Minggu, 25 Oktober 2026Berbagi Informasi, Membuka Wawasan
JayaPurnama.com
Berbagi Informasi, Membuka Wawasan

Turki Incar 24 Eurofighter untuk Perkuat Armada Tempur

Oleh Jaya Purnama · 24/10/2026 · 1:56 am
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

JayaPurnama.com – Ankara, Turki, Turki mempercepat modernisasi armada tempurnya dengan mengincar tambahan 24 jet Eurofighter Typhoon dari Qatar dan Oman. Langkah ini bertujuan memperkuat kemampuan Angkatan Udara Turki di tengah kebutuhan mengganti sebagian armada F-16 yang menua.

Pemerintah Turki juga tengah mengembangkan KAAN, jet tempur generasi kelima buatan dalam negeri. Namun, proyek tersebut masih membutuhkan serangkaian pengujian dan pengembangan sebelum dapat menggantikan pesawat tempur yang saat ini menjalankan berbagai misi operasional.

Menurut laporan Reuters, Kementerian Pertahanan Turki pada Kamis (22/10/2026) menyatakan Ankara masih menunggu rancangan kontrak penjualan dan program pelatihan dari Qatar. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam rencana pengadaan pesawat tambahan yang dapat mempercepat penguatan armada tempur negara itu.

Turki sebelumnya menandatangani kesepakatan pembelian 20 Eurofighter Typhoon baru dari Inggris pada Oktober 2025. Sementara itu, rencana memperoleh 24 pesawat tambahan dari Qatar dan Oman membuka peluang bagi Ankara untuk mengoperasikan hingga 44 Eurofighter jika seluruh kesepakatan terealisasi.

Turki Masih Menunggu Kontrak Eurofighter

Negosiasi pengadaan tambahan pesawat tempur tersebut belum mencapai tahap akhir. Kementerian Pertahanan Turki menjelaskan bahwa delegasi Ankara dan Doha telah mengadakan pertemuan pada Agustus dan September 2026.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas jenis pesawat, amunisi, serta kebutuhan pelatihan pilot dan personel pemeliharaan. Selanjutnya, Qatar perlu menyampaikan rancangan kontrak penjualan dan program pelatihan kepada pemerintah Turki.

Pengadaan pesawat tempur tidak sekadar menyangkut jumlah unit yang dapat diterima. Angkatan udara juga membutuhkan pilot terlatih, teknisi, fasilitas perawatan, persediaan suku cadang, persenjataan, dan sistem pendukung agar pesawat mampu menjalankan misi secara efektif.

Karena itu, kecepatan realisasi rencana ini bergantung pada penyelesaian negosiasi serta kesiapan kedua negara memenuhi persyaratan pengalihan pesawat. Turki juga perlu memastikan kondisi teknis pesawat sesuai dengan kebutuhan operasionalnya.

F-16 Menua, KAAN Belum Siap Menggantikan

Selama beberapa dekade, F-16 buatan Amerika Serikat menjadi tulang punggung kekuatan udara Turki. Pesawat tersebut menjalankan berbagai tugas, mulai dari patroli wilayah udara hingga operasi militer.

Namun, sebagian armada F-16 Turki berasal dari produksi era 1980-an dan 1990-an. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi Ankara ketika negara-negara lain terus meningkatkan kemampuan radar, persenjataan, sensor, dan sistem peperangan elektronik pada pesawat tempur mereka.

Lembaga kajian Centre for Eastern Studies (OSW) yang berbasis di Polandia memperkirakan Turki memiliki sekitar 230 hingga 240 unit F-16. Dalam analisis pada 3 April 2026, lembaga tersebut memperkirakan sekitar 150 pesawat berada dalam kondisi operasional.

OSW juga mencatat bahwa armada Turki mencakup varian Block 30, Block 40, dan Block 50. Selain itu, Turki menerima F-16 Block 50+ pada 2011 hingga 2012. Angka tersebut merupakan estimasi lembaga kajian, bukan pengumuman resmi terbaru dari Angkatan Udara Turki.

Di sisi lain, Turki mengembangkan KAAN sebagai bagian dari strategi kemandirian teknologi pertahanan. Proyek ini menargetkan pesawat tempur generasi kelima yang dapat menggantikan sebagian armada F-16 dalam jangka panjang.

Meski begitu, pengembangan pesawat generasi baru memerlukan waktu panjang. Pengembang harus menguji struktur pesawat, mesin, sistem kendali penerbangan, radar, perangkat lunak, dan integrasi persenjataan. Penerbangan perdana juga belum membuktikan bahwa sebuah pesawat siap menjalankan seluruh misi tempur.

Dengan demikian, Eurofighter Typhoon dapat menjadi solusi sementara untuk mengurangi kesenjangan kemampuan selama Turki melanjutkan pengembangan KAAN. Ankara membutuhkan pesawat yang sudah memiliki kemampuan operasional tanpa harus menunggu seluruh tahapan proyek nasional selesai.

Keunggulan Eurofighter Typhoon bagi Turki

Eurofighter Typhoon merupakan pesawat tempur multiguna hasil kerja sama Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Pesawat ini mendukung misi superioritas udara sekaligus serangan terhadap sasaran darat, bergantung pada konfigurasi dan persenjataannya.

Bagi Turki, kemampuan operasional Eurofighter menjadi salah satu daya tarik utama. Berbeda dengan KAAN yang masih menjalani pengembangan, Eurofighter telah beroperasi di sejumlah angkatan udara dan memiliki ekosistem persenjataan serta dukungan teknis yang sudah terbentuk.

Kesepakatan Turki dengan Inggris pada Oktober 2025 mencakup pembelian 20 Eurofighter baru dengan nilai hingga 8 miliar pound sterling, atau sekitar 10,7 miliar dolar AS berdasarkan nilai yang diumumkan saat kesepakatan berlangsung.

Menurut Reuters, paket pengadaan tersebut juga mencakup persenjataan, termasuk rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor dan rudal serangan presisi Brimstone. Meteor mendukung serangan terhadap sasaran udara dari jarak jauh, sedangkan Brimstone dirancang untuk menghantam sasaran permukaan secara presisi.

Namun, kemampuan aktual pesawat tetap bergantung pada konfigurasi radar, sensor, sistem komunikasi, integrasi senjata, dan kesiapan awak. Oleh sebab itu, Turki perlu mempertimbangkan keseluruhan paket operasional, bukan hanya spesifikasi dasar pesawat.

Pesawat Bekas Qatar dan Oman Bisa Mempercepat Modernisasi

OSW memperkirakan pengiriman 20 Eurofighter baru dari Inggris kepada Turki akan berlangsung pada 2030 hingga 2033. Rentang waktu tersebut menjelaskan alasan Ankara mencari alternatif untuk memperkuat armada lebih cepat.

Jika Qatar dan Oman menyetujui pengalihan pesawat, Turki berpeluang menambah kekuatan tempurnya sebelum seluruh pesawat baru dari Inggris tiba. Strategi ini dapat membantu Ankara mengisi kebutuhan operasional dalam masa transisi menuju penggunaan KAAN pada masa mendatang.

Meski demikian, pesawat bekas tidak otomatis siap bertugas begitu tiba di negara pembeli. Turki perlu memeriksa kondisi setiap unit, menyesuaikan dukungan pemeliharaan, memastikan ketersediaan suku cadang, dan menyiapkan pelatihan bagi pilot serta teknisi.

Selain itu, pengalihan pesawat memerlukan kesepakatan komersial dan pemenuhan persyaratan yang berlaku. Selama kontrak dan program pelatihan belum selesai, jumlah tambahan 24 Eurofighter tersebut masih merupakan target pengadaan, bukan armada yang sudah resmi masuk dinas Turki.

Strategi Ganda untuk Menjaga Kekuatan Udara

Langkah Ankara memperlihatkan strategi pertahanan yang berjalan melalui dua jalur. Pertama, Turki mencari pesawat yang sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dan menengah. Kedua, negara tersebut terus mengembangkan KAAN untuk membangun kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Pendekatan ini membantu Turki mengurangi ketergantungan pada satu jenis pesawat selama proses modernisasi berlangsung. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada ketersediaan anggaran, kelancaran kontrak, kesiapan personel, dan kemampuan mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan.

Pada akhirnya, tambahan 24 Eurofighter Typhoon berpotensi memperkuat posisi Angkatan Udara Turki apabila Ankara berhasil menuntaskan negosiasi dengan Qatar dan Oman. Sementara itu, KAAN tetap menjadi proyek strategis jangka panjang yang menentukan sejauh mana Turki mampu membangun kemandirian teknologi tempurnya sendiri.

Tag: ·

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.