Jayapurnama.com – Jakarta, saham GOTO milik PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk bergerak di bawah Rp50 per saham selama dua hari perdagangan berturut-turut. Pada Selasa, 29 September 2026, harga saham emiten teknologi tersebut berakhir di level Rp36 per saham, turun dari penutupan sebelumnya di Rp43 per saham.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan batas bawah harga saham menjadi Rp1 per saham. Perubahan ini membuka ruang pergerakan harga yang lebih luas, termasuk bagi saham yang sebelumnya bertahan di kisaran harga terendah.
Meski mengalami tekanan, peluang rebound saham GOTO masih terbuka. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menilai investor tidak perlu panik menghadapi penurunan tersebut. Menurutnya, pasar sedang menjalani proses pembentukan harga baru atau price discovery.
Saham GOTO Mengalami Fase Price Discovery
Abdul Azis menjelaskan bahwa penurunan harga saham GOTO mencerminkan proses pasar dalam mencari titik keseimbangan baru. Pada tahap ini, penjual dan pembeli bertemu untuk menentukan harga melalui mekanisme permintaan dan penawaran.
Perubahan batas bawah harga saham memberikan ruang bagi harga untuk bergerak lebih fleksibel. Karena itu, saham GOTO masih berpotensi mengalami fluktuasi selama pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap nilai saham tersebut.
Namun, pergerakan harga dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan kondisi fundamental perusahaan. Tekanan jual dapat muncul akibat sentimen pasar, sementara kinerja operasional perusahaan menunjukkan perkembangan yang berbeda.
Azis menilai tekanan terhadap saham GOTO sebelumnya lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar. Sementara itu, sejumlah indikator kinerja perusahaan menunjukkan perbaikan yang dapat kembali menarik perhatian investor ketika tekanan jual mulai mereda.

5 Alternatif Samsung Galaxy Watch 2026, dari Pixel Watch hingga Garmin Venu
Kinerja Keuangan GOTO Menunjukkan Perbaikan
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah pencapaian laba bersih positif selama dua kuartal berturut-turut pada 2026. GOTO mencatat laba bersih sebesar Rp171 miliar pada kuartal I-2026, kemudian meningkat menjadi Rp252 miliar pada kuartal II-2026.
Selain itu, pendapatan bersih perusahaan juga menunjukkan pertumbuhan. Pada kuartal II-2026, GOTO membukukan pendapatan bersih Rp5,7 triliun, meningkat 31% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan bisnis perusahaan di tengah tekanan harga saham. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati keberlanjutan pertumbuhan pendapatan dan kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas pada periode berikutnya.
Di sisi lain, EBITDA yang disesuaikan atau adjusted EBITDA GOTO telah menembus Rp1 triliun. Indikator ini menjadi salah satu ukuran yang dapat membantu investor memahami perkembangan kinerja operasional perusahaan.
Manajemen GOTO juga menetapkan target adjusted EBITDA sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun untuk tahun buku 2026. Pencapaian target tersebut akan menjadi salah satu perhatian pasar dalam menilai perkembangan bisnis perusahaan hingga akhir tahun.
Peluang Buyback Saham GOTO hingga Rp3,5 Triliun
Selain perbaikan kinerja keuangan, peluang pembelian kembali saham atau buyback juga menjadi faktor yang menarik perhatian investor. GoTo memiliki ruang untuk melakukan buyback dengan anggaran maksimal Rp3,5 triliun.
Menurut Azis, level harga saham saat ini dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan untuk menjalankan aksi korporasi tersebut. Harga yang mengalami penurunan dapat membuka peluang bagi perusahaan untuk membeli kembali sahamnya, terutama ketika manajemen menilai valuasi pasar tidak mencerminkan perkembangan fundamental.
Namun, peluang tersebut belum menjamin bahwa GoTo akan segera melaksanakan buyback. Azis menegaskan bahwa keputusan pembelian kembali saham tetap bergantung pada pertimbangan manajemen dan kondisi pasar.
Karena itu, investor perlu membedakan antara kapasitas buyback yang tersedia dan realisasi program tersebut. Anggaran maksimal Rp3,5 triliun menunjukkan ruang yang dimiliki perusahaan, bukan kepastian bahwa seluruh dana akan digunakan.
Jika manajemen merealisasikan buyback, langkah tersebut dapat memengaruhi dinamika permintaan saham di pasar. Meski begitu, dampaknya terhadap harga saham tetap bergantung pada besaran pembelian, waktu pelaksanaan, kondisi perdagangan, serta respons investor.
Rencana Pembatalan 32 Miliar Saham Treasuri
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah rencana pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri milik GoTo. Manajemen berencana meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026.
Saham treasuri merupakan saham yang sebelumnya beredar, kemudian dibeli kembali oleh perusahaan. Jika rencana pembatalan memperoleh persetujuan dan terlaksana, saham tersebut tidak akan kembali dilepas ke pasar.
Langkah tersebut berpotensi mengurangi jumlah saham beredar GOTO. Oleh karena itu, rencana ini dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor ketika menilai struktur permodalan dan potensi pergerakan saham perusahaan.
Azis menilai pembatalan saham treasuri berpotensi menjadi katalis positif bagi GOTO. Penilaian tersebut berkaitan dengan perbaikan fundamental perusahaan dan target adjusted EBITDA tahunan yang masih menjadi perhatian pasar.
Meski demikian, investor tetap perlu menunggu hasil RUPSLB dan perkembangan pelaksanaan rencana tersebut. Sebelum pemegang saham memberikan persetujuan, pembatalan saham treasuri belum dapat dianggap sebagai aksi korporasi yang sudah terlaksana.
Hal yang Perlu Dicermati Investor Saham GOTO
Peluang rebound saham GOTO bergantung pada sejumlah faktor yang perlu investor cermati secara bersamaan. Perbaikan laba dan pendapatan dapat mendukung perhatian pasar, tetapi pergerakan harga juga dipengaruhi sentimen dan keseimbangan permintaan serta penawaran.
Selain itu, investor dapat memperhatikan beberapa perkembangan penting berikut:
- Pergerakan harga saham: mencermati perubahan harga setelah GOTO turun ke Rp36 per saham pada 29 September 2026.
- Kinerja keuangan: memantau kemampuan perusahaan mempertahankan laba bersih positif dan pertumbuhan pendapatan.
- Target adjusted EBITDA: memperhatikan perkembangan pencapaian target Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun pada tahun buku 2026.
- Realisasi buyback: menunggu keputusan manajemen terkait penggunaan anggaran maksimal Rp3,5 triliun.
- RUPSLB 14 Oktober 2026: mencermati keputusan pemegang saham mengenai rencana pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri.
Setiap faktor tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap prospek perusahaan. Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan harga saham yang sudah turun untuk memperkirakan potensi kenaikan berikutnya.
Harga yang lebih rendah tidak otomatis berarti saham menjadi murah secara fundamental. Investor tetap perlu mempertimbangkan valuasi, risiko fluktuasi, perkembangan operasional, dan ketidakpastian pelaksanaan aksi korporasi sebelum mengambil keputusan investasi.
Kesimpulan
Saham GOTO berada di bawah Rp50 per saham selama dua hari perdagangan berturut-turut dan berakhir di level Rp36 pada 29 September 2026. Meski demikian, peluang rebound masih terbuka seiring perbaikan laba bersih, pertumbuhan pendapatan, serta perkembangan EBITDA yang disesuaikan.
Ruang buyback hingga Rp3,5 triliun dan rencana pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi perhatian pasar. Namun, kedua hal tersebut masih memerlukan perkembangan dan keputusan lebih lanjut.
Dengan demikian, arah saham GOTO selanjutnya akan bergantung pada interaksi antara kondisi fundamental, sentimen pasar, dan realisasi rencana perusahaan. Investor perlu mempertimbangkan potensi keuntungan sekaligus risiko penurunan harga sebelum menentukan langkah investasi.







