QRIS Bikin Negara Lain Panas-Dingin: Transformasi Digital RI Kian Melaju

Jaya Purnama

Jayapurnama.com – Jakarta, Di sebuah ruangan ballroom hotel kawasan Kuningan, para tamu undangan tampak memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Airlangga Hartarto. Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu menyampaikan sesuatu yang membuat banyak orang tertegun—QRIS kini membuat sejumlah negara lain “panas-dingin”.

Awal Cerita Perkembangan QRIS

Pernyataan itu bukan sekadar gurauan panggung. Airlangga menggambarkan perjalanan panjang Quick Response Code Indonesian Standard yang kini menjadi wajah baru sistem pembayaran modern Indonesia. Teknologi yang dulu hanya dianggap sebagai alat praktis untuk transaksi kini menjelma menjadi simbol kemajuan digital tanah air.

Dalam pidatonya, Airlangga menuturkan bagaimana QRIS telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan pedagang kecil di pasar tradisional, penjual kopi di pinggir jalan, hingga pelaku usaha besar yang kini tak lagi asing dengan kode QR berwarna hitam putih itu.

Semua berkembang cepat, nyaris tanpa hambatan. Dan yang mengejutkan, bukan hanya masyarakat Indonesia yang merasakan manfaatnya, tetapi juga negara-negara lain yang kini ikut membuka pintu untuk sistem pembayaran ini.

QRIS Mendunia dan Diadopsi Banyak Negara

Airlangga memamerkan angka yang mencengangkan: 57 juta konsumen dan 39 juta merchant telah menggunakan QRIS. Bukan hanya dalam negeri, pelayanan lintas negara juga berkembang pesat.

Negara-negara seperti:

  • Thailand
  • Malaysia
  • Filipina
  • Singapura
  • Vietnam
  • Laos
  • Brunei
  • Jepang
  • Korea

telah menerima kehadiran dan kompatibilitas QRIS, membuka peluang transaksi lintas batas yang semakin mulus.

Dengan adopsi seluas itu, tak heran jika Airlangga mengatakan sistem pembayaran negara lain kini merasa terancam. QRIS datang membawa efisiensi dan kemudahan yang sulit diabaikan.

Lonjakan Ekonomi Digital Indonesia

Pemerintah melihat era digital bukan sekadar tren, tetapi masa depan. Airlangga menegaskan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia yang pada awalnya berada di angka US$ 90 miliar, kini ditargetkan melesat hingga US$ 360 miliar di tahun 2030 melalui kerangka kerja DEFA (ASEAN Digital Economic Framework Agreement).

Bahkan, potensi sebenarnya diperkirakan bisa mencapai US$ 600 miliar jika transformasi digital berjalan lebih agresif. Nilai itu mencerminkan betapa besar peluang yang bisa diraih Indonesia.

Transformasi digital bukan sekadar memajukan pasar, tetapi juga menciptakan sistem yang lebih inklusif bagi usaha kecil dan menengah. Terutama lewat QRIS yang memudahkan transaksi UMKM hingga pedagang mikro yang sebelumnya sulit tersentuh layanan keuangan modern.

QRIS sebagai Pilar Transaksi Lintas Negara

Dalam ekonomi digital, transaksi lintas negara kini menjadi tulang punggung kolaborasi regional. QRIS mendukung hal tersebut melalui integrasi sistem pembayaran antarnegara.

Inisiatif ini memungkinkan wisatawan atau pelaku bisnis melakukan pembayaran menggunakan QRIS saat berada di negara lain yang sudah terhubung. Hal ini memperkuat kegiatan ekonomi dan menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dalam inovasi pembayaran berbasis QR di kawasan Asia Tenggara.

Bagi UMKM, kemudahan ini membantu mereka memperluas pasar tanpa harus memahami sistem pembayaran rumit atau mahal. QRIS telah menjadi jembatan antara bisnis lokal dan pasar global.

Akselerasi Infrastruktur Digital: AI, Semikonduktor, hingga Genomik

Namun, perjalanan digital Indonesia tidak berhenti di QRIS. Pemerintah menyoroti bahwa masa depan ekonomi digital juga dipengaruhi oleh penguatan infrastruktur teknologi.

Beberapa sektor yang menjadi fokus pemerintah antara lain:

  • Pengembangan Artificial Intelligence (AI)
  • Riset dan produksi semikonduktor
  • Teknologi genome sequencing untuk kesehatan
  • Peningkatan pusat data dan teknologi komputasi
  • Ekosistem startup yang mendukung inovasi berkelanjutan

Penguatan infrastruktur ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih solid, mulai dari sektor kesehatan, bisnis, hingga pendidikan.

Start-Up Lokal Masih Tertinggal dan Tantangannya

Meski Indonesia memiliki potensi besar, Airlangga mengungkapkan bahwa jumlah startup lokal masih sangat sedikit. Saat ini Indonesia baru memiliki sekitar 45 startup, jauh di bawah negara lain.

Sebagai perbandingan:

  • Malaysia memiliki lebih dari 60 startup
  • Singapura mencapai 495 startup

Perbedaan ini menunjukkan masih banyak ruang yang harus dibangun. Pemerintah ingin startup lokal menjadi pilar penting dalam mendukung akselerasi ekonomi dan inovasi digital.

Pembangunan ekosistem startup diharapkan dapat mendorong munculnya inovasi baru, memperkuat daya saing Indonesia, serta menciptakan lapangan kerja baru yang berbasis teknologi.

Menuju Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia

Di akhir pidatonya, Airlangga menegaskan bahwa Indonesia sedang berdiri di persimpangan penting dalam sejarah transformasi digital. QRIS telah membuka jalan, namun langkah berikutnya membutuhkan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.

Transformasi digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan pola pikir. QRIS menjadi contoh nyata bahwa inovasi yang sederhana bisa membawa dampak besar—mulai dari pedagang kecil hingga perdagangan lintas negara.

Indonesia kini sedang berlari kencang. Dengan potensi ekonomi digital mencapai ratusan miliar dolar, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi digital di kawasan Asia.

Dan pada hari itu di Kuningan, Airlangga menunjukkan bukti bahwa perjalanan tersebut telah dimulai.

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu
Pengalaman Daftar Yup PayLater: Limit Hingga Rp100 Juta dan Cicilan 0% di Maret 2026

Pengalaman Daftar Yup PayLater: Limit Hingga Rp100 Juta dan Cicilan 0% di Maret 2026

Kunjungi Artikel