Jayapurnama.com, Jakarta – Belakangan ini, junta militer Myanmar menjadi sorotan dunia setelah melakukan serangkaian penggerebekan terhadap puluhan gedung pusat scam online di wilayah perbatasan. Dalam salah satu operasi, sebanyak 1.049 orang, sebagian besar warga negara China, nekat melarikan diri ke Thailand setelah pusat cyber scam terbesar di negara itu digerebek.
Militer Myanmar pun mengumumkan rencana menghancurkan sekitar 150 bangunan yang digunakan sebagai markas kejahatan siber. Langkah ini disebut sebagai bagian operasi besar-besaran dalam memberantas jaringan penipuan internasional yang semakin mencemaskan.
Pusat scam online ini bukan fenomena baru. Selama beberapa tahun terakhir, Myanmar tak hanya dikenal dengan konflik internalnya, tetapi juga sebagai “surga” bagi pelaku kejahatan siber lintas negara. Mulai dari penipuan finansial, judi online, hingga perdagangan manusia, semuanya ditata dalam jaringan terorganisir yang beroperasi dengan memanfaatkan kekosongan hukum.
Pusat Scam di Perbatasan Myanmar
Di perbatasan Myanmar dengan China, India, Laos, dan Thailand, berdiri ratusan gedung megah yang berfungsi sebagai pusat operasi scam. Gedung-gedung ini seringkali berpenampilan resmi layaknya kawasan bisnis, namun di dalamnya berlangsung tindak kejahatan siber berskala global.
- Ratusan bangunan dikuasai sindikat kriminal.
- Mayoritas operatornya warga negara asing, terutama China.
- Kawasan perbatasan dipilih karena minim pengawasan pusat.
Sebagai negara yang berada di tengah kekacauan politik dan perang saudara, banyak wilayah di Myanmar menjadi area “abu-abu” bagi hukum. Kondisi ini dimanfaatkan sindikat berkedok bisnis digital untuk membangun pusat penipuan online. Hal ini juga diperparah oleh dugaan adanya oknum militer dan kelompok etnis bersenjata yang turut mendapat keuntungan melalui pemungutan pajak informal.
Paralel dengan Kamboja dan Negara Kawasan
Tak hanya Myanmar yang menjadi “surga” scammer. Kamboja juga menyaksikan tren serupa, terutama di kota-kota seperti Sihanoukville. Banyak dari bangunan yang awalnya dibangun untuk tujuan pariwisata, beralih fungsi menjadi sarang kriminal.
- Sindikat internasional memindahkan operasinya dari Makau ke Asia Tenggara.
- Beijing mendorong tindakan keras terhadap perjudian online lintas batas.
- Kejahatan siber semakin merajalela di area tanpa penegakan hukum kuat.
Lemahnya kerjasama antar negara, korupsi, dan tingginya keuntungan dari bisnis penipuan membuat pihak berwenang kerap kesulitan melakukan tindakan efektif.
Mengapa Myanmar Menjadi Sarang Kejahatan Siber?
Ada beberapa faktor yang menjadikan Myanmar sebagai salah satu pusat scam global:
- Perang saudara dan konflik etnis yang tak kunjung selesai.
- Lemahnya pemerintahan dan sistem hukum.
- Dugaan afiliasi militer dengan operator kejahatan.
- Zona bebas hukum di perbatasan negara.
Menurut Clara Fong dan Abi McCowan dari Council on Foreign Relations, situasi ini diperparah oleh usaha kelompok-kelompok bersenjata etnis dan milisi yang selalu mencari sumber pendanaan alternatif melalui pajak informal dari operasional pusat scam.
“Di tengah kekacauan politik, pusat kejahatan siber tumbuh subur karena minimnya penegakan hukum dan adanya keuntungan terselubung bagi aktor-aktor bersenjata di dalam negeri,” tulis mereka.
Korban Perdagangan Manusia
Di balik keuntungan yang diraih sindikat, ada kisah kelam dari mereka yang dipaksa bekerja dalam kondisi tidak manusiawi. Diperkirakan lebih dari 200.000 orang telah diperdagangkan ke Myanmar dan Kamboja untuk dipekerjakan di operasional scam.
- Mereka dipaksa bekerja tanpa upah layak.
- Korban berasal dari berbagai negara dan benua.
- Kondisi kerja sangat buruk, bahkan disertai ancaman fisik.
PBB mencatat bahwa sebagian besar korban adalah pencari kerja yang tertipu dengan iming-iming pekerjaan digital atau customer service, namun berakhir di bawah kendali kriminal.
Respons Cina, ASEAN, dan Dunia Internasional
China adalah negara yang paling dirugikan oleh jaringan ini karena warganya menjadi korban terbanyak. Setelah bertahun-tahun memberi dukungan kepada junta Myanmar, kini Beijing mulai bersikap keras.
- Dukungan terselubung pada serangan kelompok pemberontak.
- Pemulangan puluhan ribu warga China dari Myanmar.
- Gencarnya diplomasi regional untuk memberantas pusat scam.
Di sisi lain, Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris turut serta menjatuhkan sanksi terhadap kelompok yang terlibat dalam perdagangan manusia dan kejahatan siber.
Mafia SCAM Terus Bergerak
Walaupun beberapa pusat telah dihancurkan, jaringan ini tidak serta-merta punah. Banyak sindikat kriminal justru memindahkan operasinya ke lokasi baru — seperti ke Negara Bagian Karen atau perbatasan lebih jauh ke dalam Myanmar.
“Meski dikejar, mafia kejahatan siber selalu menemukan wilayah abu-abu baru untuk melanjutkan operasinya.”
Sejumlah negara seperti Thailand kini harus berurusan dengan imbas keamanan nasional akibat aktivitas kriminal di negara tetangga mereka.
Penutup: Tantangan Membasmi Pusat Scam Online
Tantangan terbesar dalam membasmi kejahatan ini bukan hanya soal menghancurkan bangunan atau menangkap pelaku, tetapi juga tentang membenahi sistem pemerintahan, memperkuat hukum, dan memastikan tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh sindikat siber.
Jeratan penipuan online ini menunjukkan bagaimana konflik politik lokal dapat berdampak global. Selama kemiskinan, korupsi, dan ketidakstabilan masih terjadi, Myanmar dan negara sekitarnya akan tetap menjadi sorotan dunia sebagai pusat kejahatan siber.





