Tren Baru di China, Bahasa Inggris di Sekolah Mulai Dipertanyakan

Jaya Purnama

Jayapurnama.com – China, perdebatan soal bahasa Inggris di sekolah kembali mencuat setelah seorang guru matematika di China mempertanyakan kebutuhan siswa mempelajari bahasa asing ketika kemampuan bahasa Mandarin mereka belum sepenuhnya kuat.

Guru matematika bernama Tang Jiafeng menilai sekolah terlalu menekankan pembelajaran bahasa Inggris. Ia juga menyerukan agar masyarakat tidak mengikuti tren impor asing secara membabi buta. Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari masyarakat.

Perdebatan itu muncul ketika teknologi terjemahan berbasis kecerdasan buatan berkembang pesat di China. Karena itu, sebagian pihak mulai mempertanyakan kembali posisi bahasa Inggris di sekolah dan relevansinya dengan kebutuhan siswa pada masa depan.

Bahasa Inggris di sekolah China menuai perdebatan

Tang Jiafeng mempertanyakan alasan anak-anak harus mempelajari bahasa asing sejak sekolah. Menurutnya, siswa seharusnya terlebih dahulu menguasai bahasa lokal Mandarin sebelum mendapat beban pembelajaran tambahan.

Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah orang tua dan guru. Mereka menilai pola pembelajaran bahasa Inggris yang berfokus pada tata bahasa dan ujian belum tentu menghasilkan siswa yang mampu menggunakan bahasa Inggris secara fasih.

Sementara itu, Xioang Bingqi dari Institut Penelitian Pendidikan Abad 21 Shenzhen turut mengkritik sistem tersebut. Ia menilai pola pendidikan yang terlalu berorientasi pada ujian dapat menghasilkan kemampuan bahasa Inggris yang tidak cukup efektif untuk penggunaan sehari-hari.

Teknologi terjemahan AI ikut mengubah kebutuhan

Perdebatan ini berlangsung ketika teknologi terjemahan AI secara waktu nyata semakin berkembang di tengah masyarakat China. Teknologi tersebut menawarkan cara baru untuk memahami bahasa asing tanpa selalu menguasai bahasa yang digunakan lawan bicara.

Selain itu, perkembangan teknologi ikut memengaruhi sejumlah lembaga pendidikan. Kampus riset di Shenzhen mulai menghapus kursus bahasa Inggris secara bertahap. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebagian institusi mulai meninjau kembali kebutuhan pembelajaran bahasa asing.

Shanghai juga telah menghapus ujian akhir bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar sejak 2021. Kebijakan itu menjadi salah satu contoh perubahan pendekatan terhadap posisi bahasa Inggris dalam pendidikan dasar di China.

Penghapusan pelajaran memunculkan kekhawatiran baru

Namun, tidak semua pihak melihat pengurangan pembelajaran bahasa Inggris sebagai perkembangan positif. Cinderella Huang, seorang guru bahasa Inggris di Guangdong, memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat memperlebar kesenjangan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga.

Menurut Huang, perkembangan AI masih memiliki kaitan dengan bahasa Inggris. Karena itu, siswa yang tidak memperoleh akses pembelajaran bahasa Inggris di sekolah berpotensi menghadapi kondisi berbeda dengan siswa dari keluarga yang mampu menyediakan pendidikan tambahan.

Keluarga kaya, misalnya, masih dapat membayar tutor bahasa Inggris. Mereka juga dapat memilih sekolah internasional untuk anak-anaknya. Dengan demikian, akses terhadap kemampuan bahasa asing tetap dapat berjalan melalui jalur pendidikan di luar sekolah umum.

Peran bahasa Inggris di tengah perubahan pendidikan

Perubahan tersebut menunjukkan adanya perdebatan lebih luas mengenai tujuan pendidikan bahasa asing. Di satu sisi, teknologi terjemahan AI dapat membantu komunikasi lintas bahasa secara lebih cepat. Di sisi lain, kemampuan bahasa Inggris tetap memiliki nilai bagi kelompok yang menggunakannya dalam lingkungan kerja.

Xioang Bingqi menyebut pengguna bahasa Inggris di tempat kerja sebagai kelompok minoritas. Pandangan itu memperkuat perdebatan mengenai apakah seluruh siswa perlu memperoleh porsi pembelajaran bahasa Inggris yang sama dalam kurikulum sekolah.

Sementara itu, kritik terhadap sistem pembelajaran yang berorientasi ujian juga menjadi bagian penting dari diskusi. Jika pembelajaran lebih banyak mengejar hasil tes, siswa belum tentu memperoleh kesempatan yang cukup untuk melatih kemampuan komunikasi secara praktis.

Kesenjangan akses menjadi perhatian

Perubahan kebijakan pendidikan juga membawa persoalan mengenai kesetaraan akses. Siswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi lebih besar dapat mencari alternatif ketika sekolah mengurangi pembelajaran bahasa Inggris.

Sebaliknya, siswa yang hanya mengandalkan sekolah dapat memiliki pilihan yang lebih terbatas. Karena itu, keputusan mengenai posisi bahasa Inggris tidak hanya berkaitan dengan kurikulum, tetapi juga dengan akses terhadap pendidikan tambahan.

Pada akhirnya, perkembangan AI dan perubahan kebutuhan masyarakat membuat peran bahasa Inggris di sekolah China terus menjadi bahan perdebatan. Teknologi terjemahan memang menawarkan alternatif baru, namun perbedaan akses pendidikan tetap menjadi salah satu persoalan yang ikut muncul dalam diskusi tersebut.

Penulis:

Jaya Purnama

TOPIK:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Qris Merchant Dana Oktober 2026, Cara Daftar dan Syaratnya

Kode Referral Qris Merchant Dana Oktober 2026, Cara Daftar dan Syaratnya

Kunjungi Artikel