Jayapurnama.com, Tangerang – BYD M6 DM menjadi salah satu sorotan dalam ajang GIIAS 2026 setelah pabrikan asal China tersebut memaparkan klaim efisiensi biaya yang ditawarkan mobil plug-in hybrid itu. Melalui teknologi Dual Mode (DM), BYD menyebut kendaraan ini mampu menekan biaya operasional sekaligus biaya perawatan dibanding mobil bermesin bensin konvensional.
Paparan tersebut disampaikan dalam sesi jumpa pers bersama media di GIIAS 2026. Seluruh angka yang dipresentasikan berasal dari simulasi internal perusahaan dan hasil pengujian yang dilakukan bersama media.
Selain menawarkan efisiensi konsumsi energi, BYD juga mengklaim biaya servis M6 DM lebih rendah dengan interval perawatan yang lebih panjang. Hal ini menjadi salah satu keunggulan yang ingin ditawarkan kepada konsumen yang mempertimbangkan kendaraan elektrifikasi.
BYD M6 DM Diklaim Hemat Biaya Operasional
Dalam presentasinya, BYD membandingkan biaya perjalanan harian sejauh 150 kilometer antara BYD M6 DM dan mobil bermesin bensin konvensional.
Pada skenario pengisian daya di rumah atau home charging, BYD M6 DM mengonsumsi sekitar 9,2 kWh listrik dan 2,3 liter bensin. Total biaya perjalanan tercatat sekitar Rp53.278 atau setara Rp360 per kilometer.
Sementara itu, jika pengisian daya dilakukan melalui SPKLU, biaya perjalanan meningkat menjadi sekitar Rp62.428 atau sekitar Rp416 per kilometer.
Sebagai pembanding, mobil bermesin bensin pada jarak yang sama membutuhkan sekitar 9,1 liter bahan bakar. Dengan asumsi harga Pertamax RON 92 sebesar Rp15.950 per liter, total biaya perjalanan mencapai Rp145.000 atau sekitar Rp967 per kilometer.
Berdasarkan simulasi tersebut, BYD mengklaim penggunaan BYD M6 DM dengan home charging mampu menghemat biaya operasional hingga sekitar 60 persen dibanding kendaraan berbahan bakar bensin.
Hasil Media Challenge Perlihatkan Efisiensi Lebih Tinggi
Selain simulasi internal, BYD juga memaparkan hasil Media Challenge Jakarta yang menempuh jarak sekitar 149 kilometer.
Dalam pengujian tersebut, BYD M6 DM mengonsumsi sekitar 14,5 kWh listrik dan hanya 1,4 liter bensin ketika pengisian daya dilakukan di rumah.
Total biaya perjalanan tercatat sekitar Rp48.831 atau sekitar Rp328 per kilometer.
Di sisi lain, kendaraan bermesin bensin pada rute yang sama membutuhkan biaya sekitar Rp144.033 atau tetap berada di kisaran Rp967 per kilometer.
Melalui hasil tersebut, BYD mengklaim efisiensi biaya operasional dapat mencapai sekitar 66 persen dibanding mobil bensin konvensional.
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi tarif listrik rumah sebesar Rp1.800 per kWh, tarif SPKLU Rp2.800 per kWh, serta harga Pertamax RON 92 sebesar Rp15.950 per liter.
Biaya Perawatan BYD M6 DM Lebih Rendah
Tidak hanya mengandalkan efisiensi penggunaan energi, BYD juga mengklaim biaya perawatan kendaraan ini lebih rendah.
Berdasarkan data yang dipaparkan perusahaan, rata-rata biaya maintenance BYD M6 DM selama tiga tahun pertama diperkirakan sekitar Rp1.750.000 per tahun.
Sementara itu, kendaraan berbahan bakar bensin diperkirakan membutuhkan biaya perawatan sekitar Rp2.500.000 setiap tahun.
Dengan perbandingan tersebut, BYD menyebut biaya maintenance dapat ditekan hingga sekitar 30 persen.
Selain itu, interval servis juga diklaim lebih panjang. Untuk penggunaan yang didominasi mode kendaraan listrik atau EV, servis dilakukan setiap 20.000 kilometer atau satu tahun.
Namun, apabila kendaraan lebih sering digunakan dalam mode HEV, interval servis mengikuti jadwal setiap 10.000 kilometer.
Sebagai pembanding, mobil bensin umumnya menjalani perawatan rutin setiap 10.000 kilometer atau enam bulan sekali.
Teknologi Dual Mode Jadi Andalan
Teknologi Dual Mode menjadi salah satu fitur utama pada BYD M6 DM. Sistem ini memungkinkan motor listrik menjadi penggerak utama dalam berbagai kondisi berkendara.
Mesin bensin akan bekerja ketika dibutuhkan untuk membantu menghasilkan tenaga tambahan atau mengisi daya baterai. Dengan cara tersebut, konsumsi bahan bakar dapat ditekan tanpa mengurangi performa kendaraan.
Selain itu, kombinasi tenaga listrik dan mesin bensin membuat kendaraan tetap memiliki fleksibilitas untuk perjalanan jauh tanpa rasa khawatir terhadap keterbatasan daya baterai.
Meski demikian, seluruh angka efisiensi yang dipaparkan BYD merupakan hasil simulasi perusahaan dan pengujian tertentu. Konsumsi energi maupun biaya operasional di penggunaan sehari-hari tetap dapat berbeda, tergantung gaya berkendara, kondisi jalan, beban kendaraan, hingga kebiasaan pengisian daya.
Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi, efisiensi biaya operasional menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pilihan. Klaim penghematan hingga 60 persen untuk biaya operasional serta sekitar 30 persen pada biaya perawatan menjadi nilai jual yang ditawarkan BYD M6 DM kepada calon konsumen di Indonesia. Ke depannya, pengalaman penggunaan langsung oleh pemilik kendaraan akan menjadi tolok ukur untuk melihat sejauh mana klaim tersebut dapat dirasakan dalam penggunaan harian.







