Laba Usaha BNBR Melonjak 283% Jadi Rp301,53 Miliar di Semester I 2026

Jaya Purnama

Laba Usaha BNBR Melonjak 283% Jadi Rp301,53 Miliar di Semester I 2026
Ilustrasi: Laba Usaha BNBR Melonjak 283% Jadi Rp301,53 Miliar di Semester I 2026

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatat peningkatan kinerja operasional yang signifikan pada semester I 2026. Laba usaha BNBR melonjak 283,21% secara tahunan menjadi Rp301,53 miliar, dibandingkan Rp78,68 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut terjadi seiring pertumbuhan pendapatan perseroan yang mencapai Rp2,59 triliun. Angka itu meningkat 45,83% dibandingkan pendapatan pada semester I 2025 yang tercatat Rp1,77 triliun. Pertumbuhan pendapatan terjadi di seluruh segmen bisnis BNBR.

Namun, peningkatan kinerja operasional tersebut belum membuat perseroan mencatatkan laba bersih. BNBR membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp224,81 miliar, berbalik dari laba bersih Rp55,87 miliar pada semester I 2025. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi kenaikan beban bunga PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) akibat kenaikan floating rate.

Pendapatan BNBR Tumbuh di Seluruh Segmen

Pertumbuhan pendapatan BNBR pada semester I 2026 terutama berasal dari segmen infrastruktur dan manufaktur. Segmen tersebut mencatat pendapatan Rp2,23 triliun, naik 38,35% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan dari jasa pabrikasi dan konstruksi meningkat 34,74% menjadi Rp216,98 miliar.

Di sisi lain, segmen perdagangan, jasa, dan investasi mencatat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi. Pendapatan dari segmen tersebut mencapai Rp142,97 miliar, melonjak 4.536% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski pendapatan meningkat, beban pokok pendapatan juga mengalami kenaikan. Pada semester I 2026, beban pokok pendapatan BNBR tercatat Rp1,94 triliun atau meningkat 40,02% secara tahunan. Tekanan biaya tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya tercermin pada laba bersih.

Kinerja Anak Usaha Dorong Laba Usaha BNBR

Peningkatan kinerja operasional BNBR turut ditopang oleh pertumbuhan sejumlah anak usaha. Salah satunya adalah PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN), yang membukukan pendapatan bersih Rp626,78 miliar pada semester I 2026. Pendapatan BIIN meningkat 256,1% dibandingkan Rp176,02 miliar pada semester I 2025.

Kenaikan pendapatan BIIN berkaitan dengan konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) pada 2026. BNBR sebelumnya mengakuisisi 90% saham CCT melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI). Akuisisi operator jalan tol Cimanggis–Cibitung tersebut merupakan bagian dari rangkaian transaksi dengan nilai total Rp9,4 triliun.

Selain infrastruktur jalan tol, bisnis kendaraan listrik juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perseroan. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group mencatat pendapatan bersih Rp646,61 miliar, meningkat 56,2% dari Rp414,03 miliar pada semester I 2025.

Pertumbuhan VKTR Group didorong oleh peningkatan penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) serta kenaikan penjualan PT Bakrie Autoparts (BA) Group. Dengan demikian, ekspansi pada sektor elektrifikasi transportasi menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan bisnis BNBR.

Sementara itu, PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group membukukan pendapatan bersih Rp1,3 triliun. Nilai tersebut tumbuh 10,2% dibandingkan Rp1,18 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan BMI Group ditopang oleh kenaikan pendapatan sejumlah entitas. Pendapatan induk BMI meningkat 37,5%, PT Bakrie Construction (BCons) tumbuh 33,6%, sedangkan PT Southeast Asia Pipe Industries (SEAPI) mencatat pertumbuhan 15,1%.

EBITDA BNBR Naik 230,93%

Selain laba usaha, indikator EBITDA BNBR juga menunjukkan peningkatan yang kuat. Perseroan mencatat EBITDA positif sebesar Rp423,04 miliar pada semester I 2026, melonjak 230,93% dibandingkan Rp127,83 miliar pada semester I 2025.

Kinerja tersebut menunjukkan adanya penguatan pada aktivitas operasional perseroan. Namun, kondisi laba bersih masih mendapatkan tekanan dari faktor pembiayaan, terutama beban bunga CCT yang terdampak kenaikan floating rate.

Direktur BNBR Roy Hendrajanto M Sakti mengatakan penurunan laba bersih terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT. Tekanan tersebut terutama terasa pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi.

BNBR Himpun Rp4,76 Triliun dari Rights Issue

Di tengah peningkatan kinerja operasional, BNBR juga memperkuat kondisi keuangannya melalui aksi korporasi. Perseroan menerbitkan saham baru melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue pada akhir Juli 2026.

Dari aksi tersebut, BNBR berhasil menghimpun dana sebesar Rp4,76 triliun. Penguatan permodalan ini menjadi bagian dari upaya perseroan untuk menopang perkembangan bisnis dan portofolio yang dimilikinya.

Sementara itu, prospek BNBR ke depan ditopang oleh portofolio infrastruktur strategis, termasuk jalan tol dan jaringan pipanisasi yang digunakan sebagai sarana transportasi minyak dan gas. Perseroan juga terus memperluas bisnis ke sektor industri, khususnya elektrifikasi transportasi dan energi berkelanjutan.

Dengan pertumbuhan pendapatan, kenaikan laba usaha BNBR, serta peningkatan EBITDA, kinerja operasional perseroan menunjukkan perkembangan positif pada semester pertama 2026. Namun, tekanan beban bunga masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan karena berdampak terhadap hasil akhir laba bersih.

Oleh karena itu, perkembangan kinerja anak usaha, kontribusi bisnis infrastruktur dan kendaraan listrik, serta penguatan struktur keuangan menjadi faktor penting bagi arah kinerja BNBR pada periode berikutnya.

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu