Jayapurnama.com – Jakarta, PT Djarum mengonfirmasi laporan Bloomberg mengenai investasi keluarga Hartono di luar negeri senilai USD1,4 miliar atau sekitar Rp24,6 triliun. Perusahaan menegaskan langkah tersebut merupakan diversifikasi bisnis, terutama untuk memperkuat rantai pasok industri rokok.
Manager Corporate Communications Djarum Budi Darmawan mengatakan akuisisi tersebut mencakup bisnis produk kertas yang berkaitan dengan kebutuhan industri rokok. Ia menyampaikan penjelasan itu dalam wawancara melalui telepon pada Sabtu, 12 September 2026.
“Jadi, Djarum mengakuisisi pabrik kertas untuk rokok, diversifikasi bisnis,” kata Budi. Menurut dia, pemberitaan mengenai investasi itu perlu dilihat dengan memperhatikan waktu transaksi dan tujuan bisnisnya.
Djarum Sebut Langkah Itu sebagai Diversifikasi
Budi menjelaskan, proses akuisisi mulai dilakukan pada 2023. Ia menekankan bahwa transaksi tersebut bukan keputusan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini, karena pelaksanaannya dimulai pada era Presiden Joko Widodo.
“Begini, jika dicermati timeline-nya, akuisisi tersebut mulai dilakukan tahun 2023. Itu era Presiden Joko Widodo (Jokowi),” ujar Budi. Ia juga menyebut transaksi tersebut dilakukan dengan pembiayaan asing.
Djarum memandang pembelian perusahaan di sektor kertas sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat rantai pasok. Dengan begitu, investasi tersebut tidak hanya berorientasi pada kepemilikan aset di luar negeri, tetapi juga mendukung kebutuhan bisnis rokok yang dijalankan kelompok usaha tersebut.
Rincian Investasi di Amerika Serikat dan Austria
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan keluarga Hartono mulai meningkatkan investasi di luar negeri. Laporan itu menyebut kelompok usaha yang terhubung dengan keluarga tersebut melakukan transaksi melalui Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd.
Pada akhir 2023, Evergreen Hill Enterprise mengeluarkan USD669 juta untuk membeli bisnis produk kertas di Amerika Serikat. Sekitar satu tahun kemudian, perusahaan tersebut kembali melakukan akuisisi dengan membeli produsen kertas rokok di Austria.
Nilai transaksi di Austria mencapai €360 juta atau sekitar USD418 juta. Bloomberg menyebut dua transaksi itu bukan keseluruhan investasi keluarga Hartono di luar negeri.
Berdasarkan dokumen perusahaan dan informasi dari pihak yang mengetahui aktivitas kelompok tersebut, sekitar sembilan entitas di Singapura dan London yang berkaitan dengan keluarga Hartono telah menginvestasikan sedikitnya USD1,4 miliar di luar negeri.
Djarum Tegaskan Komitmen di Indonesia
Menanggapi sorotan terhadap investasi tersebut, Budi menegaskan komitmen keluarga Hartono untuk tetap berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Menurut dia, pemilik Djarum memiliki cita-cita untuk ikut membangun kesejahteraan dan kemakmuran negara.
“Lebih dari 90 persen aset dan bisnisnya berada di Indonesia,” kata Budi. Pernyataan itu menjadi penekanan Djarum bahwa investasi di luar negeri hanya menjadi bagian dari strategi diversifikasi, bukan perpindahan sebagian besar kegiatan usaha dari Indonesia.
Dengan penjelasan tersebut, Djarum membedakan antara ekspansi bisnis ke luar negeri dan pemindahan pusat kegiatan usaha. Perusahaan menyatakan mayoritas aset serta bisnis keluarga Hartono masih berada di Indonesia, sementara akuisisi di Amerika Serikat dan Austria diarahkan pada penguatan sektor pendukung industri rokok.
Laporan mengenai investasi keluarga Hartono di luar negeri tetap menjadi perhatian karena nilai transaksinya besar. Namun, Djarum menyatakan keputusan tersebut merupakan langkah bisnis yang telah dimulai sejak 2023 dan menggunakan pembiayaan asing.
Keterangan Djarum memberikan konteks bahwa ekspansi perusahaan dapat berlangsung bersamaan dengan komitmen mempertahankan sebagian besar aset dan kegiatan usaha di Indonesia. Perusahaan juga menegaskan bahwa diversifikasi tersebut ditujukan untuk mendukung keberlanjutan rantai pasok bisnisnya.








