jayapurnama.com – Jakarta, penggunaan BBM oktan rendah pada mobil yang seharusnya memakai bahan bakar beroktan lebih tinggi menjadi salah satu cara pemilik kendaraan menekan pengeluaran. Namun, pilihan ini dapat memengaruhi kinerja mesin dan konsumsi bahan bakar.
Kamal, pemilik Bengkel Kafka di Bogor, menjelaskan bahwa risiko utama pada mobil generasi modern adalah munculnya gejala mesin mengelitik atau knocking. Kondisi itu terjadi ketika suplai bahan bakar tidak sesuai spesifikasi yang dianjurkan.
Menurut Kamal, dampaknya bisa terasa pada tenaga dan efisiensi. Konsumsi yang seharusnya mencapai klaim pabrik 1:15 dapat menurun sehingga mobil menjadi lebih boros. Tenaga yang biasanya terasa ringan juga bisa menjadi sedikit berat.

Googlebook Resmi Diperkenalkan, Laptop Premium Baru dengan Integrasi Gemini
Dampak BBM oktan rendah pada mobil
Kamal menilai dampak tersebut masih dalam batas toleransi untuk pemakaian harian. Meski demikian, pemilik kendaraan tetap perlu memahami konsekuensinya, terutama jika mobil terus menggunakan bahan bakar dengan tingkat oktan di bawah rekomendasi pabrikan.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dan harga BBM yang meningkat, sebagian pemilik mobil memilih bahan bakar lebih murah. Selisih harga BBM subsidi dan non-subsidi, menurut Kamal, bisa mencapai sekitar Rp 5.000 per liter. Pertimbangan biaya itu membuat sebagian pengendara mengabaikan rekomendasi bahan bakar.
Untuk mengurangi penumpukan kerak karbon tanpa langsung mengeluarkan biaya besar, Kamal menyebut pemilik kendaraan dapat mencampur penggunaan jenis BBM secara berkala. Contohnya, dalam satu bulan, setidaknya satu kali tangki diisi penuh atau setengah tangki dengan bahan bakar beroktan tinggi.
Italian tune up dan penggunaan BBM berkala
Kamal juga menjelaskan cara yang ia sebut sebagai “Italian tune up”. Setelah mengisi BBM beroktan tinggi, pengendara dapat menggeber atau menggas mobil saat berada di jalan tol. Menurutnya, cara tersebut dapat membantu membersihkan ruang bakar mesin bagi pemilik yang belum ingin melakukan tune up.
Ia membedakan langkah tersebut dari servis biasa. Menurut Kamal, servis rutin biasa tidak berpengaruh langsung terhadap urusan BBM. Untuk pembersihan ruang bakar, ia menyebut carbon cleaning sebagai salah satu pilihan perawatan.
Jadwal perawatan ruang bakar dan filter bensin
Jika memiliki anggaran lebih, pemilik kendaraan dapat melakukan perawatan di bengkel. Kamal menyarankan pembersihan throttle body dan carbon cleaning setiap 5.000 atau 10.000 kilometer. Selanjutnya, pembersihan filter bensin dapat dilakukan saat jarak tempuh mencapai 40.000 kilometer.
Proses pembersihan filter dilakukan dengan membuka dan membersihkannya. Langkah ini ditujukan untuk menjaga aliran bahan bakar tetap lancar, tekanan konsisten, serta semprotan nozzle injektor tetap presisi. Ketiga hal tersebut berperan dalam menjaga efisiensi konsumsi BBM.
Penggunaan BBM lebih murah dapat membantu menekan pengeluaran harian, tetapi pemilik mobil perlu mempertimbangkan dampaknya pada mesin. Pilihan perawatan yang dijelaskan Kamal mencakup penggunaan BBM beroktan tinggi secara berkala, Italian tune up, serta pembersihan komponen suplai bahan bakar sesuai jarak tempuh.
Dengan memahami risiko dan jadwal perawatan, pemilik kendaraan dapat mengambil keputusan yang lebih terukur. Jika memilih bahan bakar di bawah rekomendasi pabrikan, kondisi mesin dan kebutuhan perawatan tetap perlu diperhatikan agar kinerja kendaraan tidak diabaikan.







