Jayapurnama.com – Jakarta, IHSG dibayangi foreign outflow pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan melemah 1,02% atau 61,64 poin ke level 6.009,50.
Tekanan jual sempat membawa IHSG menyentuh level 5.973. Pelemahan itu terjadi meski sejumlah data ekonomi domestik memberikan sentimen positif bagi pasar.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai arus dana asing yang keluar masih membebani indeks. Namun, ia melihat peluang konsolidasi dan rebound teknikal tetap terbuka jika IHSG mampu menembus level tertentu.
Foreign outflow menekan pergerakan IHSG
Reza mengatakan derasnya arus dana asing keluar dari pasar saham menjadi sumber tekanan utama. Kondisi tersebut membatasi dampak positif dari surplus perdagangan Indonesia pada Agustus.
Surplus perdagangan bulan itu mencapai US$ 3,55 miliar. Reza menyebut angka tersebut sebagai katalis positif, tetapi tekanan foreign outflow masih cukup kuat untuk membebani pergerakan saham.
Selain itu, inflasi September mencapai 3,28% secara tahunan atau year on year. Angka tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah upaya menilai arah kondisi ekonomi domestik.
Dengan demikian, investor menghadapi sejumlah sentimen yang bergerak berlawanan. Surplus perdagangan memberi dukungan, sementara arus modal keluar dan inflasi menambah kewaspadaan.
Short selling dan reshuffle kabinet jadi perhatian
Pelaku pasar juga mencermati penerapan short selling yang mulai berlaku pada Kamis. Pada tahap awal, kebijakan ini mencakup saham ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF.
Penerapan tersebut menjadi salah satu perkembangan pasar yang dapat diperhatikan investor. Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan dampak kebijakan itu terhadap pergerakan masing-masing saham.
Di dalam negeri, perkembangan politik terkait reshuffle kabinet turut masuk dalam perhatian pasar. Investor mencermati perubahan tersebut bersama faktor ekonomi yang memengaruhi prospek pasar saham.
Sementara itu, perhatian terhadap pasar global mulai beralih ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Indikator tenaga kerja dan inflasi menjadi sorotan karena dapat memberi petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Reza mengatakan investor akan melihat pengaruh data AS terhadap ekspektasi kebijakan bank sentral tersebut. Karena itu, perkembangan global dan domestik sama-sama berpotensi membentuk sentimen perdagangan dalam waktu dekat.
Indikator teknikal masih menunjukkan tekanan
Dari sisi teknikal, IHSG masih berada dalam tekanan setelah menembus level 6.019. Indeks juga mengakhiri perdagangan di sekitar level psikologis 6.000.
Indikator MACD masih menunjukkan momentum bearish. Sinyal ini mencerminkan tekanan yang belum reda, meskipun pergerakan indeks berikutnya tetap bergantung pada respons pasar terhadap berbagai sentimen.
Reza memperkirakan IHSG berpotensi memasuki fase konsolidasi pada kisaran 6.000–6.200. Kisaran tersebut menunjukkan peluang indeks bergerak terbatas sambil menunggu arah sentimen yang lebih jelas.
Untuk level teknikal, area 5.854 menjadi support berikutnya. Sementara itu, resistance berada pada rentang 6.185–6.240.
Peluang rebound bergantung pada level 6.185
Kemampuan IHSG untuk kembali menembus 6.185 menjadi salah satu titik yang akan dicermati pasar. Menurut Reza, keberhasilan melewati level tersebut dapat membuka ruang bagi technical rebound.
Namun, peluang itu tidak menghapus tekanan yang berasal dari arus dana asing. Investor juga masih perlu memperhatikan inflasi domestik, perkembangan politik, penerapan short selling, serta data ekonomi Amerika Serikat.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan indeks dapat tetap bergejolak selama pasar menimbang berbagai faktor. Level 6.000 menjadi batas psikologis yang penting, sedangkan rentang resistance 6.185–6.240 memberi gambaran area yang perlu ditembus untuk mendukung pemulihan.
Di sisi lain, support 5.854 menjadi level yang perlu dicermati jika tekanan jual berlanjut. Perkembangan harga di sekitar level tersebut dan arus dana asing akan membantu menggambarkan kekuatan pasar selanjutnya.
Reza melihat peluang konsolidasi tetap terbuka, tetapi momentum rebound memerlukan dorongan dari pergerakan indeks. Karena itu, pasar akan mencermati apakah IHSG mampu kembali melewati 6.185 atau justru bergerak di sekitar level 6.000.








