Daftar Isi 6 bagian
JayaPurnama.com – Jakarta, negara-negara Asia perlu mempercepat adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) agar teknologi ini mampu menghasilkan dampak nyata bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat. Bank DBS Indonesia Research menyoroti pentingnya mengarahkan investasi AI menuju sektor yang memberikan manfaat terukur, bukan sekadar mengejar pengembangan teknologi tercanggih.
Dalam laporan bertajuk “Intentional AI: Connecting Intelligence, Capital and Outcomes”, DBS Group Research menjelaskan bahwa tantangan utama kawasan Asia kini terletak pada cara mengubah kecerdasan buatan menjadi hasil nyata. Arus modal menuju sektor AI memang terus berkembang, tetapi investasi tersebut masih terkonsentrasi pada aktivitas tertentu.
Karena itu, kawasan Asia membutuhkan strategi yang menghubungkan teknologi, pembiayaan, infrastruktur, dan penerapan di dunia usaha. Langkah tersebut penting agar AI tidak berhenti sebagai proyek percobaan, tetapi berkembang menjadi solusi yang mampu meningkatkan produktivitas dan membuka peluang ekonomi baru.
Indonesia juga menghadapi peluang serupa. Perkembangan AI di sektor keuangan semakin pesat, mulai dari machine learning dan otomatisasi proses hingga Generative AI (GenAI) serta Agentic AI. Namun, Indonesia perlu memperkuat infrastruktur digital, kapasitas komputasi, pusat data, konektivitas, dan sumber daya manusia agar dapat mengambil peran lebih besar dalam ekonomi AI.
Adopsi AI Asia Perlu Berorientasi pada Hasil
DBS Group Research menilai bahwa pertanyaan penting dalam perkembangan AI bukan lagi sekadar ke mana modal mengalir. Fokus berikutnya ialah bagaimana investor dan pelaku usaha mengubah investasi tersebut menjadi manfaat yang dapat diukur.
Laporan itu menyoroti posisi Asia yang cukup kuat dalam penerapan AI. China, misalnya, memimpin dalam berbagai penggunaan teknologi tersebut. Namun, aliran modal untuk pengembangan AI di kawasan Asia masih tertinggal dibandingkan Amerika Serikat dan Inggris.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan penerapan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan besarnya investasi. Oleh karena itu, Asia perlu membangun ekosistem yang mampu menarik modal sekaligus mendukung implementasi AI dalam skala luas.
Bagi investor, peluang menarik tidak hanya berasal dari perusahaan yang mengembangkan model AI paling canggih. Investor juga dapat melihat perusahaan, infrastruktur, dan institusi yang mampu mengubah kemampuan teknologi menjadi hasil bisnis yang nyata.
Selain itu, sektor yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, kemampuan implementasi yang baik, serta dampak terukur berpotensi menawarkan keunggulan yang lebih sulit ditiru pesaing. Dengan demikian, nilai investasi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemampuan menghasilkan manfaat berkelanjutan.
Dunia Usaha Harus Mengubah Cara Kerja
Bagi perusahaan, tantangan utama terletak pada pemilihan persoalan yang benar-benar penting untuk diselesaikan melalui AI. Teknologi ini perlu mendukung kebutuhan operasional dan tujuan bisnis yang jelas, bukan sekadar mengikuti tren.
Perusahaan juga perlu merancang ulang alur kerja agar pemanfaatan AI menghasilkan perubahan nyata. Misalnya, perusahaan dapat mengevaluasi proses yang menyita banyak waktu, membutuhkan pengolahan data besar, atau memerlukan dukungan pengambilan keputusan.
Namun, penerapan AI tidak otomatis menghasilkan efisiensi. Perusahaan tetap perlu menilai kualitas keluaran sistem, mengukur dampaknya, dan memastikan karyawan memahami cara menggunakan teknologi tersebut secara tepat.
Kepercayaan juga menjadi faktor penting. Perusahaan perlu memastikan sistem AI memiliki tingkat keandalan yang memadai, transparan dalam penggunaannya, serta menyediakan mekanisme pertanggungjawaban ketika terjadi kesalahan.
Dengan pendekatan tersebut, keunggulan kompetitif tidak hanya bergantung pada teknologi yang tersedia. Kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja, menjaga kepercayaan pengguna, dan mencapai hasil secara konsisten juga menentukan keberhasilan perusahaan.
Pemerintah Berperan dalam Memperluas Pemanfaatan AI
Pemerintah memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang mendukung adopsi AI. Regulasi, pengadaan, infrastruktur, dan akuntabilitas menentukan apakah proyek percontohan dapat berkembang menjadi layanan yang bermanfaat bagi masyarakat dalam skala besar.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa penerapan AI mempertimbangkan risiko dan kepentingan publik. Masyarakat membutuhkan sistem yang dapat diandalkan, sementara institusi harus memiliki prosedur yang jelas untuk menangani kesalahan atau dampak yang tidak diinginkan.
Asia sebenarnya memiliki sejumlah modal penting untuk mempercepat perkembangan teknologi ini. Kawasan tersebut memiliki talenta teknik, kapasitas manufaktur besar, infrastruktur digital, serta pasar yang luas.
Di sisi lain, Asia juga menghadapi tantangan besar, mulai dari akses layanan kesehatan, penuaan penduduk, ketahanan terhadap perubahan iklim, hingga inklusi keuangan. Berbagai persoalan tersebut dapat membuka peluang bagi pengembangan solusi AI yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, tantangan sosial tidak hanya menjadi persoalan kebijakan. Jika pelaku usaha, investor, dan pemerintah mampu bekerja sama, kebutuhan tersebut juga dapat mendorong lahirnya industri baru, pasar baru, serta sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Singapura Berpotensi Menjadi Penghubung Ekosistem AI
Singapura memiliki posisi strategis untuk menghubungkan berbagai peluang AI di Asia. Keunggulannya dalam sektor keuangan, hukum, regulasi, dan bisnis lintas negara dapat membantu pembiayaan serta pengembangan proyek teknologi regional.
Selain itu, kemampuan Singapura dalam mendukung pengujian dan tata kelola dapat membantu proyek AI bergerak dari tahap awal menuju penerapan yang lebih luas. Kolaborasi lintas negara juga membuka kesempatan bagi perusahaan untuk memperluas jangkauan solusi mereka.
Tujuan utamanya bukan sekadar menambah jumlah proyek AI. Asia perlu membangun inovasi yang tepercaya, menarik bagi investor, dan mudah diterapkan di berbagai pasar dengan kebutuhan serta regulasi yang berbeda.
Dengan demikian, keberhasilan ekosistem AI membutuhkan kerja sama yang melampaui batas negara. Dukungan pendanaan, infrastruktur, tata kelola, dan kemampuan implementasi harus saling melengkapi agar teknologi memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Indonesia Perlu Memperkuat Infrastruktur AI
Di Indonesia, perkembangan AI mendapat perhatian khusus, termasuk dalam industri perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti peningkatan pemanfaatan teknologi tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Penggunaan AI di sektor keuangan telah berkembang dari machine learning sederhana dan otomatisasi proses menuju Generative AI serta Agentic AI. Perkembangan ini membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung proses pengambilan keputusan.
Meski begitu, Indonesia perlu memastikan bahwa pertumbuhan pemanfaatan AI juga mendorong penciptaan nilai ekonomi di dalam negeri. Jika tidak memiliki strategi yang tepat, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan dari negara lain.
Karena itu, penguatan infrastruktur menjadi salah satu agenda penting. Indonesia perlu memperhatikan sejumlah komponen berikut:
- Pusat data: menyediakan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data yang mendukung kebutuhan AI.
- Kapasitas komputasi: mendukung pemrosesan model dan aplikasi AI yang membutuhkan sumber daya besar.
- Layanan cloud: membantu perusahaan mengakses sumber daya komputasi secara fleksibel.
- Konektivitas digital: mendukung pertukaran data dan akses layanan di berbagai wilayah.
- Infrastruktur pendukung: memastikan fasilitas teknologi dapat beroperasi secara andal.
- Sumber daya manusia: menyiapkan tenaga ahli yang mampu mengembangkan, mengelola, dan mengevaluasi sistem AI.
Selain infrastruktur, Indonesia juga membutuhkan strategi investasi dan tata kelola yang seimbang. Perusahaan harus dapat memanfaatkan AI secara produktif, sedangkan regulator perlu memastikan pengelolaannya memperhatikan keamanan, risiko, dan akuntabilitas.
Pada akhirnya, kemampuan Indonesia menangkap peluang ekonomi AI tidak hanya bergantung pada adopsi teknologi. Kesiapan infrastruktur, kualitas talenta, iklim investasi, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan akan ikut menentukan posisi Indonesia dalam persaingan regional.
CNBC Indonesia dan DBS Bahas Masa Depan AI
Untuk membahas potensi, dampak, dan tantangan adopsi AI di Indonesia, CNBC Indonesia bersama Bank DBS Indonesia akan menggelar forum Coffee Morning pada Selasa, 3 November 2026.
Forum tersebut mengangkat tema “Beyond AI Adoption: Indonesia’s Role in the AI Economy”. Sejumlah pembicara dari berbagai pemangku kepentingan akan membagikan perspektif mengenai perkembangan AI dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.
Diskusi ini juga akan membahas langkah konkret serta sinergi yang diperlukan agar Indonesia dapat menangkap peluang ekonomi dari perkembangan kecerdasan buatan. Infrastruktur, investasi, dan kesiapan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pembahasan tersebut.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun diskusi yang konstruktif dan kolaboratif. Tujuannya ialah mendorong adopsi AI yang memberikan manfaat nyata sehingga Indonesia tidak hanya berperan sebagai konsumen teknologi, tetapi juga mampu membangun kapasitas dan menciptakan nilai ekonomi sendiri.
Dengan strategi yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam ekosistem AI Asia. Namun, peluang tersebut membutuhkan komitmen jangka panjang, investasi yang terarah, dan kerja sama antara pemerintah, industri, investor, serta lembaga terkait.




