jayapurnama.com – Jakarta, rupiah menguat 33 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.866 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu. Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.899 per dolar AS. Perubahan tersebut menunjukkan rupiah dibuka lebih kuat dibandingkan posisi penutupan, meski arah pergerakan selanjutnya masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan pergerakan rupiah cenderung datar dengan peluang penguatan yang terbatas. Menurutnya, investor memilih bersikap wait and see sambil menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia pada siang hari dan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada malam hari. Dua agenda itu menjadi fokus karena masing-masing berkaitan dengan informasi mengenai kondisi devisa Indonesia dan penilaian kebijakan moneter Amerika Serikat.
Rupiah terhadap dolar AS dibayangi sikap wait and see
Sikap hati-hati pelaku pasar membuat dua informasi tersebut menjadi perhatian dalam perdagangan hari ini. Data cadangan devisa dapat memberikan gambaran mengenai posisi devisa Indonesia, sementara risalah FOMC dinantikan untuk mengetahui pembahasan dan penilaian para pembuat kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Sebelum kedua informasi itu tersedia, investor belum memiliki keseluruhan keterangan yang ditunggu untuk menilai perkembangan pasar pada hari tersebut.
Lukman menyampaikan bahwa penguatan rupiah pada pembukaan berlangsung di tengah penantian investor tersebut. Karena itu, proyeksi pergerakan yang ia sampaikan bukan berupa penguatan besar, melainkan pergerakan relatif datar dengan potensi menguat secara terbatas. Perkiraan itu perlu dibedakan dari posisi pembukaan: rupiah memang tercatat menguat 33 poin pada awal perdagangan, sedangkan proyeksi menggambarkan kisaran dan kecenderungan pergerakan yang diperkirakan selama perdagangan.
Dengan demikian, posisi Rp17.866 per dolar AS pada pembukaan belum dengan sendirinya menggambarkan hasil akhir perdagangan Rabu. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan setelah data cadangan devisa diumumkan dan setelah risalah FOMC dirilis. Kedua agenda tersebut menjadi latar bagi perkiraan bahwa pergerakan rupiah dapat berlangsung terbatas, bukan bergerak dengan penguatan yang besar.
Pasar menunggu risalah pertemuan FOMC
Risalah rapat Federal Reserve bulan September menjadi salah satu perhatian investor. Mengutip Anadolu, pelaku pasar menantikan dokumen itu untuk memperoleh wawasan lebih lanjut mengenai keputusan para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga dan penilaian mereka terhadap risiko inflasi. Risalah tersebut dinantikan sebagai keterangan mengenai pembahasan dan pertimbangan yang menyertai keputusan, bukan sebagai pengumuman keputusan suku bunga baru.
Perkiraan pasar mengenai peluang kenaikan suku bunga juga berubah. Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip Xinhua, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober diperkirakan sekitar 24 persen. Angka tersebut turun dari 71 persen pada pekan sebelumnya. Perbandingan itu menunjukkan bahwa perkiraan yang tercermin dalam data tersebut berbeda dibandingkan pekan sebelumnya, sementara angka 24 persen tetap merupakan perkiraan peluang pasar.
Perubahan perkiraan itu menjadi bagian dari perhatian pasar menjelang publikasi risalah. Namun, informasi tersebut merupakan perkiraan pelaku pasar, bukan keputusan baru mengenai suku bunga. Investor masih menunggu isi risalah untuk memperoleh keterangan lebih jauh mengenai pertimbangan para pembuat kebijakan. Karena itu, angka peluang dalam CME FedWatch dan isi risalah merupakan dua hal yang berkaitan dengan perhatian pasar, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai informasi yang sama.
Bagi pelaku pasar valuta asing, penantian tersebut berlangsung bersamaan dengan pemantauan terhadap pergerakan indeks dolar AS dan nilai tukar lainnya. Dalam perdagangan Rabu, Lukman menyebut indeks dolar AS terkoreksi seiring rebound euro. Perkembangan itu menjadi salah satu faktor dalam penjelasannya mengenai kondisi pasar, sementara isi risalah FOMC masih belum dirilis pada saat investor menantikan dokumen tersebut.
Cadangan devisa diperkirakan turun
Selain perkembangan di Amerika Serikat, investor menanti data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan rilis pada siang hari. Cadangan devisa diperkirakan menurun dari 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026 menjadi 144 miliar dolar AS. Dengan demikian, angka yang menjadi perhatian sebelum rilis adalah perkiraan penurunan sebesar 2,5 miliar dolar AS dibandingkan posisi pada akhir Agustus.
Angka tersebut masih berupa perkiraan menjelang rilis data. Nilai 144 miliar dolar AS belum merupakan angka yang diumumkan dalam data pada hari itu, sehingga hasil publikasi tetap perlu dibedakan dari estimasi yang beredar sebelumnya. Investor menunggu rilis tersebut untuk memperoleh angka cadangan devisa yang disampaikan, setelah sebelumnya mencermati perkiraan perubahan dari posisi akhir Agustus.
Jadwal publikasi pada siang hari juga membuat data cadangan devisa menjadi salah satu agenda yang diperhatikan dalam rangkaian perdagangan Rabu. Bersama risalah FOMC yang dijadwalkan terbit malam, data tersebut membuat investor menanti informasi dari dalam negeri maupun perkembangan kebijakan di Amerika Serikat. Keduanya merupakan agenda yang berbeda, tetapi sama-sama disebut sebagai perhatian pasar pada hari itu.
Dolar AS terkoreksi, rupiah diprediksi di rentang Rp17.850–Rp17.950
Lukman juga menyebut indeks dolar AS terpantau terkoreksi seiring rebound euro. Pergerakan itu menjadi salah satu faktor yang ia sampaikan dalam menjelaskan kondisi pasar valuta asing pada perdagangan Rabu. Keterangan mengenai indeks dolar tersebut melengkapi perhatian terhadap agenda data dan risalah, tetapi tidak mengubah status kedua agenda itu sebagai informasi yang masih dinantikan investor.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Kisaran itu mencakup posisi pembukaan rupiah di Rp17.866 per dolar AS. Pada awal perdagangan, rupiah tercatat menguat dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.899 per dolar AS, sedangkan proyeksi kisaran menggambarkan perkiraan rentang pergerakan yang disampaikan Lukman.
Rentang tersebut memberi gambaran mengenai batas pergerakan yang diperkirakan, bukan kepastian bahwa rupiah akan berada pada titik tertentu. Perkiraan Lukman tetap menunjukkan kecenderungan datar dengan peluang penguatan terbatas. Dengan kata lain, penguatan pada pembukaan menjadi perkembangan awal perdagangan, sementara arah selanjutnya masih dicermati seiring pelaku pasar menunggu informasi yang dijadwalkan keluar.
Pergerakan selanjutnya masih akan dicermati seiring keluarnya data cadangan devisa dan risalah FOMC. Investor menanti angka resmi cadangan devisa setelah muncul perkiraan penurunan, serta menunggu isi risalah untuk memahami pembahasan para pembuat kebijakan. Di tengah indeks dolar AS yang terkoreksi seiring rebound euro, perhatian pada agenda tersebut berjalan beriringan dengan proyeksi rupiah yang relatif datar dan berpeluang menguat secara terbatas.





