Jayapurnama.com – Jakarta, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah mengarahkan insentif otomotif untuk memperkuat industri komponen lokal. Kebijakan tersebut dinilai perlu mendorong pertumbuhan industri dari sisi hulu hingga hilir.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin menilai insentif pemerintah dalam dua tahun terakhir mencapai sekitar Rp 7 triliun. Namun, manfaat kebijakan itu dinilai lebih banyak terasa pada sisi penjualan kendaraan.
Menurut Saleh, kebijakan tersebut terutama membantu konsumen dan agen pemegang merek (ATPM). Sementara itu, dampaknya terhadap pengembangan industri komponen dalam negeri masih belum maksimal.
Insentif Otomotif Perlu Dorong Komponen Lokal
Saleh mengatakan pemerintah perlu mengarahkan insentif secara langsung untuk membangun industri komponen dalam negeri. Langkah itu penting agar produsen komponen dapat tumbuh lebih mandiri dan memiliki daya saing yang kuat.
Selain itu, penguatan komponen lokal dapat memperluas manfaat pertumbuhan industri kendaraan. Dengan demikian, peningkatan penjualan tidak hanya menguntungkan konsumen dan produsen kendaraan.
Industri komponen juga dapat memperoleh ruang pertumbuhan yang lebih besar. Kondisi tersebut dapat memperkuat hubungan antara produsen kendaraan dengan berbagai sektor pendukung di dalam negeri.
Saleh menyampaikan pandangan tersebut dalam diskusi Indonesia Business Forum pada 26 Agustus 2026. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang mampu membangun kekuatan industri dari sisi produksi.
Industri Otomotif Punya Efek Berantai
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri menjelaskan luasnya keterkaitan industri otomotif dengan perekonomian. Menurut dia, sektor tersebut melibatkan banyak bidang dari hulu sampai hilir.
Pada sisi hilir atau forward linkage, produk otomotif mendukung kegiatan ekonomi lain. Transportasi dan pergudangan menjadi contoh sektor yang memanfaatkan produk otomotif untuk menciptakan nilai tambah.
Berdasarkan data Kemenperin, sebanyak 136 dari 185 subsektor ekonomi menggunakan produk otomotif. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran kendaraan dalam berbagai kegiatan ekonomi.
Sementara itu, sisi hulu atau backward linkage juga memiliki cakupan luas. Proses produksi satu unit kendaraan membutuhkan input dari berbagai sektor ekonomi.
Kemenperin mencatat proses produksi kendaraan melibatkan 71 subsektor ekonomi. Karena itu, perubahan pada industri otomotif dapat memberikan dampak kepada banyak sektor pendukung.
Penguatan sektor tersebut akhirnya tidak hanya berkaitan dengan penjualan kendaraan. Industri komponen, tenaga kerja, pemasok bahan, serta sektor pendukung juga ikut memiliki peran dalam rantai industri otomotif.
Pengalaman Insentif Saat Pandemi
Pemerintah juga memiliki pengalaman dalam menggunakan insentif untuk menjaga aktivitas industri otomotif. Pengalaman itu terjadi ketika pandemi Covid-19 menekan penjualan mobil secara drastis.
Pada periode tersebut, Kemenperin mengusulkan insentif penurunan PPnBM DTP dari 11 persen menjadi 1 persen. Kebijakan itu kemudian membantu menurunkan harga kendaraan dan mendorong penjualan.
Menurut Saleh, kenaikan penjualan turut meningkatkan utilisasi pabrik. Selain itu, penyerapan tenaga kerja kembali bergerak dari sektor hulu hingga hilir.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa insentif dapat memberikan efek lebih luas ketika pemerintah merancang kebijakan dengan sasaran yang tepat. Namun, arah kebijakan tetap perlu memperhatikan penguatan kapasitas industri dalam negeri.
Insentif Kendaraan Listrik Sasar 200.000 Unit
Di sisi lain, pemerintah kini menyiapkan insentif kendaraan listrik sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi semester II-2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut program tersebut menyasar 200.000 unit kendaraan listrik.
Jumlah tersebut terdiri dari 100.000 sepeda motor listrik dan 100.000 mobil listrik. Pemerintah menyiapkan skema insentif berbeda sesuai dengan jenis kendaraan.
Untuk mobil listrik, pemerintah menyiapkan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Besarannya berada pada kisaran 40 persen hingga 100 persen.
Besaran insentif akan menyesuaikan jenis kendaraan serta tingkat kandungan baterai. Karena itu, kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan harga kendaraan bagi konsumen.
Pemerintah juga memiliki peluang untuk menjadikan program kendaraan listrik sebagai instrumen penguatan industri nasional. Industri komponen dan rantai pasok kendaraan listrik dapat menjadi bagian penting dalam arah kebijakan tersebut.
Tantangan Penguatan Rantai Pasok Otomotif
Penguatan industri komponen menjadi penting ketika pemerintah terus mendorong pertumbuhan kendaraan listrik. Perkembangan pasar perlu berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan industri dalam negeri.
Selain itu, produsen komponen lokal membutuhkan ruang untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing. Kebijakan insentif dapat membantu menciptakan kondisi yang mendukung tujuan tersebut.
Namun, manfaat kebijakan tidak cukup jika hanya terlihat dari peningkatan transaksi kendaraan. Dampak ekonomi yang lebih luas juga perlu mencakup industri pendukung dan rantai pasok nasional.
Dengan demikian, arah insentif otomotif menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan industri kendaraan Indonesia. Pemerintah dapat menghubungkan kebijakan konsumen dengan strategi penguatan produksi dalam negeri.
Pada akhirnya, penguatan industri komponen dapat membuat manfaat sektor otomotif menyebar lebih luas. Pertumbuhan penjualan kendaraan pun dapat berjalan bersama dengan peningkatan aktivitas industri di dalam negeri.








