Kenapa Motor Listrik Belum Menggantikan Motor Bensin Ojol?

Jaya Purnama

Kenapa Motor Listrik Belum Menggantikan Motor Bensin Ojol?
Ilustrasi: Kenapa Motor Listrik Belum Menggantikan Motor Bensin Ojol?

Jayapurnama.comMotor listrik untuk ojol sebenarnya menawarkan keuntungan yang cukup menarik bagi pengemudi ojek online. Salah satu keunggulan utamanya adalah biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan sepeda motor bensin. Bagi pengemudi yang menggunakan kendaraan hampir sepanjang hari, penghematan biaya tentu menjadi faktor penting.

Meski demikian, keunggulan tersebut belum membuat motor listrik menggantikan motor bensin secara masif di kalangan pengemudi ojol. Ada sejumlah pertimbangan yang membuat sebagian pengemudi masih memilih kendaraan konvensional, mulai dari kemampuan kendaraan, daya tahan baterai, hingga persoalan pembiayaan.

Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin mengatakan, persoalan teknis memang sempat menjadi salah satu penyebab rendahnya minat pengemudi terhadap motor listrik. Pada masa awal perkembangannya, sejumlah model dinilai belum cukup bertenaga ketika digunakan untuk melintasi tanjakan.

Motor Listrik Mulai Menjawab Tantangan Teknis

Kebutuhan pengemudi ojol berbeda dengan penggunaan motor untuk aktivitas harian biasa. Kendaraan digunakan dalam waktu yang panjang dan harus mampu mendukung mobilitas dari satu titik ke titik lainnya sepanjang hari.

Karena itu, kapasitas serta daya tahan baterai menjadi pertimbangan penting. Baterai yang belum mampu memenuhi kebutuhan penggunaan sepanjang hari dapat menjadi kendala bagi pengemudi yang mengandalkan sepeda motor sebagai alat utama untuk mencari penghasilan.

Namun, persoalan teknis tersebut mulai mendapatkan perhatian dari produsen. Pengembangan teknologi dan produk dilakukan agar motor listrik semakin sesuai dengan kebutuhan konsumen, termasuk mereka yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas dengan intensitas tinggi.

Artinya, persoalan motor listrik tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kemampuan tenaga atau kapasitas baterai. Ada faktor lain yang justru dinilai lebih krusial dalam menentukan apakah pengemudi ojol bersedia beralih dari motor bensin.

Pembiayaan Jadi Kendala Motor Listrik untuk Ojol

Menurut masukan yang diterima Danantara dari sejumlah operator ride hailing, persoalan pembiayaan menjadi salah satu hambatan utama. Banyak mitra pengemudi masih mengalami kesulitan ketika ingin memperoleh fasilitas kredit untuk membeli motor listrik.

Salah satu persoalannya berkaitan dengan proses verifikasi melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIK OJK. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pengemudi yang aktif bekerja setiap hari dan mempunyai performa baik dinilai memiliki potensi risiko kredit yang rendah.

Danantara melihat adanya kebutuhan untuk membuat skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik pengemudi ojol. Salah satu gagasan yang dibahas adalah pembayaran cicilan secara harian. Dengan pola tersebut, pembayaran kendaraan dapat lebih dekat dengan pola pemasukan pengemudi yang diperoleh dari aktivitas sehari-hari.

Selain itu, terdapat gagasan mengenai sistem penonaktifan kendaraan secara otomatis apabila terjadi tunggakan. Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menekan risiko kredit sehingga biaya pembiayaan diharapkan bisa lebih rendah.

“Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan menstimulasi demand dari sisi teman-teman konsumen.”

Danantara juga menggandeng Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara untuk menyusun skema pembiayaan yang lebih terjangkau. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan biaya kredit yang selama ini menjadi salah satu pertimbangan pengemudi.

Operasional Lebih Hemat, tetapi Bukan Satu-satunya Pertimbangan

Secara operasional, motor listrik memiliki potensi penghematan yang cukup besar. Berdasarkan riset Danantara, biaya harian pengemudi dapat dipangkas sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 dibandingkan ketika menggunakan motor bensin.

Jika menggunakan asumsi 25 hari kerja dalam satu bulan, penghematan tersebut dapat mencapai sekitar Rp500.000 per bulan. Bagi pengemudi ojol, pengurangan pengeluaran operasional tentu dapat memberikan ruang lebih besar terhadap pendapatan yang diperoleh.

Namun, penghematan biaya harian belum otomatis membuat motor listrik menjadi pilihan utama. Pengemudi juga harus mempertimbangkan bagaimana kendaraan tersebut dapat dibiayai sejak awal serta bagaimana nilai asetnya apabila suatu saat ingin dijual kembali.

Nilai Jual Kembali Masih Menjadi Kekhawatiran

Pengamat otomotif Yannes Martinus menilai sepeda motor bagi masyarakat kelas menengah ke bawah tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi. Kendaraan juga dapat dipandang sebagai aset yang bisa dijual kembali ketika pemilik membutuhkan dana.

Persoalan muncul karena pasar motor listrik bekas belum terbentuk dengan kuat. Kondisi tersebut membuat nilai jual kembali kendaraan listrik masih sulit dipastikan.

Selain kondisi kendaraan secara keseluruhan, kondisi baterai juga menjadi faktor penting. Baterai merupakan salah satu komponen utama motor listrik sehingga kondisinya dapat memengaruhi pertimbangan calon pembeli ketika kendaraan tersebut masuk ke pasar bekas.

Ketidakpastian mengenai harga jual kembali akhirnya menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan calon pengguna. Pengemudi tidak hanya melihat biaya yang harus dikeluarkan setiap hari, tetapi juga mempertimbangkan nilai kendaraan dalam jangka lebih panjang.

Kenapa Motor Bensin Masih Dipilih Ojol?

Motor bensin masih memiliki posisi kuat karena telah lama digunakan sebagai kendaraan utama untuk aktivitas ojol. Infrastruktur penggunaannya juga sudah familiar bagi pengemudi, sementara pertimbangan mengenai pembelian, pembiayaan, penggunaan, hingga penjualan kembali sudah lebih mudah dipahami.

Di sisi lain, motor listrik menawarkan peluang penghematan biaya operasional yang menarik. Jika persoalan teknis, pembiayaan, dan pasar kendaraan bekas dapat semakin teratasi, daya tarik kendaraan listrik bagi pengemudi ojol berpotensi meningkat.

Dengan demikian, persaingan antara motor listrik dan motor bensin untuk kebutuhan ojol bukan hanya mengenai siapa yang lebih hemat dalam penggunaan sehari-hari. Keputusan pengemudi juga dipengaruhi oleh kemampuan kendaraan memenuhi kebutuhan kerja, kemudahan memperoleh pembiayaan, serta kepastian nilai aset ketika kendaraan dijual kembali.

Perkembangan teknologi dapat membantu menjawab persoalan tenaga dan baterai. Sementara itu, skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakter pengemudi ojol dapat menjadi faktor penting untuk mendorong perpindahan ke kendaraan listrik.

Pada akhirnya, motor listrik untuk ojol memiliki potensi besar dari sisi efisiensi operasional. Namun, agar benar-benar mampu menggantikan motor bensin secara luas, pengemudi membutuhkan lebih dari sekadar kendaraan yang hemat. Mereka juga membutuhkan produk yang sesuai dengan aktivitas kerja, pembiayaan yang terjangkau, serta keyakinan bahwa kendaraan tersebut tetap memiliki nilai sebagai aset.

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Makmur September 2026: Dapatkan Bonus Hingga 1,2jt dengan Mudah

Kode Referral Makmur September 2026: Dapatkan Bonus Hingga 1,2jt dengan Mudah

Kunjungi Artikel