Minggu, 1 November 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Bitcoin Depot Bangkrut, 9.276 ATM Bitcoin Resmi Offline

Dukung
Daftar Isi 6 bagian

JayaPurnama.com – Jakarta, Bitcoin Depot menghentikan seluruh operasional jaringan ATM Bitcoin setelah mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Amerika Serikat. Keputusan ini mengakhiri kegiatan bisnis operator ATM kripto yang sebelumnya memiliki ribuan kios di sejumlah negara.

Perusahaan yang berbasis di Atlanta tersebut sebelumnya mengoperasikan hingga 9.276 kios ATM Bitcoin. Jaringan itu memungkinkan pelanggan menukarkan uang tunai menjadi mata uang kripto Bitcoin di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Namun, seluruh mesin milik perusahaan kini sudah offline.

Kejatuhan Bitcoin Depot memperlihatkan tekanan yang dihadapi bisnis layanan transaksi kripto. Perusahaan menghadapi penurunan kinerja keuangan, perubahan regulasi, serta gugatan hukum terkait dugaan keterlibatan dalam penipuan kripto.

Bitcoin Depot Hentikan Seluruh Operasional ATM Bitcoin

Bitcoin Depot mengajukan permohonan kebangkrutan secara sukarela kepada Pengadilan Kebangkrutan Amerika Serikat untuk Distrik Selatan Texas pada Mei 2026. Perusahaan menempuh langkah tersebut sebagai bagian dari rencana penghentian bisnis dan penjualan aset.

Pengajuan Bab 11 atau Chapter 11 merupakan bagian dari proses hukum kebangkrutan di Amerika Serikat. Dalam kasus ini, Bitcoin Depot menghubungkan proses tersebut dengan rencana mengakhiri kegiatan usaha dan mengelola penjualan aset perusahaan.

Dampaknya kini terlihat pada jaringan layanan perusahaan. Seluruh ATM Bitcoin Depot tidak lagi beroperasi. Kondisi tersebut sekaligus mengakhiri layanan konversi uang tunai menjadi Bitcoin melalui kios milik perusahaan.

Sebelumnya, Bitcoin Depot memiliki jaringan yang mencapai 9.276 kios pada tahun lalu. Perusahaan menjalankan jaringan tersebut di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

Selain itu, penutupan ini menunjukkan perubahan besar bagi perusahaan yang sebelumnya memiliki jangkauan operasional lintas negara. Pelanggan tidak lagi dapat mengandalkan kios Bitcoin Depot untuk melakukan transaksi melalui jaringan tersebut.

Pendapatan Anjlok 49%, Perusahaan Catat Kerugian

Tekanan bisnis Bitcoin Depot juga terlihat dari laporan kinerja keuangan kuartal pertama 2026. Perusahaan mencatat penurunan pendapatan sebesar 49% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Pada periode yang sama, Bitcoin Depot membukukan kerugian bersih sebesar US$9,5 juta. Hasil tersebut berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya ketika perusahaan masih mencatat laba bersih US$12,2 juta.

Tidak hanya pendapatan dan laba bersih, laba kotor perusahaan juga mengalami penurunan tajam. Nilainya merosot 85% menjadi US$45 juta pada kuartal pertama 2026.

Perubahan kinerja tersebut memperlihatkan tekanan keuangan yang semakin besar. Penurunan pendapatan dan peralihan dari laba menjadi rugi memperburuk kondisi bisnis perusahaan.

Karena itu, penghentian operasional tidak muncul sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Perusahaan juga menghadapi tantangan dari sisi keuangan dan lingkungan regulasi yang semakin ketat.

Regulasi Ketat Jadi Alasan Utama Keruntuhan Bisnis

Manajemen Bitcoin Depot menilai perubahan regulasi menjadi salah satu penyebab utama runtuhnya bisnis mereka. CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menjelaskan bahwa sejumlah negara bagian di Amerika Serikat memperketat kewajiban kepatuhan bagi operator ATM Bitcoin.

Dalam siaran pers yang dikutip CoinDesk pada Sabtu (31/10/2026), Holmes menyoroti berbagai aturan baru. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan transaksi hingga larangan operasional ATM Bitcoin di beberapa yurisdiksi.

Selain perubahan aturan, operator juga menghadapi peningkatan gugatan hukum dan tindakan penegakan regulasi. Situasi ini menambah beban bagi perusahaan yang menjalankan layanan transaksi kripto melalui mesin ATM.

Holmes juga menilai perkembangan regulasi terbaru telah memengaruhi kondisi bisnis dan keuangan perusahaan secara signifikan. Menurutnya, model bisnis Bitcoin Depot tidak lagi mampu bertahan dalam kondisi yang berlaku saat ini.

Pernyataan tersebut memperlihatkan tantangan yang muncul ketika industri kripto berhadapan dengan pengawasan pemerintah. Operator tidak hanya perlu mempertahankan kegiatan bisnis, tetapi juga menghadapi kewajiban kepatuhan yang terus berkembang.

Gugatan Penipuan Kripto Tambah Tekanan Industri ATM

Bitcoin Depot juga menghadapi persoalan hukum terkait dugaan memfasilitasi penipuan kripto. Gugatan tingkat tinggi terhadap perusahaan melibatkan Jaksa Agung Massachusetts dan Iowa.

Kasus tersebut menambah tekanan terhadap operasional perusahaan. Terlebih lagi, transaksi melalui ATM kripto juga mendapat perhatian karena meningkatnya kerugian akibat penipuan.

Secara umum, kasus penipuan ATM kripto mencatat kerugian hingga US$389 juta pada tahun lalu. Angka tersebut meningkat 58% dibandingkan 2024.

Lonjakan kerugian itu membuat regulator dan aparat penegak hukum semakin menyoroti aktivitas ATM kripto. Perhatian tersebut berkaitan dengan risiko penyalahgunaan layanan untuk memfasilitasi transaksi yang merugikan masyarakat.

Namun, angka kerugian penipuan tersebut merupakan gambaran kasus ATM kripto secara umum. Angka itu bukan nilai kerugian yang secara khusus dialami Bitcoin Depot.

Dengan meningkatnya perhatian regulator, operator ATM kripto menghadapi tekanan dari dua sisi. Mereka perlu menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memenuhi ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan konsumen dan pencegahan penipuan.

Anak Usaha Kanada Ikut Masuk Proses Kebangkrutan

Proses kebangkrutan Bitcoin Depot juga mencakup entitas anak perusahaan yang beroperasi di Kanada. Perusahaan memasukkan entitas tersebut ke dalam proses peradilan kebangkrutan di Amerika Serikat.

Sementara itu, entitas Bitcoin Depot lainnya yang berada di luar Amerika Serikat akan menjalani penutupan secara bertahap. Proses tersebut mengikuti ketentuan regulasi yang berlaku di setiap negara.

Langkah ini menunjukkan bahwa penghentian bisnis Bitcoin Depot tidak hanya menyangkut jaringan ATM di Amerika Serikat. Perusahaan juga perlu menangani keberadaan entitas bisnisnya di negara lain melalui prosedur hukum masing-masing.

Dengan demikian, proses penutupan perusahaan memiliki cakupan lintas negara. Pengelolaan aset dan penghentian kegiatan usaha perlu mengikuti ketentuan hukum di setiap yurisdiksi terkait.

Industri Kripto Tetap Mengalami Adopsi Institusional

Kejatuhan Bitcoin Depot terjadi ketika industri kripto global justru menunjukkan perkembangan adopsi institusional. Berbagai lembaga semakin memperluas keterlibatan melalui instrumen investasi alternatif, termasuk exchange-traded fund (ETF).

Selain perkembangan ETF, rancangan undang-undang Clarity Act juga menjadi bagian dari dinamika regulasi industri kripto. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa ekosistem aset digital terus mengalami perubahan dari sisi investasi dan kebijakan.

Namun, pertumbuhan adopsi institusional tidak otomatis menjamin keberhasilan seluruh perusahaan yang bergerak di sektor kripto. Bitcoin Depot menjadi contoh bahwa operator layanan tertentu tetap menghadapi risiko bisnis, tekanan keuangan, dan persoalan kepatuhan.

Model bisnis ATM Bitcoin memiliki tantangan tersendiri karena menghubungkan transaksi uang tunai dengan aset digital. Perubahan batas transaksi dan kebijakan operasional dapat memengaruhi kemampuan perusahaan mempertahankan jaringan layanannya.

Pada akhirnya, penghentian operasional Bitcoin Depot menandai berakhirnya jaringan ATM kripto milik salah satu operator besar di Amerika Utara. Penurunan pendapatan, kerugian keuangan, gugatan hukum, dan regulasi yang semakin ketat menjadi rangkaian tekanan yang mengiringi kejatuhan perusahaan tersebut.

Peristiwa ini juga memperlihatkan bahwa perkembangan industri kripto tidak selalu berjalan searah untuk setiap pelaku usaha. Di tengah meningkatnya minat institusional terhadap aset digital, keberlangsungan perusahaan tetap bergantung pada kemampuan menghadapi risiko keuangan dan memenuhi ketentuan hukum.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.