Rp 5,3 Triliun ke China

Jaya Purnama

Pengusaha California Ditangkap, Diduga Selundupkan Hardware Nvidia Rp 5,3 Triliun ke China
Pengusaha California Ditangkap, Diduga Selundupkan Hardware Nvidia Rp 5,3 Triliun ke China

JayaPurnama.com – California, Amerika Serikat, Pengusaha berusia 38 tahun Greg Lui menghadapi kasus dugaan penyelundupan hardware Nvidia senilai sekitar 300 juta dollar AS atau Rp 5,3 triliun ke China.

Jaksa Amerika Serikat menuduh Lui mengirim server dengan chip Nvidia berperforma tinggi tanpa mengantongi izin ekspor. Sementara itu, Pemerintah AS terus membatasi pengiriman teknologi komputasi canggih ke China.

Menurut jaksa, Lui menjalankan skema tersebut melalui perusahaan miliknya, Earthmade Computer Inc. Perusahaan itu membeli sejumlah perangkat Nvidia dari perusahaan di AS sebelum mengirimkannya melalui negara lain.

Dugaan penyelundupan hardware Nvidia menuju China

Lui diduga membeli berbagai perangkat keras Nvidia yang masuk dalam kategori teknologi berperforma tinggi. Perangkat tersebut mencakup server dengan GPU Nvidia A100 dan H100.

Selain itu, jaksa juga menyebut GeForce RTX 4090 dan GeForce RTX 5090 dalam rangkaian pengadaan tersebut. Perangkat itu kemudian tidak langsung menuju China dari Amerika Serikat.

Menurut jaksa, pengiriman berlangsung melalui Malaysia dan Singapura. Setelah tiba di kedua negara tersebut, perangkat kemudian diduga bergerak menuju China.

Cara tersebut diduga bertujuan menghindari aturan kontrol ekspor AS. Pemerintah AS menerapkan pembatasan tersebut untuk mencegah teknologi canggih mendukung pengembangan kecerdasan buatan atau AI di China.

Skema pengiriman berlangsung sejak 2023

Jaksa menyebut skema tersebut berlangsung sejak sekitar Oktober 2023 hingga setidaknya 12 Agustus 2026. Dalam periode itu, Lui diduga menerima pembayaran lebih dari 176 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,1 triliun dari dua perusahaan Malaysia.

Kedua perusahaan tersebut diduga meminta bantuan Lui untuk membeli perangkat Nvidia dari perusahaan AS. Selanjutnya, perangkat bergerak menuju China melalui Malaysia.

Karena itu, penyidik menilai jalur pengiriman tersebut memiliki kaitan dengan upaya menghindari pembatasan ekspor. Kasus ini juga menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap distribusi perangkat komputasi berperforma tinggi.

Selain transaksi tersebut, penyidik menemukan dokumen terkait pengiriman 92 unit server. Pengiriman itu berangkat dari Bandara Internasional San Francisco menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Dokumen pengiriman mengarah ke Earthmade Computer

Dokumen pengiriman mencantumkan Earthmade Computer sebagai pihak yang melakukan pemesanan. Setelah tiba di Malaysia, perangkat tersebut diduga melanjutkan perjalanan menuju Hong Kong.

Jaksa menyebut pelanggan akhir dalam rangkaian pengiriman itu berasal dari China. Dengan demikian, jalur Malaysia dan Hong Kong diduga menjadi bagian penting dalam distribusi perangkat tersebut.

Sementara itu, penyidik juga menyoroti penggunaan identitas berbeda dalam sejumlah pengiriman. Jaksa menuduh Lui menggunakan identitas palsu untuk menyamarkan penerima barang.

Dalam salah satu kasus, Lui diduga meminta perusahaan AS mencantumkan nama Jackie Lui sebagai penerima barang. Nama tersebut muncul dalam dokumen pengiriman yang menjadi bagian dari penyelidikan.

Mengapa AS membatasi ekspor chip canggih?

Pemerintah AS membatasi ekspor chip dan perangkat komputasi canggih ke China. Kebijakan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran terhadap penggunaan teknologi untuk mengembangkan sistem AI berkemampuan tinggi.

Nvidia memiliki sejumlah GPU yang mampu menangani beban komputasi besar. Karena itu, perangkat seperti A100 dan H100 memiliki nilai strategis dalam pengembangan pusat data dan teknologi AI.

Di sisi lain, produk GeForce seperti RTX 4090 dan RTX 5090 juga memiliki kemampuan komputasi tinggi. Namun, aturan ekspor dapat membatasi distribusi produk tertentu berdasarkan spesifikasi dan tujuan penggunaannya.

Kasus Greg Lui menunjukkan bagaimana pihak tertentu diduga mencoba memanfaatkan jalur perdagangan internasional untuk memindahkan perangkat yang terkena pembatasan. Pemerintah AS kini menghadapi tantangan untuk mengawasi rantai pasok teknologi yang melewati beberapa negara.

Kasus Nvidia menunjukkan rumitnya kontrol teknologi

Perjalanan perangkat melalui beberapa negara membuat pengawasan ekspor menjadi lebih kompleks. Sebelumnya, perusahaan dapat mengirim barang dari AS ke negara tujuan melalui jalur perdagangan yang lebih langsung.

Namun, penggunaan negara perantara dapat membuat proses pelacakan menjadi lebih panjang. Karena itu, otoritas perlu memeriksa dokumen, pihak pembeli, penerima barang, serta tujuan akhir pengiriman.

Kasus ini juga memperlihatkan tingginya nilai ekonomi perangkat komputasi canggih. Nilai hardware yang mencapai sekitar 300 juta dollar AS menunjukkan besarnya permintaan terhadap teknologi pemrosesan berperforma tinggi.

Selanjutnya, proses hukum terhadap Lui akan menentukan bagaimana jaksa membuktikan dugaan pelanggaran tersebut. Rangkaian transaksi dan dokumen pengiriman menjadi bagian penting dalam perkara yang melibatkan kontrol ekspor teknologi AS.

Pada akhirnya, kasus ini menambah perhatian terhadap distribusi GPU Nvidia dan perangkat komputasi canggih di tengah ketatnya aturan ekspor AS. Pemerintah AS berupaya menjaga agar teknologi tersebut tidak berpindah ke pihak atau negara yang terkena pembatasan.

[/CONTENT]

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu