Rupiah Menguat ke Rp17.925/US$ di Awal Perdagangan, Pasar Cermati Sentimen Global

Jaya Purnama

Rupiah Menguat ke Rp17.925/US$ di Awal Perdagangan, Pasar Cermati Sentimen Global
Rupiah Menguat ke Rp17.925/US$ di Awal Perdagangan, Pasar Cermati Sentimen Global

Jayapurnama.com – Jakarta, rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Jumat (2/10/2026). Penguatan ini terjadi setelah rupiah melemah pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp17.925 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 0,08% dibandingkan penutupan Kamis (1/10/2026) di level Rp17.940 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY berada di level 102,107 pada pukul 09.00 WIB. Pasar kemudian mencermati sejumlah sentimen domestik dan global yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah sepanjang perdagangan.

Rupiah Menguat, Pasar Cermati Sentimen Domestik

Pergerakan rupiah pada Jumat berlangsung di tengah sejumlah agenda ekonomi dalam negeri. Pelaku pasar memberikan perhatian terhadap reshuffle kabinet dan implementasi kebijakan short selling.

Selain itu, pasar turut mencermati respons terhadap data manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi yang telah dirilis sebelumnya. Data tersebut menjadi bagian dari pertimbangan pelaku pasar dalam melihat kondisi ekonomi Indonesia.

Di pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat pada perdagangan Kamis. Yield tersebut naik 5,3 basis poin menjadi 7,159% dari posisi sebelumnya sebesar 7,106%.

Kenaikan yield SBN tenor 10 tahun menunjukkan harga obligasi tersebut mengalami pelemahan. Karena itu, perkembangan pasar obligasi domestik ikut menjadi perhatian ketika investor mencermati arah pergerakan rupiah.

Yield US Treasury Jadi Perhatian Utama

Dari pasar global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi salah satu sentimen penting bagi pasar valuta asing. Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,34% pada Kamis.

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2002. Setelah mencapai posisi tersebut, yield kemudian turun ke kisaran 5,26%.

Yield obligasi AS yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi itu kemudian berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara itu, pelaku pasar menunggu sejumlah data ekonomi AS. Data tersebut mencakup klaim pengangguran, ISM Manufacturing, tingkat pengangguran, dan non-farm payrolls.

Selanjutnya, pasar akan menggunakan data tersebut untuk membaca kondisi ekonomi AS. Perkembangan data tenaga kerja dan aktivitas manufaktur juga menjadi perhatian dalam melihat arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Data Ekonomi AS Bisa Memengaruhi Pasar

Kinerja dolar AS masih menjadi faktor penting dalam pergerakan mata uang global. Karena itu, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memengaruhi arus dana di pasar keuangan.

Pelaku pasar akan mencermati apakah data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang kuat atau mengalami perlambatan. Selanjutnya, hasil data tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter AS.

Di sisi lain, posisi DXY pada level 102,107 menunjukkan perhatian pasar terhadap kekuatan dolar masih tinggi. Pergerakan indeks tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan bersama perkembangan yield US Treasury.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada awal perdagangan belum berdiri sendiri. Pasar masih menghadapi berbagai faktor yang dapat memengaruhi nilai tukar hingga perdagangan berakhir.

Konflik Timur Tengah Tekan Sentimen Pasokan Minyak

Selain faktor pasar keuangan, perkembangan konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian investor. Harga minyak dunia melonjak lebih dari US$4 per barel pada Kamis.

Kenaikan tersebut terjadi karena pasar mengkhawatirkan pasokan energi global. Kekhawatiran meningkat setelah AS dikabarkan mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah dan China menghentikan ekspor produk minyak.

China menghentikan ekspor produk minyak ke berbagai wilayah di luar Hong Kong dan Makau. Sementara itu, Rusia melarang ekspor diesel hingga Oktober.

Kebijakan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan bahan bakar global. Terlebih lagi, situasi tersebut dapat menimbulkan tekanan lebih besar apabila konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Rupiah Menghadapi Banyak Sentimen

Pergerakan rupiah pada Jumat berlangsung di tengah kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, pasar mencermati kebijakan pemerintah serta perkembangan data ekonomi yang telah tersedia.

Dari luar negeri, investor memperhatikan yield US Treasury, kekuatan dolar AS, data ekonomi AS, serta perkembangan harga minyak. Setiap perubahan pada faktor tersebut dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap aset negara berkembang.

Sementara itu, kenaikan harga minyak juga perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kondisi pasokan energi global. Perubahan harga komoditas tersebut dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap tekanan ekonomi dan inflasi.

Pada awal perdagangan Jumat, rupiah tercatat menguat 0,08% ke Rp17.925 per dolar AS. Namun, pasar masih akan mencermati berbagai sentimen sepanjang perdagangan untuk melihat arah pergerakan mata uang Indonesia selanjutnya.

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu