Sabtu, 24 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

IMF Ungkap Dampak AI terhadap Lowongan Kerja Global

Oleh Jaya Purnama · 24/10/2026 · 11:32 am
IMF Ungkap Dampak AI terhadap Lowongan Kerja Global
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Jakarta, kecerdasan buatan atau AI generatif mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara. Penelitian Dana Moneter Internasional (IMF) menemukan bahwa permintaan tenaga kerja pada pekerjaan yang lebih terpapar AI mengalami penurunan hampir 10 persen dibandingkan pekerjaan yang relatif kurang terpapar teknologi tersebut.

Namun, perkembangan ini tidak hanya membawa tekanan terhadap perekrutan. Perusahaan juga semakin mencari pekerja yang memiliki keterampilan kecerdasan buatan, mulai dari penggunaan perangkat AI hingga kemampuan mengintegrasikan teknologi tersebut dengan sistem dan data internal perusahaan.

Temuan tersebut berasal dari makalah kerja IMF berjudul How is Labor Demand Changing as AI Improves? New Global Evidence. Penelitian ini menganalisis lebih dari 700 juta iklan lowongan kerja daring dari 110 negara selama November 2021 hingga April 2026.

Peneliti menggunakan data dari penyedia data pasar tenaga kerja Lightcast untuk menelusuri perubahan kebutuhan perekrutan, persyaratan keterampilan, serta indikasi adopsi AI di perusahaan. Hasilnya memperlihatkan bahwa teknologi ini memengaruhi jumlah lowongan sekaligus kemampuan yang perlu dimiliki calon pekerja.

IMF Ungkap Perubahan Lowongan Kerja akibat AI

Dalam penelitian tersebut, IMF menemukan bahwa permintaan tenaga kerja pada pekerjaan yang lebih terpapar AI turun hampir 10 persen dibandingkan pekerjaan dengan paparan yang relatif lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi mulai memengaruhi keputusan perusahaan dalam merekrut pekerja.

Meski demikian, angka tersebut tidak berarti seluruh perusahaan memangkas karyawan dalam jumlah yang sama. Penelitian ini menggunakan iklan lowongan kerja untuk mengukur perubahan permintaan perekrutan baru, bukan menghitung secara langsung jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat AI.

Selain itu, dampak AI berbeda menurut karakteristik pekerjaan. Pekerjaan yang memiliki paparan tinggi terhadap kemampuan AI dan tingkat komplementaritas rendah mengalami penurunan permintaan perekrutan terbesar.

Paparan AI menggambarkan sejauh mana kemampuan teknologi berpotensi memengaruhi suatu pekerjaan. Sementara itu, komplementaritas menunjukkan sejauh mana AI dapat mendukung pekerjaan manusia, bukan sekadar mengambil alih tugas tertentu.

Karena itu, pekerja yang menjalankan tugas rutin atau tugas yang dapat ditangani teknologi berpotensi menghadapi tekanan berbeda dibandingkan pekerja yang mengandalkan kemampuan manusia dan memanfaatkan AI sebagai alat pendukung.

Permintaan Keterampilan AI Meningkat sejak 2023

Di tengah penurunan permintaan pada pekerjaan yang lebih terpapar teknologi, IMF juga menemukan peningkatan kebutuhan terhadap keterampilan AI. Permintaan tersebut tumbuh pesat sejak 2023 dan terkonsentrasi pada pekerjaan dengan tingkat paparan AI lebih tinggi.

Untuk mengidentifikasi perubahan tersebut, peneliti menyusun indikator adopsi AI berdasarkan 51 keterampilan yang mulai muncul dalam persyaratan lowongan kerja setelah perkembangan AI generatif.

Keterampilan tersebut mencakup beberapa tingkatan kemampuan. Perusahaan dapat mencari kandidat yang memahami penggunaan perangkat AI seperti ChatGPT dan Copilot. Selain itu, perusahaan juga membutuhkan pekerja yang mampu menjalankan tugas teknis dengan memanfaatkan teknologi tersebut.

Berikut beberapa keterampilan AI yang menjadi perhatian dalam penelitian IMF:

  • Pemahaman dasar AI: kemampuan memahami fungsi dan penggunaan perangkat kecerdasan buatan dalam pekerjaan sehari-hari.
  • Prompt engineering: kemampuan menyusun instruksi yang tepat agar sistem AI menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan.
  • AI agents: pemahaman tentang sistem AI yang dapat menjalankan rangkaian tugas berdasarkan tujuan dan instruksi tertentu.
  • Vector databases: kemampuan memahami sistem penyimpanan data berbasis representasi vektor untuk mendukung pencarian informasi.
  • Retrieval augmented generation: kemampuan memanfaatkan sumber informasi eksternal untuk membantu sistem AI menghasilkan jawaban yang lebih relevan dengan konteks.

Ragam keterampilan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan perusahaan tidak terbatas pada pekerja yang sekadar mengenal AI. Sebagian perusahaan juga mencari kandidat yang mampu menghubungkan teknologi dengan basis data, dokumen, dan sistem informasi internal.

Dengan demikian, perubahan teknologi turut menggeser persyaratan pekerjaan. Kandidat yang mampu menggabungkan keahlian utama profesinya dengan pemanfaatan AI berpotensi memiliki pilihan peluang kerja yang lebih luas, meskipun hasilnya tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing perusahaan.

Perusahaan Pengadopsi AI Cenderung Membuka Lebih Banyak Lowongan

Penelitian IMF juga menemukan pola menarik pada tingkat perusahaan. Perusahaan yang memasang lowongan dengan persyaratan keterampilan AI cenderung mencatat pertumbuhan jumlah lowongan lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak memasang persyaratan serupa.

Peneliti mengidentifikasi perusahaan sebagai pengadopsi AI apabila setidaknya satu iklan lowongan selama periode pengamatan mencantumkan keterampilan AI yang sedang berkembang. Selanjutnya, mereka membandingkan perkembangan lowongan antara kelompok perusahaan tersebut dan perusahaan lainnya.

Pola serupa juga muncul pada pekerjaan dengan tingkat paparan AI lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara AI dan perekrutan tidak selalu berupa pengurangan lowongan di semua perusahaan.

Sebaliknya, sebagian perusahaan dapat meningkatkan kebutuhan tenaga kerja ketika mereka membutuhkan kemampuan baru untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam kegiatan operasional. Namun, temuan ini menunjukkan hubungan antara persyaratan keterampilan AI dan pertumbuhan lowongan, bukan bukti bahwa adopsi AI secara langsung menyebabkan peningkatan perekrutan.

IMF juga menemukan bahwa perusahaan berukuran lebih besar cenderung lebih sering memasang lowongan yang mensyaratkan keterampilan AI dibandingkan perusahaan yang lebih kecil.

Meski begitu, indikator tersebut memiliki keterbatasan. Perusahaan yang melatih karyawan lama untuk menggunakan AI tanpa membuka lowongan baru mungkin tidak masuk dalam kelompok pengadopsi berdasarkan ukuran penelitian ini.

Oleh karena itu, data iklan kerja kemungkinan hanya menangkap sebagian dari penggunaan AI di dunia usaha. Perusahaan dapat menerapkan teknologi tersebut melalui pelatihan internal, perubahan proses kerja, atau integrasi sistem tanpa mencantumkan keterampilan AI dalam iklan perekrutan.

Dampak AI terhadap Perekrutan Mulai Stabil

IMF juga menelusuri perubahan lowongan setelah peluncuran ChatGPT pada November 2022. Analisis tersebut menunjukkan bahwa penurunan permintaan tenaga kerja pada pekerjaan yang lebih terpapar AI mulai terlihat pada akhir 2023.

Dampaknya kemudian membesar sepanjang 2023 dan 2024 sebelum menunjukkan kecenderungan stabil. Dengan kata lain, peneliti tidak menemukan pola penurunan relatif terhadap perekrutan yang terus memburuk seiring peningkatan kemampuan model AI selama periode pengamatan.

Temuan tersebut menjadi penting karena kemampuan AI terus berkembang dalam menangani berbagai tugas. Namun, perubahan kemampuan teknologi tidak otomatis menghasilkan penurunan lowongan yang semakin besar pada setiap tahap perkembangannya.

Peningkatan permintaan terhadap keterampilan AI menjadi salah satu aspek yang membantu menjelaskan perubahan kebutuhan perusahaan. Ketika organisasi menyesuaikan proses kerja, mereka dapat mengurangi kebutuhan pada tugas tertentu sekaligus mencari kemampuan baru untuk mengoperasikan dan mengintegrasikan teknologi.

Meskipun demikian, IMF menegaskan bahwa penurunan permintaan perekrutan pada pekerjaan yang lebih terpapar AI masih lebih besar dibandingkan peluang baru yang muncul bagi pekerja dengan keterampilan AI. Artinya, pertumbuhan kebutuhan terhadap keahlian baru belum sepenuhnya mengimbangi tekanan terhadap perekrutan pada kelompok pekerjaan tersebut.

Pekerja Perlu Menyesuaikan Keterampilan dengan AI

Hasil penelitian IMF memperlihatkan bahwa dampak AI terhadap pasar kerja tidak berlangsung secara seragam. Jenis pekerjaan, tingkat paparan teknologi, kemampuan AI untuk melengkapi pekerjaan manusia, dan karakteristik perusahaan turut memengaruhi perubahan permintaan tenaga kerja.

Selain itu, data penelitian mencakup 110 negara sehingga hasil agregatnya tidak berarti setiap negara mengalami perubahan dengan besaran yang sama. Kondisi ekonomi, struktur industri, dan tingkat adopsi teknologi dapat menghasilkan pola yang berbeda di setiap wilayah.

Penelitian ini juga memiliki batasan karena mengandalkan iklan lowongan kerja daring. Data tersebut lebih banyak mencerminkan kebutuhan perekrutan di sektor formal, sedangkan perubahan di sektor informal atau melalui saluran perekrutan non-daring mungkin belum sepenuhnya tercatat.

Bagi pekerja, perkembangan ini memperkuat pentingnya mempelajari penggunaan AI sesuai bidang pekerjaan masing-masing. Misalnya, pekerja administrasi dapat mempelajari pemanfaatan AI untuk membantu mengolah dokumen, sedangkan pekerja teknologi informasi dapat memperdalam kemampuan integrasi data dan pengembangan sistem berbasis AI.

Namun, menguasai perangkat AI saja tidak menjamin seseorang memperoleh pekerjaan. Kemampuan profesional, pemecahan masalah, komunikasi, dan penilaian kritis tetap relevan ketika perusahaan menerapkan teknologi tersebut dalam proses bisnis.

Pada akhirnya, penelitian IMF menunjukkan bahwa AI generatif mengubah pasar kerja melalui dua arah sekaligus: tekanan terhadap perekrutan pada pekerjaan yang lebih terpapar teknologi dan peningkatan kebutuhan terhadap keterampilan AI. Perubahan ini menuntut pekerja dan perusahaan menyesuaikan kemampuan serta strategi perekrutan dengan kebutuhan yang terus berkembang.

Karena itu, memahami AI dan mempelajari cara menggunakannya secara produktif dapat menjadi langkah penting untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Meski demikian, besarnya dampak teknologi terhadap pekerjaan pada masa mendatang tetap bergantung pada cara perusahaan mengintegrasikan AI dan bagaimana kebutuhan tenaga kerja berkembang di setiap sektor.

Tag: ·
Jaya Purnama

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)