Jayapurnama.com – Jakarta, tren penggunaan smartphone di kalangan Gen Z mulai mengalami perubahan. Sebagian anak muda kini mencari perangkat dengan fungsi lebih sederhana karena merasa jenuh dengan ketergantungan pada layar.
Fenomena tersebut mulai terlihat di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah anak muda mulai melirik kembali ponsel jadul atau feature phone sebagai alternatif dari smartphone yang menawarkan banyak aplikasi dan fitur.
Jose Briones, influencer yang mendorong penggunaan ponsel sederhana, melihat perubahan tersebut pada sebagian kelompok Gen Z. Menurutnya, kejenuhan terhadap layar smartphone menjadi salah satu alasan anak muda mencari pengalaman penggunaan ponsel yang lebih terbatas.
Gen Z Mulai Jenuh dengan Smartphone
Briones mengatakan sebagian Gen Z mulai merasa bosan dengan penggunaan smartphone. “Saya pikir Anda bisa melihatnya dengan populasi Gen Z tertentu, mereka bosan dengan layar (smartphone),” kata Briones, dikutip dari CNBC International, Minggu (4/10/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan kebiasaan pada sebagian pengguna muda. Smartphone sebelumnya menjadi perangkat utama untuk komunikasi, hiburan, media sosial, hingga berbagai aktivitas sehari-hari.
Namun, sebagian pengguna kini mencari perangkat yang memiliki fungsi lebih terbatas. Dengan fitur yang lebih sederhana, ponsel tersebut dapat mengurangi berbagai aktivitas digital yang biasanya muncul melalui smartphone.
Karena itu, ponsel jadul kembali mendapatkan perhatian. Feature phone menawarkan fungsi dasar seperti telepon dan pesan, tanpa ekosistem aplikasi seluas perangkat pintar modern.
Ponsel Jadul Kembali Menarik Perhatian
Perubahan tersebut turut membuka peluang bagi perusahaan yang memiliki pengalaman di pasar feature phone. HMD Global menjadi salah satu perusahaan yang mendapat keuntungan dari tren tersebut melalui merek Nokia.
Nokia memiliki sejarah panjang dalam pasar ponsel. Merek tersebut dikenal luas melalui berbagai perangkat yang populer pada awal 2000-an, ketika ponsel dengan tombol fisik masih mendominasi pasar.
Kini, sebagian konsumen kembali mencari karakteristik tersebut. Mereka dapat memilih perangkat dengan fungsi lebih sederhana untuk mengurangi ketergantungan terhadap layar dan aplikasi.
Selain itu, feature phone menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan smartphone. Pengguna tidak mendapatkan akses ke ekosistem aplikasi yang sama luas sehingga aktivitas pada perangkat menjadi lebih terbatas.
Tren ini tidak berarti smartphone kehilangan seluruh peminatnya. Sebaliknya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian konsumen mulai mempertimbangkan kembali cara mereka menggunakan perangkat komunikasi.
Penjualan Feature Phone di AS Meningkat
Data pasar menunjukkan adanya peningkatan minat terhadap feature phone di Amerika Serikat. Penjualan perangkat tersebut mencapai puluhan ribu unit per bulan pada 2022.

RedMagic 12 Pro+ Muncul di Geekbench, Bawa Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6
Kondisi itu menarik perhatian karena terjadi ketika penjualan feature phone secara global justru mengalami penurunan. Artinya, pasar Amerika Serikat memperlihatkan dinamika yang berbeda dibandingkan kondisi global secara keseluruhan.
Sementara itu, pasar feature phone secara global masih banyak bertumpu pada kawasan tertentu. Timur Tengah, Afrika, dan India menjadi wilayah penting bagi perangkat dengan fungsi sederhana tersebut.
Counterpoint Research melaporkan ketiga kawasan itu menyumbang sekitar 80 persen pasar feature phone pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa perangkat sederhana masih memiliki posisi kuat di sejumlah pasar.
Pasar Smartphone Indonesia Juga Mengalami Tekanan
Di sisi lain, pasar smartphone Indonesia juga menghadapi tekanan. Daya beli masyarakat mengalami penurunan sejak beberapa tahun lalu sehingga kondisi pasar perangkat pintar ikut terdampak.
IDC melalui laporan Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker mencatat pasar smartphone Indonesia turun 14,3 persen pada 2023. Pada periode tersebut, jumlah unit yang dikirimkan mencapai sekitar 35 juta unit.
Penurunan tersebut menunjukkan tantangan yang harus dihadapi industri smartphone di Indonesia. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan fitur, tetapi juga harus menyesuaikan pembelian dengan kondisi ekonomi.
Meski begitu, kondisi pasar Indonesia berbeda dengan fenomena kejenuhan smartphone yang muncul di sebagian Gen Z Amerika Serikat. Faktor daya beli menjadi salah satu konteks penting dalam melihat perkembangan pasar perangkat seluler di Indonesia.
Arah Baru Kebiasaan Menggunakan Ponsel
Fenomena kembali melirik ponsel sederhana memperlihatkan perubahan cara sebagian konsumen memandang teknologi. Perangkat tidak selalu harus menawarkan semakin banyak fitur untuk memenuhi kebutuhan setiap pengguna.
Bagi sebagian Gen Z, keterbatasan fitur justru dapat menjadi daya tarik. Pengguna dapat memusatkan perhatian pada komunikasi dasar tanpa terus membuka berbagai aplikasi pada smartphone.
Selain itu, tren tersebut memberikan ruang bagi feature phone untuk kembali masuk dalam percakapan industri. Perusahaan seperti HMD Global dapat memanfaatkan perhatian tersebut untuk mempertahankan pasar ponsel sederhana.
Namun, keberlanjutan tren ini masih bergantung pada perilaku konsumen. Smartphone tetap memiliki peran besar dalam aktivitas digital modern, sementara feature phone menawarkan pilihan bagi pengguna yang menginginkan pengalaman lebih sederhana.
Dengan demikian, kemunculan kembali ponsel jadul tidak serta-merta menandai berakhirnya era smartphone. Fenomena tersebut lebih menunjukkan adanya kebutuhan terhadap pilihan perangkat yang berbeda di tengah semakin kuatnya ketergantungan pada teknologi digital.
[/CONTENT]







